origin dan brown
Books

Origin oleh Dan Brown, Robert Langdon Kembali Beraksi!

Satu hal prestasi membanggakan saat membaca buku ini bukanlah menamatkannya dalam beberapa jam.  Saya berhasil menebak siapa itu Winston dan juga pembunuhnya di awal cerita 😀  .

Bukan, ini bukan spoiler. Saya nggak ada maksud nulis spoiler.  Tapi kalau kamu termasuk salah seorang yang selalu membeli bukunya Dan Brown, tidak begitu sulit untuk memprediksi apa yang sebenarnya sedang terjadi di plot cerita.

Satu ciri khas Dan Brown yang masih melekat dalam penulisan bukunya, adalah kebiasaannya untuk mengarahkan pembaca ke jalan yang “sesat.”  Ini cuma sekedar hipotesis saya sih, karena rasanya memang begitu, haha. Setiap akhir babnya selalu memukau kita karena cliffhanger yang disajikan membuat kita ingin mengeksplorasi lebih lanjut; apa sebetulnya maksud Origin?

Selain prolognya yang penuh keambiguan, judulnya yang pendek cukup membuat saya penasaran.  Didukung dengan blurb yang seolah sedang menantang agama, maka saya sukses dibuat bertanya-tanya:  akan dibawa ke mana cerita ini?  Seperti yang kita tahu bersama, novel The Da Vinci Code-nya mengundang kontroversi dari berbagai pihak.  Ini juga sebetulnya marketing yang secara “tidak sengaja” dilakukan oleh pihak kontra, membuat nama Dan Brown harum dan bukunya laris bak kacang goreng.

Ok, enough for the introduction. 

Inti dari kisah ini sebetulnya masih terkait dengan agama.  Di sini pembicaraan terkait keagamaan lagi-lagi dikuasai oleh Katolik Roma.  Meski demikian, sempat diselipkan sedikit keterangan bahwa kabar yang dibawa oleh Edmond Kirsch akan merusak fondasi keimanan umat beragama Katolik, tetapi juga Yahudi dan Islam.

Makin kepo sama isinya, kan, ya?

Pemahaman Dan Brown terkait agama Katolik mungkin agak lebih di atas pemahamannya sendiri terkait Yahudi dan Islam; dia sendiri dulu dibesarkan di lingkungan Episcopal.  Episcopal merupakan bagian dari Anglican Communion.  Ini juga seperti yang membawa dia lebih cenderung menokohkan Kirsch sebagai yang menyudutkan agama yang dulu dipeluk dengan taat oleh almarhumah ibunya.  Kebencian Kirsch adalah permulaan pada perjalanannya mencari jawaban yang mempertanyakan dua hal:

Dari mana asal kita? 

Ke mana kita akan pergi?

Perjalanan ini tentunya melibatkan aktor utama, yaitu Robert Langdon.  Kirsch dahulu merupakan mahasiswa yang pernah mengikuti kelas yang dibawakan oleh profesor simbologi keagamaan; dan meski ateis garis keras, hubungan Kirsch dan Langdon terjalin sangat baik bertahun-tahun.  Ini juga yang membuat Kirsch sengaja menemui Langdon pada suatu siang dua tahun lalu.  Ternyata pembicaraan mereka kala itu adalah motor penggerak bagi Kirsch menemukan sesuatu yang sangat fenomenal.

Baca Juga:  Animal Farm: Bukan Peternakan Binatang Biasa

Sayangnya, sebelum pidato dan penemuannya berhasil diungkapkan ke seluruh dunia, Kirsch dibunuh oleh seorang laksamana angkatan laut, Luis Avila.  Sang Regent menjanjikannya pembalasan dendam dengan memintanya membunuh Kirsch.

Peristiwa ini tidak hanya mengejutkan Langdon, tetapi juga Ambra Vidal, yang dikenal sebagai tunangan Pangeran Julian, putra mahkota Kerajaan Spanyol, adalah direktur museum tersebut.  Upaya Vidal membantu Kirsch menjadi tuan rumah,  karena sebetulnya Kirsch adalah penyumbang terbesar untuk museum itu.  Kirsch dikenal sebagai ilmuwan komputer nyentrik, kontroversial, dan sangat menyukai seni (entah kenapa mendadak inget Steve Jobs, lol).  Alasannya mengadakan pertemuan malam itu di museum pun karena dia ingin memadukan teknologi dan seni modern memukau yang menjadi bagian dari pengungkapan penemuannya.

Upaya pengejaran yang dilakukan Langdon terhadap kebenaran, seperti biasa, selalu ditemani oleh wanita cantik.  Dibantu oleh Winston, pemandu museum yang dikenal Langdon dari komunikasi mereka via headset, Langdon dan Vidal bersama-sama mencari cara agar penemuan Kirsch tidak terkubur selamanya.  Sementara itu, bahaya mengancam karena Istana Kerajaan Spanyol mengumumkan bahwa Langdon telah menculik calon istri putra mahkota, dan ia pun dibayangi oleh mantan angkatan laut yang mengincar nyawanya.

***

origin-dan-brown

Saya agak kecewa dengan buku Origin. Kebiasaan Dan Brown yang menyebalkan, sekaligus informatif, sebetulnya agak mengganggu proses saya membaca buku.  Di sini, keterangan terkait berbagai jenis seni, bangunan, puisi, dan lain sebagainya dijelaskan dengan sangat gamblang oleh Brown.  Perlu diacungi jempol sebetulnya, karena riset yang dilakukan pasti tidak main-main, sih. Ia berhasil memadukan teknologi, seni, sejarah, dan simbologi menjadi pengetahuan yang tidak menjemukan dan mudah dipahami bagi yang membaca. Malah kalau tidak salah, Brown sempat sengaja jalan-jalan ke Italia untuk bisa menggambarkan kondisi nyata setiap bangunan yang ada di novel Inferno.

Masalahnya, pengungkapan informasi ini lebih seperti tempelan alih-alih mendukung cerita (walaupun ada sebagian juga yang memang dipakai untuk mengungkap rahasia Kirsch).

Dan plotnya pun sudah sangat usang; Langdon selalu menjadi hero.  Selalu dibantu asisten cantik yang juga tidak kalah smart. Ya ya ya, dia profesor dan lain sebagainya, tapi please, selalu  saja modenya begini, saya bosan lama-lama.  Walaupun di satu sisi, ini juga daya tarik setiap tulisan Dan Brown.  Kayaknya nggak seru kalau Langdon nggak dituduh penculik atau pembunuh dan nggak dikejar-kejar, haha.

Baca Juga:  [REVIEW] Benton Fermentation Eye Cream

Di satu sisi, pembahasan yang katanya “wow” dan merusak iman, sayangnya, tidak diperlihatkan pada pembaca.  Hanya Uskup Valdespino, Rabi Yehuda Koves, dan Syed Al Fadl yang tahu kebenaran hakikinya. Wuih, jadi spoiler, hehe.  Yap, karena pertanyaan “Ke mana kita akan pergi?” sebetulnya bisa memiliki dua kemungkinan: masa depan yang pendek, atau masa depan yang jauh. Yang diperlihatkan kepada kita di akhir kisah lebih ke penelitian ilmiah terkait sup primordial dan masa depan yang pendek.

Jadi kalau berdasarkan dari sini, kesimpulannya adalah: antara Dan Brown tidak tahu mau menulis apa yang bisa merusak iman, atau dia memang menemukan sesuatu tapi perlu diulik lagi.  Atau, dia memang sengaja menyisakan misteri agar kita semua bertanya-tanya.

Ada satu pernyataan Kirsch yang menarik ketika sudah memasuki bagian 3/4 buku.  Tepatnya di halaman 444:

Aku yakin kehidupan tidak hanya mematuhi hukum fisika, tetapi ia juga tercipta karena hukum tersebut.

Pertanyaan lanjutan yang bisa jadi renungan kita semua:

Jika memang kehidupan terbentuk karena hukum fisika dan mematuhinya, siapakah yang menciptakan hukum fisika berikut keteraturan di dalamnya? 

Satu hal lagi yang agak mengejutkan, kehidupan gereja sesungguhnya tidak semulus yang terlihat.  Dan Brown, lagi-lagi berani mengkritisi praktek kehidupan di dalam gereja.  Ini bisa dilihat dari pernyataan Uskup Valdespino di halaman 476:

Keyakinan kami tidak menoleransi itu. Sewaktu muda, aku merasa tersiksa. Ketika aku menyadari kecenderunganku, seperti sebutan pada saat itu, aku putus asa; aku tidak yakin bagaimana harus melanjutkan hidup.  Seorang biarawati menyelamatkanku. Dia menunjukkan padaku bahwa Injil memuliakan semua jenis cinta, dengan satu peringatan – cintanya harus bersifat spiritual, bukan jasmaniah. 

Oke, saya yakin udah pada nebak maksudnya, ya, haha.

Overall, saya nggak secerdas yang saya kira.  Setidaknya, saya tidak benar-benar mengerti apa alasan Luis Vila membunuh Kirsch sampai akhirnya ke pengujung cerita. Hanya separo tebakan saja yang benar, sisanya berhasil disimpan dengan rapi oleh Dan Brown.

Buku ini sendiri memang bukan tipe yang bisa dibaca sambil santai, sih, haha.  Butuh perenungan, butuh kelapangan jiwa dan juga keterbukaan; Dan Brown tidak pernah ragu menulis sesuatu yang membuat kita berdebat. Andai dia orang Indonesia, wuih, pasti udah dihujat bangsa ini gara-gara merusak kebhinekaan dan Pancasila 😛 😛

Loading...

2 thoughts on “Origin oleh Dan Brown, Robert Langdon Kembali Beraksi!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *