Books

Antara Batas Hidup dan Mati

Sebetulnya apa itu kehidupan?  Apa itu kematian?  Apa yang membuatnya bisa menjadi satu benang tipis yang bisa dengan mudah memisahkan jiwa manusia dari dunia?

Awal mula saya membaca buku ini, saya cukup bersemangat untuk bisa mendapatkan perspektif baru tentang hidup. Tema dan garis besar dari buku ini adalah “bunuh diri”, dimana saya yakin masih sesuatu yang cukup tabu untuk dibicarakan, baik secara nyata maupun dijadikan buku. 

Hal yang saya tangkap setelah membaca buku ini adalah perkataan salah satu tokoh bernama Richard sebagai berikut:

“Kita semua memikirkannya.”

Maksud dari “nya” di sini adalah bahwa setiap orang pasti pernah berpikir tentang bunuh diri.   Entah itu terlintas karena memikirkan “ingin” atau karena “tahu” ada orang yang pernah melakukannya. Ada hari  ketika dimana orang-orang mengalami hal-hal buruk dan ingin melarikan diri dari kenyataan, dan meskipun banyak orang yang berhasil melewatinya dengan selamat dan tetap hidup, ada sebagian lain yang memilih untuk menghilang ingatan itu selamanya, dengan bunuh diri.

Kenapa orang ingin bunuh diri?

Sebagai sahabat dari pelaku bunuh diri, Cody terus mempertanyakan alasan kenapa Meg meninggalkan mereka semua dengan cara yang, bisa dibilang, tidak bijak.  Terbukti dengan jenazahnya yang tidak diterima untuk dimakamkan di pemakaman Katolik (terlebih karena saat itu tubuhnya sedang diautopsi), dan kebaktian pun tidak dilaksanakan di gereja. Di sini Meg tidak pernah berbicara untuk dirinya sendiri alias tidak ada uraian flashback, sehingga perspektif tentang karakternya sebagian besar didapatkan dari apa yang diceritakan Cody dan teman temannya yang tinggal bersama di satu rumah mahasiswa.

Sebagai orang yang unik, tapi (anehnya) dia cukup disukai dan gampang berteman dengan orang lain, rasanya ada sesuatu yang ganjil bagi Cody mengenai kematian sahabatnya.  Dimulai ketika orangtua Meg ingin agar Cody membantu mereka mengepak barang-barang Meg untuk dibawa kembali ke rumah, Cody yang semula pasrah menerima kabar tersebut mulai mempertanyakan alasan Meg pergi. Pertemuannya dengan Richard, Alice, Harry dan Tree -teman satu kontrakan Meg- memberikan gambaran perilaku Meg sehari hari yang dianggap ganjil oleh hampir semua orang yang mengenalnya.  Dari situ dia juga bertemu dengan Ben McCallister, cowok band yang disukai Meg  -yang semula diduganya merupakan penyebab kematian Meg, tapi ternyata masih belum cukup memberi penjelasan.  Cody malah makin bingung karena saat dia mencoba mencari jawaban dengan membaca surel Meg lewat laptop-nya, ada sebagian besar surel yang terkunci dalam sebuah folder bersandi.  Inilah awal mula Cody ingin menyelidiki kematian Meg.

Baca Juga:  [REVIEW]Perbandingan BB Cushion Korea: Innisfree vs Iope vs Laneige

Cody diposisikan sebagai seseorang yang “nemplok” alias hanya menjadi bayang-bayang Meg, karena saya mendapat gambaran bahwa Meg adalah tipe yang bisa “menyelesaikan apa saja bagi siapa saja, kecuali dirinya sendiri.” Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang orang yang kita lihat sebagai yang tangguh dan mampu menghadapi segalanya sesungguhnya memiliki kerapuhan yang luar biasa, dan disini Meg digambarkan sebagai orang yang seperti itu.

“Petualangan” Cody dalam mencari penyebab Meg ini yang membuat novel ini “bernapas”, istilah saya saat menyebut konflik.  Konflik batin Cody yang masih marah karena keadaan agak kurang jelas digambarkan, karena alur dari keseluruhan novel ini cenderung datar.  Saya tidak menemukan suatu kondisi saat konflik ini mulai menanjak menjadi  suatu obsesi sinting Cody dalam mencari penyebabnya. Bantuan Harry Kang yang ahli meretas adalah prerequsites bagi Cody untuk menemukan kebenaran, tetapi bagian preconditions dimana hambatan dalam pencarian itu sayangnya kurang dikembangkan.  Padahal akan lebih baik jika Cody menemukan suatu kesulitan yang membuatnya jadi frustasi, dan mulai bertindak di luar kebiasaannya.

Baca Juga:  [REVIEW] Benton Fermentation Eye Cream

Saya justru lebih suka karakter Ben yang semula ditonjolkan sebagai “bajingan”.  Dia jauh lebih hidup, lebih menunjukkan keputusasaan terhadap keadaan.  Ben menjadi sosok manusiawi ketika cowok itu ingin menjadikan dirinya sebagai sumber kekuatan Cody dalam menghadapi segala situasi.   Saya kira Cody dibuat menjadi tokoh berkarakter datar dan tidak menunjukkan emosi oleh penulis karena Cody bertugas menguak misteri kematian Meg.

Namun saya cukup terkejut karena endingnya tidak seperti dugaan saya semula. Saya tidak akan menyebutnya sebagai twist, karena tidak ada bagian yang cukup menonjol untuk membolak-balikkan pikiran pembaca, jadi bisa dibilang karena saya salah menebak akhirnya saja. Jika diolah dengan lebih baik, ending-nya bisa menjadi suatu bentuk ungkapan pertanyaan terbuka mengenai instropektif tentang hidup dan mati, sesuatu yang benar-benar membuat kita berdiskusi:  “Apa itu hidup? Untuk apa kita hidup?”.  Di sini saya mendapatkan ending yang sama hambarnya dengan awal dan konflik kisah ini.

Satu hal yang membuat saya memberi rating 3, karena saya respek dengan keinginan si penulis dalam membuat buku berdasarkan karakter nyata.  Bunuh diri adalah suatu hal yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga saat ada seseorang yang rapuh dan rentan melakukan bunuh diri, diperlukan sifat peka dalam membantu orang tersebut untuk bisa melewati masa-masa sulit. Buku ini bisa dijadikan pengingat bagi kita semua, bahwa bunuh diri bukan perkara main-main.

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *