review sirkus pohon
Books

[REVIEW] Sirkus Pohon, Karya Terbaru Pak Cik Andrea Hirata

Saya termasuk salah seorang yang selalu menanti karya terbaru Andrea Hirata.  Bukan apa-apa, gaya berceritanya yang asyik, dalam untuk bisa direnungi, tapi sekaligus ringan karena bisa membuat kita tertawa di setiap bab; buat saya itu luar biasa.  Tidak banyak penulis yang bisa melakukan semuanya sekaligus.  Jadi, saya berharap dong, buku ini juga bisa memenuhi ekspetasi?

Masih bercerita tentang Belitung atau Belitong, Andrea Hirata membuat kisah paralel yang tidak terkait dengan kehidupan Ikal.  Agak kurang jelas sebetulnya kapan tepatnya setting waktu di cerita ini, tapi jika menganalisis dari perkataannya terkait keberadaan sirkus di Indonesia, maka ada kemungkinan sekitar tahun 90’an hingga awal 2000.  Benar nggak sih?

Ada dua kisah yang semula seperti tidak ada kaitannya, yaitu tentang kisah cinta Tara dan Tegar, dan balada kehidupan Sobridin (Sob) atau Hob, pengangguran tamatan kelas 2 SMP yang kemudian bekerja sebagai badut dari sirkus keliling. Namun seiring berjalannya cerita, simpul merah yang mengikat kedua cerita ini akan semakin terlihat jelas.

Adalah Sob, atau Hob, yang berkali-kali kena tipu Taripol, teman sejawatnya yang kini dikenal sebagai pencuri.  Alasan Sob tidak bisa meneruskan sekolah pun karena terlibat aksi Taripol yang, kalau menurut saya, sepertinya mengidap kleptomania.  Ia punya dua abang sudah sudah cukup sukses berkarir, dan seorang adik perempuan bernama Azizah yang telah menikah dan memberinya dua keponakan.  Sehari-hari, ia tinggal bersama dengan keluarga adiknya dan Ayah.

Azizah sendiri dikenal sebagai wanita dominan di rumahnya.  Azizah sempat mengusir abangnya dari rumah karena tidak memiliki pekerjaan.  Setelah luntang-lantung mencoba mencari pekerjaan terhormat, yang menurutnya itu harus pakai seragam, bekerja tetap, punya jam kerja, punya tas kerja, dan ada pulpen di saku, akhirnya Sob bertemu dengan seorang ibu yang memberinya pekerjaan sebagai badut.  Ini memberinya secercah harapan karena Sob berpacaran dengan Dinda, dan berharap bisa membeli sepetak tanah dan membangun rumah untuk mereka tempati setelah menikah.  Namun tak disangka, tepat ketika Sob bersiap untuk melamar Dinda, perempuan itu menghilang.

Baca Juga:  [SPOILER] Intelegensi Embun Pagi

Tara adalah anak perempuan dari ibu pemilik sirkus keliling.  Dahulu, Tara pernah ikut ibunya ke Pengadilan Agama, mendaftarkan diri untuk perceraian dengan si ayah.  Ayah Tara hobi berjudi, dan ketika utang semakin menumpuk, dia kabur ke Jakarta dan tidak ketahuan rimbanya.

Ternyata, banyak sekali perempuan yang sedang mengantre untuk mengikuti sidang perceraian yang sesungguhnya hanya memakan waktu 5 menit.  Bosan menunggu, Tara memutuskan untuk bermain perosotan.  Area bermain ini sudah dikuasai tiga anak lelaki, sehingga ia tidak pernah dapat kesempatan.  Melihat itu, Tegar menghampiri Tara dan mencoba menolongnya agar bisa dapat kesempatan mencoba perosotan.  Walau Tegar kalah bersaing, Tara tetap mengucapkan terima kasih lewat senyum manisnya, yang tidak dapat dilupakan Tegar bertahun-tahun kemudian.  Sejak saat itu, baik Tara maupun Tegar selalu berupaya mencari satu sama lain karena kerinduan yang membuncah di dada-dada mereka.

***

Apakah ending-nya bahagia?

Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab, karena malah jadi spoiler, hehe.  Tapi secara jujur saya akan mengatakan, kisahnya kurang greget dibanding dwilogi Padang Bulan dan Ayah.

Buat saya sendiri, tipe kedua kisah ini sangat mudah ditebak.  Namun bukan berarti saya jadi antipati dengan Sirkus Pohon.  Kepiawaian Andrea dalam menulis dengan gaya storytelling menyihir saya untuk terus menerus membuka halaman demi halaman, sampai akhirnya dalam sehari saya berhasil menamatkan kisahnya.

Tipe kedua kisah ini mengalir bak dongeng, jadi ini juga sebetulnya yang jadi kekurangan dari novelnya.  Meski unsur realitasnya tetap terasa nyata, dengan memasukkan unsur politik terkait pemilihan kepala desa,  ada banyak yang bagi saya too good too be true.  Misalkan, Tara akhirnya berhasil bertemu Tegar, meski nyatanya mereka berpisah lagi dalam kesalahpahaman, dan kebutuhan Tegar untuk merantau demi menafkahi ibu dan adik-adiknya. Lalu Sob yang masih cinta mati  dan selalu mengunjungi Dinda setiap kali ada kesempatan,  meski Dinda tidak lagi mengenali calon suaminya.

Baca Juga:  Edogawa Rampo, Japan's Answer to Edgar Allan Poe

Setelah saya telaah lagi, memang hampir semua buku yang dibuat oleh Andrea Hirata memiliki unsur kisah perjuangan yang memang berbuah jadi kenyataan.  Inilah daya tarik magis yang membuat pembaca setianya selalu menunggu karya-karya Andrea Hirata. Saya sendiri, ketika membaca beragam kisah yang disajikan, seolah sedang disajikan tudung yang ketika saya buka akan terdapat “harapan.”

Bukankah itu yang sesungguhnya diidam-idamkan oleh kita di dunia nyata?

Sifat lugu orang pedalaman Belitong yang kembali dihadirkan di sini disajikan secara pas, membuat saya tidak bisa berhenti tertawa; bukan karena menertawakan, tapi keluguan itu mengajari kita banyak hal.  Ini juga memberikan kita gambaran bagaimana sesungguhnya kehidupan di sana hingga saat ini.

Contohnya adalah cerita mistis di balik  pohon delima  milik Sob yang konon katanya bisa membantu siapapun  menjadi kepala desa selanjutnya. Sob sendiri membenci pohon delima dan ingin berkelahi dengan pohon, lantaran ia menganggap penyebab Dinda hilang dan tidak lagi kenal dengannya setelah kebanyakan makan buah delima yang Sob berikan hampir setiap hari.

Namun ada satu hal yang membuat saya cukup terkejut.  Plot twist yang disajikan tidak terduga.  Setiap karakter tiba-tiba berkomplot untuk memberikan ending tak terduga.  Keterkaitan antara Gastori, rentenir yang menggunakan segala cara untuk menjadi kepala desa, dengan bubarnya sirkus keliling akibat utang yang tak bisa dibayar oleh ibu Tara pada Gastori adalah kuncinya.  Semua bisa terjadi karena pohon delima memainkan peran penting.

Hmm?  Maksudnya apa?

Itu  petunjuk untuk memecahkan ending, hehe (ketahuan kebanyakan baca Detective Conan -XD).

Akhir kata, ini adalah buku yang bagus, tapi levelnya masih ada di bawah dwilogi Padang Bulan, menurut saya. Semoga Pak Cik bisa terus menghasilkan cerita-cerita baru terkait Belitong!

Loading...

4 thoughts on “[REVIEW] Sirkus Pohon, Karya Terbaru Pak Cik Andrea Hirata”

  1. Hai Mia dah lama ga main ke sini. Saya malah baru tahu Andrea Hirata ngeluarin buku baru dari list nominasi Anugrah Pembaca 2017 di goodreads. Lagi nyari reviewnya, ternyata lumayan menarik ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *