Follow:
Books

The Rose and The Dagger: Awal dari Sebuah Akhir

Saya seneng banget begitu secara impulsif main ke toko buku, nemu lanjutan dari serial ini.  Sempet ngira bahwa buku ini baru terbit tahun depan, mengingat sekuelnya baru terbit tahun ini di luar negeri.  Rupanya POP sangat tanggap terhadap penggemar serial The Wrath and The Dawn, karena September ternyata udah ada. Judulnya adalah The Rose and The Dagger, lumayan cocok dengan maksud dari cerita buku ini.  Buat yang belum pernah baca yang pertama: tulisan ini mengandung spoiler.  Tanggung sendiri risikonya kalau malah baca ini duluan 

Saya sempet agak lupa dengan ceritanya karena sudah lewat beberapa bulan saat baca yang terakhir.  Kisah ini dibuka dengan kehancuran merata di seluruh kota Rey.  Khalid, sang Khalif, berhasil selamat dari amukan badai yang tercipta akibat mantra Jahandar.  Tidak hanya merugikan penduduk Rey, Khalid terpaksa membebaskan Shazi.

Sementara itu, Shazi yang kini berada di perkemahan milik Omar al-Said rindu dengan Khalid.  Setelah mengetahui rahasia mengerikan yang menyelimuti Khalid, sulit bagi Shazi untuk membela kubu Thariq.  Saat itu, Thariq dan Reza al -Latief sedang mempersiapkan diri untuk menyerang perbatasan antara Khorasan dan Parthia.  Parthia sendiri merupakan kesultanan yang berada di bawah pemerintahan Khalid, tetapi dimiliki oleh paman Khalid.  Pamannya ini berambisi kuat untuk merebut tahta Khalid, menyebabkan serangan ini akan menciptakan kekacauan besar.  Sebagai Khalifa, Shazi dianggap “pengkhianat” oleh sebagian besar orang-orang yang membenci Khalid.  Hanya Irsa, adiknya, yang masih memihak Shazi.  Irsa sebetulnya sudah lelah menghadapi perubahan pada Shazi, terutama karena Shazi kini lebih sering menyimpan rahasia tanpa mau membaginya. Dihimpit situasi peperangan semacam ini, Shazi harus bertindak cermat agar orang-orang yang disayanginya tidak melakukan pertumpahan darah.

Baca Juga:  [REVIEW] Sirkus Pohon, Karya Terbaru Pak Cik Andrea Hirata

Petualangan Shazi yang berusaha untuk mencari jalan  yang menjadi fokus utama cerita.  Saya bisa membayangkan tekanan batin yang harus ditanggung, karena apa yang diketahuinya ini bisa menimbulkan masalah besar.  Terutama pada saat itu, Thariq, mencintai Shazi.  Sehingga sulit bagi Thariq untuk bersikap objektif.  Meskipun Irsa baik, sangat mungkin dia akan menceritakan hal tersebut pada Rahim, yang notebene adalah sahabat baik Thariq.  Untuk itu, Shazi hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

Hal yang sebetulnya agak mengecewakan adalah fakta bahwa Shazi ternyata masih level pemula dalam penggunaan sihir.  Tanpa nyari tahu kapan serial ini tamat (saya prefer gitu sih biar jadi kejutan aja), saya sempat mengira kalau buku ini akan dibuat trilogi.  Nyatanya sih cuma dua novel. Sempat disebutkan bahwa Shazi bakal gampang “dihabisi” oleh bibinya Artan, guru ilmu sihirnya jika belum bisa menguasai sihir dengan benar.  Saya kira bakal ada peningkatan kekuatan gitu , setelah kuat baru deh bisa ketemu si bibi. Antara saya kebanyakan baca manga atau gimana, rasanya perjuangan Shazi datar.  Hampir mulus sampai akhir.  Bahkan saat merebut kitab dari tangan Jahandar untuk menghancurkan kutukan Khalid, menghapus kutukan keluarga Artan, dan mencegah Jahandar berbuat di luar batas, beneran nggak begitu kena momennya… emang ini coffee mix ya, 3 in 1? Di setiap shounen manga yang saya baca, hal klise yang pasti ada adalah bagaimana si protagonis berjuang untuk bisa mendapatkan sesuatu.  Ini juga sebetulnya daya tarik manga, karena memperlihatkan sisi humanis dari cara manusia memperoleh sesuatu.  Tapi, yah, yowes, ini kan buat cerita saya sih 

Baca Juga:  Edogawa Rampo, Japan's Answer to Edgar Allan Poe

Selain itu, fakta bahwa Shazi hamil rasanya tidak begitu di-highlight.  Saya belum pernah hamil, tapi dengan berbagai hal yang dialami Shazi, rasanya aneh kalau dia belum keguguran.  Atau diceritakan mengalami gangguan yang biasa melanda orang hamil. Selain hampir dibunuh oleh orang yang mencintai Shiva (lupa namanya), dia juga harus bersusah payah belajar sihir dengan Artan, belum lagi saat dia dipenjara di Parthia, dikawal oleh orang-orang yang memperlakukan tubuh Shazi seenaknya.  Maksudnya, yakin tuh janin nggak kenapa-kenapa?  Walaupun setelahnya Haroun lahir dengan selamat (ya, nama anaknya Haroun al Rashid, terlalu kalau sampai nggak ada yang tahu siapa dia!) rasanya… hmm.

Cerita ini lebih menekankan pada quest kali ya, jadi hal-hal sepele seperti muntah karena morning sick rada diabaikan.  Atau sayanya aja terlalu kritis terhadap detail 

Selain itu ketika hampir memasuki ending, ada bagian yang terlalu dipaksakan.  Saya pikir pengorbanan Jahandar untuk “menghidupkan” kembali Khalid agak… gimana ya.  Rasanya kayak naik jalan nanjak, lalu turun, lalu nanjak lagi.  Setelah itu turunnya cepat, cenderung mudun.  Untuk bagian epilog nggak masalah sih, karena saya tahu pasti happy ending 

Overall saya lebih suka buku pertamanya, meskipun buku kedua juga nggak terlalu mengecewakan.  Karena nggak ada bintang 3,75, saya bulatkan aja jadi 4.  Tapi worth it banget buat yang suka fangirling!

Share:
Previous Post Next Post

You may also like

No Comments

Leave a Reply