Follow:
Beautilogy, Beauty, Skin Care

Mengenal Retinol, “Penyembuh Ajaib ” Milia, Antiaging, Dan Lain Lain!

Hai, semua!  Saya kangen banget sama blog ini, serius, deh, huehehe.  Makanya saya menetapkan hati untuk ngebacot “Mengenal Retinol” mengingat di IG story, saya mulai aktif cerita perjalanan saya menggunakan retinol.

Jadi, sesungguhnya ini sudah minggu ke 5 sejak saya mengenalkan retinol ke rutinitas saya.  Alasannya?  Simpel, saya merasa sudah tua dengan keberadaan fine line di sekitar mata.  Emosi rasanya setiap kali ngaca, “Duh, wajah baby face macam gini kok menua, fans aku hilang dong, lama lama :(.” #dikeplak

Banyak yang tanya sama saya terkait retinol.  Cerita di story itu lahannya sedikit, jadi sekalian saja tulis di blog cerita mengenal retinol.  Karena cukup kompleks, saya akan membaginya ke beberapa bagian, sesuai habit saya membahas sesuatu perbab.

Mengenal Retinol dan Keluarganya

Ada yang masih suka bingung mengetahui istilah retinoid, retinol, retinyl palmitate?  Tenang saja, saya termasuk  salah satunya, kok.  Makanya ketika memutuskan memasukkan antioksidan vitamin A ke rutinitas, rasanya tidak afdol kalau saya enggak kenalan dulu sama mereka.

Memangnya ada siapa saja, sih, anggota keluarga retinoid?

Derivatif Natural Vitamin ADerivatif Sintetis Vitamin A
Retinol Tazorotene
Retinyl palmitate Adapalene
Retinyl acetate
Retinaldehyde
Tretinoin
Isotretinoin
Alitretinoin

Perbedaan keduanya simpel.  Natural itu memang natural, sementara sintetis, artinya dibuat oleh manusia.  Biasanya sintetis dibuat di lab dan memiliki cara kerja yang sama dengan retinoid natural.

Untuk beberapa derivatif vitamin A yang di-italic, semuanya perlu didapatkan dengan menggunakan resep dokter. Sehingga tidak bisa sembarangan membeli di luar.

Terus mana nih, kok enggak disebut sebut apa itu retinoid?  Jadi gini, darling.  Ibarat boyband, retinoid adalah BTS.  Iya, Bangtan Boys yang itu; saya sengaja pakai perumpamaan boiben biar kekinian dan mudah dicerna. Nah, anggota keluarga retinoid adalah seperti yang sudah saya sebutkan di tabel sebelumnya.  Jadi gitulah, zheyeng, perbedaan nyata antara retinoid, retinol, dan retinyl palmitate.

Namun tentu saja cara kerja tiap bahan berbeda-beda, dan derivatif vitamin A dibagi lagi menjadi dua bagian:

  • Versi OTC (over the counter) alias bisa kita beli sendiri karena masuk kategori kosmetik;

  • Versi resep karena tidak bisa dibeli sembarangan, melainkan butuh resep dari dokter

Khusus untuk artikel ini, saya akan memperkenalkan 4 derivatif vitamin A yang masuk kategori bahan kosmetik. Tapi sebelum masuk ke sana, kamu perlu ngerti dulu gimana cara kerja keluarga retinoid ini.

Cara Kerja Retinoid Secara Genomik

Oke, saat ini kita masuk ke bagian yang cukup geek. Retinoid umum digunakan di produk kosmetik karena keefektifannya dalam mengatur pertumbuhan sel epitel dan diferensiasi.  Keluarga retinoid ini merupakan vitamin larut lemak.  Maksudnya gimana?  Golongan yang termasuk ke dalam vitamin larut lemak ini biasanya disimpan di hati, jaringan lemak, serta di bagian bagian tubuh lainnya yang mengandung lebih banyak lemak. Ketika sewaktu waktu vitamin dibutuhkan, maka cadangan diambil dari “gudang.”

                                                         

Nah, tapi itu adalah cara kerja keluarga vitamin A secara oral, baik dalam bentuk suplemen maupun makanan.  Bagaimana kalau topikal?

Keluarga retinoid mampu berdifusi melalui sel membran. Nah, sebetulnya retinoid ini ada pada kulit kita, di mana retinol dan retinyl esters terdapat dalam jumlah berlimpah. Retinol diproduksi di usus kecil dengan dua mekanisme:

  • Oksidasi provitamin A karotenoid.  Karonetoid bisa didapatkan wortel, ubi, sayur sayuran hijau seperti bayam dan kale, dll

  • Hidrolisis retinyl ester.  Retinyl ester ini biasanya didapatkan dari unsur hewani, sesuatu yang kita makan seperti susu, ikan, hati, dll

Konversi retinol ke bentuk aktif melibatkan oksidasi menjadi retinaldehyde, yang kemudian dioksidasi untuk membentuk tretinoin aktif/retinoic acid aktif.

Ada dua cara kerja bagaimana retinoid bisa memengaruhi terhadap kulit kita, yaitu:

  • Aksi genomik, yaitu menggunakan perantara melalui transaktivasi atau bisa juga dengan transresepsi.  Mediasinya biasanya melalui CRABP (celullar retinoic acid binding protein) yang berfungsi mengantarkan retinoid ke nukleus. Ada dua tipe, yaitu CRABP-1 dan CRABP-2.  Selain itu terdapat juga reseptor nuklir retinoic acid yang sudah ditemukan (RAR), yaitu: RAR-α, RAR-β, RAR-γ, dan reseptor retinoid X (RXR) yaitu: RXR-α, RXR-β, and RXR-γ

  • Aksi nongenomik, yaitu menggunakan efek biologis independen untuk mengikat reseptor nuklir.  Reseptor nuklir sendiri merupakan kelas protein yang ditemukan di dalam sel yang bertanggung jawab merasakan hormon steroid, tiroid, dan molekul lainnya

Sudah cukup pusing? Saya akan coba jelaskan versi mudahnya. 

Jadi begini, genomik sendiri sebetulnya ilmu yang mempelajari mengenai genom (gen) manusia. Nah, CRABP merupakan protein yang berfungsi mengantar retinoic acid ke nukleus. Ada dua jenis CRABP, yaitu CRABP-1 dan CRABP-2. CRABP-2 paling banyak terdapat pada epidermis kulit kita.

Baca Juga:  4 Cara Membaca Label Kosmetik, Sesuaikan dengan Kebutuhan Kulit!

Nah, memangnya retinoic acid itu dapatnya dari mana, sih? Kamu perlu tahu, bahwa ketika kita memakai produk mengandung retinol ke kulit kita, sesungguhnya retinol ini bukanlah retinoic acid.  Namun kulit kita memiliki kemampuan untuk mengonversi retinol -> retinoic acid.

           

Setelah itu, retinoic acid ini dilepas, kemudian diikat oleh RAR dan RXR sebagai homodimer dan heterodimer. Dimer sendiri merupakan istilah dalam ilmu kimia untuk dua molekul yang identik atau mirip, terikat bersama sama.  Dari sini, nantinya ia akan terikat dengan RARE (retinoic acid response elements) di DNA, untuk kemudian mengatur transkripsi gen null, dan ini semua tergantung dengan retinoic acid bawaan.

Versi lebih simpelnya, retinol ini somehow bisa “mengatur” bagaimana DNA bekerja. Baik retinol alami yang dihasilkan di dalam usus maupun versi topikal, yaitu aplikasi produk kosmetik langsung ke kulit, bisa memberikan efek tertentu bagi tubuh. 

Cara Kerja Retinoid Secara Nongenomik

Reaksi yang tidak melibatkan gen pun bisa terjadi ketika geng retinoid masuk ke dalam tubuh kita, melalui absorpsi kulit.  Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Ultraviolet Filter

Molekul retinoid memiliki sisi rantai terkonjugasi yang bisa mengabsorpsi sinar UV.  Berdasarkan studi terhadap hewan, diketahui bahwa retinoid natural lebih efektif dalam mencegah apoptosis (kematian sel terprogram)  yang disebabkan oleh sinar UVB dan photodamage DNA. Dalam percobaan yang dilakukan di penelitian Antille et. al, diketahui bahwa penggunaan topikal retinyl palmitate 2% ditambah dengan SPF 20 sebanyak 20 mg/cm2. Penggunaan retinyl palmitate ini seefisien penggunaan sunscreen SPF 20 untuk mencegah erythema yang disebabkan oleh sinar UVB dan formasi thymine dimer di DNA.

Aktivitas Antibakteri

Dibanding dengan keluarganya yang lain (dalam penelitian in vivo oleh Pechere et.al), yaitu retinol dan retinoic acid,  retinaldehyde ternyata satu satunya yang bisa menghentikan aktivitas bakteri!  Penelitian ini dilakukan dengan mengoleskan 0.05% retinaldehyde ke dahi dan lengan, dan jumlah bakteri yang terdapat di kedua bagian ini berkurang hanya dalam waktu 2 minggu.

Antioksidan

Dalam studi in vitro yang dilakukan oleh Sorg et.al terhadap tikus botak, 0.05% retinaldehyde mampu mencegah peroksidasi lemak epidermal ketikda menadione atau vitamin K3 diaplikasikan.  Namun sejauh ini sebetulnya bukti eviden klinis tentang kemanjurannya dalam memberikan efek antioksidan kurang, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

Aksi Pigmentasi

Buat kamu yang pernah ke dokter dan pengen cepat putih; nah, tretinoin bisa jadi salah satu agent yang dipersiapkan untuk digunakan di wajahmu.  Ketika tretinoin digabungkan dengan hydroquinone untuk mencegah depigmentasi di kulit, maka hasilnya adalah kulit yang lebih putih.  Penelitian yang dilakukan Yoshimura et.al hanya mengambil sedikit sampel, tidak terkontrol, tidak random, dengan menggunakan retinol 10%, hydroquinone 5%, lactic acid 7%.  Setelah diuji coba ke 18 orang pasien, dilaporkan bahwa terjadi perubahan pada 88.9% pasiennya, seperti yang di-assess oleh dua ahli bedah yang melihat foto wajah sebelum dan setelah pengobatan.

Bisakah Kita Cukup Konsumsi Makanan Saja Ketimbang Pakai Versi Topikal?

mengenal-retinol

Sekarang saya mau ngomongin soal ubi.

Ngiler?  Sama, saya juga, wkwk.

Sebetulnya saya pernah posting ini sebelumnya di IG story, jadi kalau mau baca versi singkatnya, bisa mampir ke Instagram saya.

Jadi, apa maksudnya saya ngomongin ubi?

Sebelumnya, saya sudah pernah mencontohkan bahwa provitamin A bisa kamu dapatkan dari ubi. Misalkan, dari 100 g ubi terdapat 1000 mcg provitamin A.  Berapakah sesungguhnya persentase dari provitamin A yang bisa kamu dapatkan dari sebuah ubi?

Agar bisa dibagi, maka 100 g ubi harus diubah menjadi mikrogram. Maka hasilnya adalah sebagai berikut:

Pada 100.000.000 mkg ubi terdapat 100 mkg provitamin A. Maka persentasenya adalah 0.001% provitamin A. Pada proses konversi provitamin A menjadi vitamin A1, terdapat bit yang hilang sehingga jumlahnya akan kurang dari 0.001% vitamin A1 alias retinol.

Kesimpulannya, kamu perlu menggunakan produk mengandung vitamin A, bisa oral (suplemen) atau topikal (serum, cream, dll) jika ingin mendapatkan manfaatnya.

Bisakah Mengonsumsi Vitamin A dan Menggunakan Produk Topikal Menyebabkan Kelebihan Vitamin?

mengenal-retinol

Katakanlah misal kita ingin bisa mendapatkan vitamin yang cukup dengan mengonsumsi makanan dan suplemen yang kaya akan vitamin A supaya bisa menghasilkan retinol alami… masalahnya, ada kemungkinan kamu mengalami hypervitaminosis.

Apa itu hypervitaminosis?

Hypervitaminosis adalah kondisi ketika kondisi penumpukan vitamin yang sangat berlebihan dalam tubuh yang bisa menyebabkan keracunan.

Seperti yang diketahui sebelumnya, vitamin A kan masuk kategori vitamin larut lemak. Vitamin A ditaruh di dalam “gudang” agar bisa sewaktu waktu ketika dibutuhkan, diedarkan ke anggota tubuh tertentu. Nah, ketika terjadi penumpukan vitamin A, “gudang” akan penuh.  Saat berlebih, vitamin A ini bisa menyebabkan kulit menjadi keoranye-oranyean.

Baca Juga:  Intip Rekomendasi 3 Set Kuas Makeup Halal dan Murah!

Contohnya adalah saat anak mendapatkan asupan vitamin A dari posyandu, dan juga mengonsumsi cukup banyak makanan mengandung vitamin A, warna kulit bisa berubah.  Biasanya khusus anak anak, pemberian suplemen dan obat topikal vitamin A tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan hypervitaminosis.

Apakah aplikasi secara topikal bisa menyebabkan hypervitaminosis untuk orang dewasa?  Sejauh ini saya belum pernah menemukan bukti evidennya, sehingga sampai saat ini kesimpulannya adalah hypervitaminosis bisa terjadi pada orang dewasa ketika mengonsumsi sediaan secara oral (akan saya update jika ada catatan lebih lanjut!).

Bukti Eviden Klinis Produk Antiaging, Mana Lebih Baik?

Retinyl Ester

mengenal-retinol

Nah, retinyl ester itu terbagi ke retinyl acetate dan retinyl palmitate. Dua duanya memiliki keefektifan yang berada di bawah keluarga retinoid secara keseluruhan.  Proses ketika retinyl palmitate dikonversi menjadi tretinoin menjelaskan kenapa retinyl ester tidak seefektif retinol atau retinoic acid. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Green et.al terhadap 80 pasien, yang sifatnya placebo controlled, random, dan double blind, diketahui bahwa 75 pasien berhasil melewati masa percobaan 24 minggu, dan 59 di antaranya berhasil melewati sebanyak 48 minggu.  Hasil yang diberikan hanya memberikan peningkatan yang tidak signifikan.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Watson et.al menguji klinis tiga produk cream komersial dengan retinoic acid. Semuanya merupakan moisturizer. Dua di antaranya merupakan moisturizer yang mengandung 2% peptide dan antioksidan, sementara 1 produk mengandung 6% bahan aktif kompleks dan retinyl palmitate kurang dari 0.2%. Dari 9 volunteer yang menggunakan produk ini di bagian lengan bawah, diketahui bahwa moisturizer yang mengandung retinyl palmitate bisa memberikan hasil yang lebih baik untuk kulit, yang hasilnya sebanding dengan retinoic acid. Namun hal ini masih bias karena moisturizer tersebut tidak hanya mengandung retinyl palmitate. 

Kalau berdasarkan dari dua penelitian ini, diketahui bahwa bukti eviden retinyl palmitate dan retinyl acetate sebagai bahan antiaging memiliki bukti eviden yang kurang.  Namun retinyl palmitate cukup baik dalam memproteksi kulit dari sinar UV pada studi yang dilakukan pada hewan dan manusia.

Retinol

mengenal-retinol

Retinol termasuk bahan yang paling banyak digunakan di industri kosmetik. Hal yang paling akan bikin dirimu terkejut adalah… bahwa sesungguhnya hanya sedikit sekali bukti eviden yang bisa mendukung terhadap kemanjuran retinol untuk antiaging, meski sebetulnya terbukti bahwa bisa untuk antiaging.

Bukan berarti enggak ada.  Kang et.al pernah melakukan studi bersifat random, double blind yang membandingkan antara retinol, retinoic acid, dan vehikulum, yaitu zat inaktif yang digunakan sebagai pembawa zat aktif agar dapat berkontak dengan kulit.

Penelitian ini mengambil sejumlah sampel (tidak disebutkan), yaitu volunteer yang sehat, lalu mengaplikasikan sediaan topikal itu ke kulit bokong.  Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi retinoic acid menyebabkan erythema.  Retinol hampir tidak atau hanya memberikan sedikit efek erythema.  Namun retinol menyebabkan penebalan epidermis jika dibandingkan dengan retinoic acid. Retinol juga meningkatkan aktivitas genomik dalam tubuh. Retinol bisa meningkatkan akumulasi keberadaan retinyl ester di epidermis, namun tidak bisa meningkatkan jumlah retinoic acid di kulit.

Nah, kalau penelitian yang dilakukan oleh Kafi et.al, dengan sistem random, double blind, dan kontrol vehikulum, dengan menggunakan 0.4% retinol pada 23 pasien selama 24 minggu. Dari hasil yang diperoleh dengan mengikutkan dua dokter kulit yang tidak mendapatkan sebagian informasi mengenai tes, diketahui bahwa ada peningkatan secara klinis di kerutan wajah setelah perawatan selama 4 minggu. Setidaknya diperlukan 2-3 bulan agar bisa mendapatkan hal yang diinginkan.

Retinaldehyde

mengenal-retinol

 

Di antara semua keluarga retinoid yang bisa dibeli secara bebas, sebetulnya retinaldehyde yang paling memberikan efek. Sejauh ini, sudah ada beberapa studi yang membuktikan bahwa retinaldehydre bisa memberikan dampak yang baik dalam mengisi celah fine line dan kerutan wajah. Berbeda dengan retinyl ester dan retinol, studi yang dilakukan ini dilakukan dalam skala yang lebih besar.

Bahkan ketika diberikan dalam bentuk konsentrasi yang lebih tinggi, toleransi kulit pasien atau volunteer dalam kondisi baik.  berbeda ketika diberikan tretinoin, meski memberikan efek yang lebih signifikan, namun bisa menyebabkan erythema dan iritasi. Sejauh ini diketahui bahwa dengan konsentrasi 0.05% dinilai efektif dan bisa ditoleransi oleh sebagian besar kulit.  Bahkan bisa digunakan juga lho di area sensitif seperti di wajah!

 

Sources:

Kajal et.al, Cosmeceuticals: The Evidence Behind the Retinoids, Aesthetic Surgery Journal 30(1) 74–77, © 2010 The American Society for Aesthetic Plastic Surgery, Inc.
Sorg et.al, Retinoids in Cosmeceuticals, Dermatologic Therapy, Vol. 19, 2006, 289–296, © 2006 Blackwell Publishing, Inc.

Share:
Previous Post Next Post

You may also like

1 Comment

  • Reply eka

    Terimakasih. Saya butuh banget ini, karena usia saya yang sudah budhe ini masih ingin dipanggil kakak.
    Cuma, seperti biasa.
    Saya baca lagi dulu ya, Kudu 3-5x soalnya biar mudeng. Maklum, otak udah usianya sudah kaua Titiek Puspa.

    September 7, 2019 at 10:27 am
  • Leave a Reply