Follow:
Books

Terinspirasi dari Kisah 1001 Malam, The Wrath & The Dawn

Sekilas membaca sinopsisnya membuat saya teringat dengan shoujo manga berjudul Zettai Heiwa Daisakusen dan Ookami Heika no Hanayome.  Jadi andai novel ini dibuat versi manga-nya cocok banget deh masuk majalah komik Hana to Yome atau Lala DX!

Alasan kenapa saya menyamakan dengan dua komik tersebut, karena sama-sama memiliki persamaan yaitu:

  1. Tema tentang  pernikahan politik
  2. Ada rumor tidak sedap mengenai si suami yang merupakan bangsawan atau raja
  3. Kisah cinta tarik ulur yang khas shoujo, dan bikin doki doki pembaca <3

 

Saya sendiri sempat sangsi awalnya saat melihat novel ini di toko buku, terutama karena penulis memilih untuk mengkreasikan kembali kisah yang sudah ada menjadi kisah yang dia bumbui sendiri.  “Memangnya kenapa sih, perlu ada remake segala?” pikir saya skeptis.  Tapi setelah baca, saya harus akui saya sempat memberi bintang 5, tapi turun jadi 4 karena ending-nya bikin saya pengen guling-guling.

Pembukaannya lugas, langsung menuju inti cerita dimana Khalid, penguasa atau Khalif Khorasan memiliki kebiasaan selalu membunuh istrinya setiap kali fajar tiba. Bagian prolog bisa dibilang “mengisahkan” hal yang mungkin tidak akan kita baca di kisah 1001 malam, karena ini adalah bumbu yang disiapkan oleh Renee. Di kisah aslinya sendiri, konon si raja membenci perempuan karena pernah dikhianati istri pertama.  Inilah yang menyebabkan raja akan membunuh setiap istri yang dinikahinya setelah melewati malam pertama. Tapi saya tidak akan membandingkan antara kisah aslinya dengan versi Renee; terutama karena versi ini ternyata sama menariknya dengan yang asli.

Shahrzad (atau Shazi) diceritakan sebagai tokoh wanita tangguh, karena dialah yang mengajukan diri untuk melamar raja muda ini.  Tujuan awalnya untuk membalas dendam, karena sebelumnya sahabat Shazi, Shiva, mati di tangan Khalid sebagai salah satu dari perempuan yang dia korbankan. Shazi berhasil lolos dua kali dari hukuman, dan membuatnya menjadi perempuan pertama yang berhasil selamat dari tangan besi Khalid.  Namun keinginan membunuh raja sempat terhalang karena dia mencurigai dayangnya, Despina, yang terang-terangan mengatakan dia adalah mata-mata raja; waspada pada Vikram yang merupakan ahli pedang nomor 1 sekaligus pengawal pribadi Shazi; dan dan skeptis dengan Jalal, komandan pasukan yang juga masih sepupu Khalid.

Baca Juga:  Critical Eleven Karya Ika Natassa: Titik Kritis Sebuah Pernikahan

Di belahan kota lain, Shazi mengirimkan surat juga menitipkan ayah dan adiknya pada keluarga Thariq, cinta pertama Shazi.  Saat Thariq mengetahui kabar bahwa Shazi sengaja tinggal di istana, dia nekat pergi untuk membawanya kembali.  Ditemani Rahim, dia sengaja mengunjungi Reza al Latief yang merupakan ayah Shiva di kota Rey.  Mereka berniat menyusun rencana balas dendam terhadap istana.

Mulai dari awal sampai pertengahan cerita, saya sudah bisa menebak alur kisahnya yang benar-benar khas shoujo manga, yaitu ketika Shazi mulai menyadari bahwa dia salah paham selama ini terhadap Khalid, dan bagaimana dia masih belum menyadari perasaannya hingga dia mulai bertanya-tanya “Kenapa kau tidak menyentuhku?” , XD, LOL. Mungkin untuk penikmat komik yang jarang baca bakal merasa bahwa kata-kata di novel ini mengalir, karena Renee tidak membuat adegan atau perkataan di buku ini sia-sia alias cuma buang-buang kertas.  Tapi di satu sisi saya merasa dia bercerita dengan gaya cepat, karena kadang saya harus membaca lagi halaman sebelumnya untuk bisa mengerti halaman selanjutnya.

Penokohannya sangat kuat, mungkin karena faktor dia hanya tinggal menggunakan tokoh yang ada.  Saya tidak bermaksud sinis, tapi bisa jadi faktor ini yang membantu Renee menulis dengan tokoh-tokoh tersebut.   Saya sendiri cukup bisa menggambarkan di kepala saya bagaimana masing-masing karakter tanpa perlu ada penjelasan; inilah yang saya sebut sebagai “show don’t tell” yang merupakan resep menulis novel.  Saya masih lihat beberapa novel lokal mengecewakan karena tidak menerapkan resep ini, terutama novel golongan darah dari penerbit Gr****do. Duh, bacanya sambil pengen robek novel saking bikin bosennya :’D

Konflik dikemas dengan baik, karena Shazi kemudian berperang dengan dirinya sendiri saat menyadari perasaannya. Apakah dia akan memaafkan Khalid, atau kembali pada rencana awalnya untuk membunuh?  Di satu sisi, dia kemudian bertemu kembali dengan Thariq di istana, yang membuatnya semakin gundah dengan apa yang harus dia lakukan.  Namun satu perkamen surat kemudian mengubah pendirian Shazi, dan kenyataan bahwa Shazi kini sepenuhnya mengerti alasan Khalid membunuh para wanita sempat membuat saya terharu.

Baca Juga:  [REVIEW] COSRX Hyaluronic Acid Hydra Power Essence + COSRX BHA Skin Returning A-Sol

Minus dari novel ini mungkin karena ini berlatar belakang kerajaan Islam tapi tidak menampilkan keislamannya sama sekali.  Well, wajar karena bisa jadi Renee mengambil kisah ini dari “Arabian Nights” atau versi Barat.  Dan meskipun dimasukkan sekalipun, menurut saya di zaman itu ada cukup banyak penyimpangan yang mereka lakukan, contohnya istana yang ditinggali Khalid terlalu megah padahal di ajaran Islamnya sendiri kan tidak boleh megah-megahan… #abaikan.

Plot twist-nya sangat menarik dan sempat membuat saya terkejut, karena bisa seperti yang sudah saya katakan, 90% akhir kisah ini saya sudah tahu.  Mungkin sebagian yang lain sudah tahu ada kemungkinan twist semacam ini, tapi saya pribadi menganggap ini menarik.  Awalnya saya kaget karena twist tersebut diletakkan di bab terakhir, dan bab inilah yang membuat saya sempat guling-guling.  Kok ending-nya kayak gini sih?  Rasanya buru-buru banget.  Tapi saya lega setelah tahu bahwa akan ada sekuel dari buku ini berjudul The Rose and The Dagger, yang kemungkinan besar baru terbit tahun depan karena buku ini terbit 4 Mei 2016 serentak di USA. :’D

Novel ini bisa dikategorikan sebagai young adult, meskipun adegan dewasanya tidak dieksplor terang-terangan seperti novelnya Tessa Dare terbitan Gagas Media, One Dance With Duke.  Saya sempat tertipu dengan cover versi bahasa Indonesianya yang seolah tidak berbahaya, tapi ternyata… baca aja sendiri. Tapi saya yakin, bagi penikmat shoujo pasti bakal suka setiap tutur kata yang menjelaskan peragaan adegan ciuman di novelnya Renee.  Saya berani jamin.

 

Share:
Previous Post Next Post

You may also like

2 Comments

  • Reply Gita Diani Astari

    Wah, baru kemaren sepupu aku cerita soal buku ini hahaha.

    November 2, 2016 at 2:35 pm
    • Reply Azzahra R Kamila

      Iyaa, ini lumayan bagus sih kata aku mah, versi lain dari 1001 malam. Buku ke 2 baru terbit Mei 2016, kapan ya diterjemahin, haha

      November 2, 2016 at 6:46 pm

    Leave a Reply