Books

[SPOILER] Intelegensi Embun Pagi

SPOILER ALERT.  Kecuali kepingin tahu spoiler dan untuk menentukan apakah review saya benar atau tidak, silakan meninggalkan web ini dan langsung ngacir ke toko buku.

Saya sempat terkejut melihat cukup banyak yang memberi rating 2 atau 3 di Goodreads, meskipun ada saja segelintir orang yang memberikan rating terbaik untuk buku ini. Sebagai pengamat struktur plot setiap novel yang saya beli (saya lebih suka nyebut diri saya sebagai pengamat struktur plot dibanding book blogger, karena saya juga suka menulis novel)  saya amat sangat kecewa karena keseluruhan ceritanya tumplek begitu saja dalam satu buku, dimana saya yakin eksekusinya masih bisa dibuat dalam satu atau dua buku lagi.  Saya pribadi tidak keberatan jika akhir kisahnya tidak berakhir di Intelegensi Embun Pagi (IEP).  Karena buku terakhir ini merusak awang awang imajinasi saya tentang Supernova.

Tentunya saya terkesan sombong dan tidak menghargai Dee sebagai penulis Supernova; tidak sepenuhnya benar.  Saya termasuk yang terlambat mengikuti serial Supernova, tapi saya cepat akrab dengan nuansanya yang ngejelimet dan langsung meneruskan semua kisahnya hingga Gelombang.  Saya, seperti sebagian besar pembaca yang lain sempat menganggap bahwa di cerita selanjutnya akan seperti Power Ranger, dimana Infiltran adalah Zordon, Peretas adalah Power Ranger dengan beragam warna, dan Savara adalah monster monster yang berusaha ditaklukan oleh Power Ranger. Hanya saja kemasannya dibuat tidak memakai kostum warna warni, dan ada berbagai penjelasan terkait kenapa masing masing orang memiliki kekuatan tersebut.

Tentu tidak mudah menuntaskan kisah dalam buku setebal itu, walaupun saya dengan mudah melahapnya hanya dalam waktu belasan jam. Jadi saya salut di satu sisi dengan keteguhan Dee menyelesaikan semuanya -dimana saya sendiri tidak sanggup karena tidak konsisten- hanya saja saya merasa Dee terburu-buru ingin menceritakan semuanya dalam satu kisah.  Kelima buku pertama dibuat sebagai pengantar sebelum menuju saga yang sebenarnya; saga yang terlalu banyak memuat informasi tidak penting.  Kenapa tidak penting?  Karena saya merasa spoiler-spoiler tersebut SEHARUSNYA ada yang diceritakan di beberapa buku pertama.

Contohnya adalah informasi bahwa terdapat Peretas lain selain kelima tokoh utama, yaitu tambahan seperti Murai, Foniks, Kunci, Gerbang, dan Bulan.  What the hell, kenapa sih tiba-tiba ada tambahan sana sini yang bahkan tidak benar-benar berfungsi sebagai sesuatu yang merangkai semuanya?  Okelah, saya tahu bahwa gugus mereka sudah musnah karena suatu hal di masa lalu, hanya saja ini seharusnya dikisahkan di beberapa buku sebelumnya sehingga ketika pembaca membaca IEP, mereka tidak akan terkaget kaget dengan informasi tambahan yang sekedar tempelan ini. Saya tidak melihat apa manfaatnya ada Foniks dan Bulan karena mereka tidak berperan banyak.  Murai mungkin bisa dibilang masih memiliki hubungan dengan gugus Asko milik kelima tokoh utama, hanya saja tidak ada kisah yang tampak menyatukan semuanya.

Pun dengan Peretas Putri, Kesatria dan Bintang Jatuh, apa sih sebetulnya yang membuat mereka terputus?  Akan jauh lebih logis ketika ada pesan pengantar yang membuat Putri dan Kesatria tidak lagi menjadi bagian rencana Para Peretas.  Dan walaupun memang ada, saya rasa tidak adil bagi Putri dan Kesatria tidak mengambil andil, bukankah nama mereka dijadikan judul utama juga? Lalu kenapa pula Bintang Jatuh seolah menjadi karakter tidak penting, padahal Diva-lah yang membawa semuanya berkumpul karena dia bisa melihat jauh ke depan akan seperti apa “suatu akhir” yang harusnya menjadi akhir buku ini?

Baca Juga:  [REVIEW] IQ84 by Murakami Haruki, A Bizarre Parallel World

Saya sempat menyukai karakter Bodhi, dan serial Supernova favorit saya adalah Akar.  Tapi disini saya dibikin kecewa karena Bodhi dibuat menjadi tokoh pengecut yang selalu ragu melangkah.  Dia dan Alfa kemudian berubah menjadi duo yang (maaf) dumb and dumber karena masalah “lucu-lucuan” yang dikemukakan selalu seputar Ishtar, dimana Alfa mendadak cemburu setiap kali tahu hal baru tentang apa yang pernah terjadi antara Bodhi dan Ishtar. Rrr, okelah, ternyata Alfa dan Ishtar adalah kekasih di masa lalu sebelum Negara Api menyerang, tapi terus?  Pentingkah untuk dibahas? Terutama fakta bahwa Alfa dan Ishtar adalah satu kesatuan pun rasanya sangat dipaksakan, karena lagi-lagi, ini hanyalah informasi tempelan yang seharusnya diceritakan sejak awal.  Kalau memang ingin dijadikan kisah menye seperti itu.

Saya masih bisa mentolerir kenyataan bahwa sejak awal ini menghubungkan bangsa Nisnas dengan Supernova, seperti yang pernah diramalkan oleh Calvin.  Dee berusaha menghubungkan kenyataan adanya campur tangan alien di bumi seperti dalam buku Partikel.  Sehingga ketika Alfa diketahui sebagai reinkarnasi dari salah satu dewa tertinggi Sumeria, rasanya tidak aneh karena Dee juga memasukkan konsep Buddha yang memang mempercayai adanya reinkarnasi. Namun karena hanya diceritakan sekilas saja, yaitu di bagian akhir, hal tersebut menjadi kurang berkesan bagi saya.

Bicara tentang Partikel, saya menganggap Zarah sebaiknya sama sekali tidak dijadikan Peretas.  Kalaupun iya, lebih cocok jika dia terputus dan tidak menjadi bagian apapun.  Dibangkitkannya ingatan Zarah tidak membuatnya menjadi sesuatu yang berarti karena dia tidak berbuat apa-apa selain menjadi ibu dari Peretas terbaru.  Kisah Gio dan Zarah pun rasanya hanya menjadi pelarian karena Diva tiba-tiba menjadi cameo numpang lewat, dan inilah yang membuat keduanya mendadak menjadi penting.

Despite of kesinisan saya terhadap alur ceritanya, harus saya akui saya terkaget-kaget ketika tahu bahwa tokoh-tokoh sampingan yang semula saya kira tidak akan muncul lagi, mendadak memiliki peran yang menjadi penentu petualangan kelima sekawan. Inilah yang sempat membuat saya terkagum kagum di bagian awal IEP, dan berekspetasi lebih saat sudah membaca hampir setengah buku. Hanya saja sayangnya karakter-karakter ini kurang tergali dengan baik, seperti Mpret yang malah menjadi pecundang, Kell dan kawan-kawan Infiltran lainnya yang seperti tidak berguna karena mereka hanya bisa mengawasi para Peretas, lalu Sarvara baru seperti Sati yang sebetulnya masih bisa dibentuk menjadi karakter yang memiliki konflik batin, karena selama ini Sati bisa dibilang menjadi pengganti orangtua Elektra.

Baca Juga:  [REVIEW] Benton Fermentation Eye Cream

Omong omong soal Elektra, tadinya saya berharap dia mendadak jadi tokoh antagonis yang membela kepentingan Sarvara, karena dia adalah satu-satunya Peretas yang bisa dimanipulasi oleh Sarvara.  Meskipun mungkin jadi klise, Elektra versi antagonis bisa menjadi bumbu tambahan yang masuk akal dan membuat petualangan tambah seru.  Bagi yang pernah baca Sailor Moon, ingat Chibi Usa versi ini?

 

The Black Lady

Endingnya lebih mengecewakan dibanding konflik yang sempat membuat saya merasa seperti naik roller coaster. Dee sepertinya berusaha membuat open ending karena ending itu bukanlah akhir dari segalanya.  Justru menjadi awal semua rencana yang dibuat oleh Diva dan Alfa.  Namun lagi-lagi, saya merasa eksekusinya gagal.  Saya merasa bahwa Dee ingin agar ada rencana dalam rencana dalam rencana seperti taktik ninja yang pernah dikisahkan di Ninja Rantaro, yaitu ketika ninja yang sebetulnya rekan berpura-pura menjadi musuh agar bisa mengecoh musuh yang sesungguhnya.

 

Ninja Rantaro

 

Tapi taktik ninja tersebut jauh lebih berhasil membuat plot twist .  Saya sama sekali tidak sedih saat Alfa mati. Kematiannya justru terasa lucu karena saya sama sekali tidak kehilangan Alfa.  Saya sendiri memang tidak begitu simpatik dengan karakter Alfa yang digambarkan sebagai sosok ganteng cerdas tapi arogan, entahlah, mungkin karena tidak ada hal yang membuatnya manusiawi yang membuat saya tidak begitu mempedulikannya.  Walaupun harus saya akui, petualangan Alfa untuk mencari misteri insomnianya itu memang menarik.

Terlepas dari berbagai komentar di review masing-masing orang yang menganggap adanya kesenjangan dalam gaya bahasa novel 1 2 3 dan 4 5 6, saya sendiri menganggap Supernova semakin mudah dibaca.  Bahkan di antara ketiganya, justru novel ketiga yang tidak begitu serius dan lebih banyak lelucon, sehingga saya tidak begitu menanggapi adanya perubahan gaya bahasa.  Sebagai penulis, saya sendiri mengalami masa transisi, dan saat membaca tulisan lama biasanya saya suka malu sendiri.  Ini yang membuat saya merasa bahwa setiap penulis pun mengalami prosesnya seiring dengan apa yang ditulisnya. Perkara apakah hal itu baik atau tidak, itu tergantung dari setiap tulisan yang dihasilkan.

Perjalanan Supernova sendiri belum menuju akhir.  Sehingga masing-masing orang bisa berinterpretasi sendiri mengenai kelanjutan kisah setiap tokoh.  Apakah Mpret dan Elektra akhirnya benar-benar meniadakan cinta platonis di antara mereka?  Bagaimana jadinya Zarah dan Gio setelah menjadi ibu ayah? Apa yang dilakukan Bodhi setelah ini?  Apakah rencana Para Peretas sukses? Semuanya masih menyisakan hal yang berusaha Dee buat agar setiap orang bertanya, berpikir, apakah hidup ini benar-benar sesuatu yang harus diakhirkan begitu saja untuk menghentikan samsara?

 

 

 

 

 

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *