Miscellanous

Habis Lulus Kuliah, Mau Ngapain? 4 Realitas Ini yang Akan Terjadi Padamu

Buat saya, masa-masa setelah wisuda itu bisa dibuat pelesetan berupa dark joke dari quote-nya R.A Kartini:  Habis gelap, tetaplah gelap.  Lol.

Memangnya habis lulus kuliah, mau ngapain?  Statusmu sudah tidak lagi jadi mahasiswa.  Turun derajat serendah-rendahnya, pengangguran bersarjana! Tahukah kamu, menurut survei BPS (Badan Pusat Statistik) dalam setahun terakhir ini ada sebanyak 7,55%  pengangguran dari total 121,02 juta orang yang bekerja?  Hanya sebanyak 0,03% jumlah pengangguran turun. Agak mendingan, sekitar 0,76% memilih menjadi pekerja paruh waktu atau freelancer. 

Sebetulnya apa sih makna angka-angka ngjelimet ini?

Simpel.  Ngapain buru-buru pengen cepat lulus kuliah, sih?

Oke, jangan tampol dulu, haha. Alasan klasik semacam “gak mau bayar uang kuliah lagi” pasti jadi yang paling utama dijadikan tameng agar bisa segera lulus.  Atau bagi yang berbeasiswa, biasanya ada batas waktu tertentu yang membuatnya tidak bisa menikmati hidup sebagai mahasiswa di tahun terakhir. Ya, kan, bener, kan?

Ngomongnya kayak yang nyombong gitu, emangnya kuliahnya lulus tepat waktu?

Justru karena pernah nambah semester makanya tahu perihnya juga, lol  *ditampol berjamaah*

Well, tapi yang namanya lulus kuliah itu enggak seindah  mawar merah penuh gairah (yang nonton Atashin’chi pasti tahu!). Saya yakin banyak yang mengamini.  Kecuali orangtuamu pejabat atau direktur perusahaan, kamu pasti akan mengalami masa-masa perih dulu.

Masa, sih?

Memangnya siapa coba yang bisa menjamin begitu selesai wisuda, jodoh datang menjemput?  Enggak ada.

Siapa bilang orangtuamu akan membiarkan kamu menikmati liburan sebagai pengangguran?  Adanya kamu pasti ditajong ke sana kemari disuruh nyari kerja karena enggak mau lihat kita ngendon terus  ngabisin persediaan beras rumah, muahaha *bukan, bukan pengalaman pribadi*

Siapa bilang total IPK canggih, title cumlaude, bisa jamin kamu dapat kerja cepat?  Saya tahu kisah beberapa orang yang perlu dua tahun sampai dapat pekerjaan pertama.  Mereka adalah yang lulusnya tercepat, tepat waktu, dan memiliki nilai yang enggak main-main.  Kalahlah saya sama mereka.

Nah, lho.  Saya malah bikin takut, ya, hehehe. Enggak, saya bukan yandere, cuma sedikit S aja *sama aja!*

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya akan rangkum beberapa hal yang perlu kamu ketahui setelah menjadi pengangguran, simak 4 realitas berikut ini!

Habis Lulus Kuliah… Uang Jajan Bakal Dipotong

habis lulus kuliah mau ngapain

Disunat sampai ke akar-akarnya! Setidaknya, itulah pengakuan teman saya K, anak Kaltim yang mendapat perlakuan cukup tega dari orangtua. K hanya mendapat setengah dari jumlah yang biasa dikirimkan orangtua perbulan.  Bayangkan, uang itu harus cukup digunakan untuk transportasi, makan, dan kebutuhan hedon lainnya. Bahkan ongkos bolak balik Jakarta untuk melamar kerja saja tidak dapat. Dia beruntung, dua bulan setelah dinyatakan lulus sidang,  diterima kerja di salah satu perusahaan multinasional.

Gimana dengan saya?  Sama aja.  Saya… enggak pernah dapat jatah lagi setelah lulus. Soalnya saya enggak ngekos lagi! Orangtua ngirit banget, hanya memberi kalau saya gunakan untuk keperluan melamar kerja. Selamat dadah jika kamu punya kebiasaan nongkrong di Starbucks tiap bulan *enggak, saya enggak curhat soal ini, anaknya kurang gaul jadi belum pernah nginjak lantai Starbucks sampai sekarang*

Tapi coba dipikir lagi deh, memangnya kamu tega minta orangtua membiayai hidupmu terus?

Akan ada titik ketika kamu merasa sudah waktunya berhenti menyusahkan orangtua.  Setelah kamu perhatikan baik-baik, keriput di wajah orangtuamu rasanya semakin tegas, ingatan mulai agak lamur, plus di kacamata pun bertambah… ah, ini bukan artikel ESQ, tapi tentunya kita mikir: “Geus kolot ari sia teh, mun rek khilaf make duit sorangan! Era punta penta wae! (Udah tua, mau khilaf pakai uang sendiri!  Malu minta-minta!)”

Saya sih, ya, menyarankan, sebagai mantan fakir paket data dan fakir tabungan, berhematlah sebelum kamu lulus.  Jatuh miskin pas lagi nganggur enggak enak, Bro dan Sis.

Mencari Kerja = Mencari Jodoh

Enggak, ini enggak salah ketik.  Emang benar kok.

Loh, bukannya jodoh itu enggak terbatas membicarakan pasangan hidup, ya?  Mencari kerja, membeli rumah pertama, dikaruniai anak… itu kan jodoh-jodohan.  Bukan jodoh mainan ya, tapi emang harus cocok  dulu biar dapat, ya enggak sih? Pernah dengar ada yang sudah menikah tapi belum punya anak bertahun-tahun?  Sering bertanya, “Kenapa gue sial melulu ya, nyari kerja gak dapet-dapet?”

Kalau memang belum berjodoh, ya pasti enggak dapat.

Saya mengalami kesialan mencari kerja, berkali-kali.  Enggak usah tanya berapa kali, malu-maluin.  Kebanyakan karena kebegoan diri sendiri, sampai memang karena faktor lain. Saya mengalami quarter life crisis ketika melihat kesuksesan teman-teman lain yang segera mendapat pekerjaan lebih dulu.

Tapi ketika mendengar Mama bicara soal jodoh, mata batin saya terbuka.  “Yang namanya pasangan, karir, dan lain-lain itu perlu yang namanya perjodohan.  Kita enggak pernah tahu karena Tuhan yang menentukan.  Jadi kalau memang enggak dapat, enggak perlu sedih.  Itu artinya kita belum dipertemukan dengan pasangan dan pekerjaan yang layak untuk kita.”

Baca Juga:  Ijazah Bukan Segalanya. Melarikan Diri dari Kenyataan Adalah Keahlian yang Harus Kamu Kuasai.

Ya kalau belum ketemu, gimana mau dapat? Kalau misal kamu mengalami hal ini, jangan langsung menyerah. Berhenti sejenak boleh, kok.  Ngeluh boleh, kok.  It’s okay.  Manusiawi. Tapi setelah nge-recharge dirimu saat melarikan diri dari kenyataan, bangkitlah lagi.  Selalu ada jalannya jika memang perusahaan yang kamu lamar itu adalah jodohmu.

Kalau ternyata gagal maning terus?

Siapa tahu itu cara Tuhan memberitahumu bahwa kamu lebih cocok bekerja di air bekerja sendiri tanpa memiliki bos.  Bisa jadi freelancer, influencer, atau malah kamu bikin usaha sendiri.

Lagipula, setelah bekerja, saya yakin akan ada masa ketika kamu bakal bilang gini, “Waduh, kerjaan banyak banget, kapan coba liburannya?”

Believe me, I had passed this stage too. 

Buang Gengsi, Cari Uang Enggak Mudah!

habis lulus kuliah mau ngapain

Gaji pertama saya bukan ketika mendapat honor saat diangkat menjadi web chief editor di salah satu startup digital agency Bandung.  Bukan juga saat menjadi dosen di kampus.

Gaji pertama saya, kalau mau tahu, cuma Rp 660.000.  Kalau kamu baru lulus, idealis, kamu bakal bilang, “Gaji segini gak level banget deh buat gue, lulusan S1!”

Saya sudah berhenti jadi idealis, dalam arti cuma pengen guling-guling di kasur sambil menanti pohon uang di halaman belakang rumah berbuah banyak. Eh, itu mah pemalas, ya, bukan idealis. Gimana mau menanti, bibit pohon uang aja enggak punya. Asal tahu saja, butuh waktu sebulan untuk bisa dapat nominal seperti itu. Tapi bangganya minta ampun karena akhirnya bisa menghasilkan uang sendiri.

Memangnya saya ngapain, sih?

Nulis.  Iya, bukan bikin ngeproyek bikin aplikasi atau mahakarya lain yang wow banget.  Kemampuan teknis IT saya nol banget; dulu saat mengerjakan TA, saya lebih memilih membuat model dibanding aplikasi.  Gimana enggak songong coba, haha.  Saya sempat mengira pekerjaannya jauh lebih mudah dibanding ngulik database dan codingan, eh, tahunya.

Saya baru tahu mengerjakan model dengan framework Hevner itu selevel dengan tesisnya anak S2.  HAHAHAHAHAHASEEEUM.

Ingin sekali saya berkata kasar (Kasar!”)

Tapi, saya ternyata menemukan passion yang lain dari situ:  saya suka melakukan research.  Dan nulis, selalu butuh research. Kloplah, ini awal mulanya saya terjun jadi freelance writer dengan harga murah.

Saya memulai pekerjaan pertama sebagai freelance writer yang benar-benar lepas; sampai akhirnya bergabung menjadi freelance writer di salah satu media.  Gajinya berapa?  Cuma $1,5 dollar per 500 kata.  Kalau saya menulis 120 artikel, baru bisa dapat Rp 1,8 juta perbulan. Murah banget ya, tenaga saya.

Namun dengan menjadi freelance writer, saya jadi bertemu banyak orang yang satu profesi. Saya belajar cara menulis yang lebih baik agar dapat bonus.  Ya, artikel macam, “Heboh! Penyanyi Dangdut Duo Ular Kini Cekcok Saling Patok”, saya pernah menjadi manusia receh yang berkontribusi di balik itu.  Tapi sekarang saya paham kenapa artikel sampah macam itu tetap dibaca.  Selain karena level membaca orang Indonesia rendah, memang bikin judul macam itu bikin artikel laku keras macam Premium yang sedang langka. “Yang penting enggak nyusahin orangtua,” pikir saya kala itu.

Ini sebetulnya awal mula saya ditawari jadi web chief editor dengan gaji yang cukup wow.  Kalau saya bertahan sampai sekarang, saya udah bisa foya-foya bangetlah.  Di Bandung kerjanya, tapi gaji ala orang Jakarta, Bro! Namun makin lama, menulis artikel receh membuat resah.  Rasanya kok dosa banget ya, jualan artikel receh.  Bukannya bikin orang Indonesia pinter, malah ngadu domba. Saat itu saya sedang S2, sementara startup sedang berkembang pesat.  Saya masih punya tanggung jawab untuk menyelesaikan kuliah, maka saya memutuskan untuk fokus menyelesaikan tesis.

Terlebih, karena saya sudah nambah satu semester dari waktu kuliah yang harusnya cuma 1,5 tahun.  Males bayaran lagi, huehehe.

Oke, ngelantur banget!  Jadi maksudnya apa, sih?

Kalau kamu merasa “IT bukan bidang sayah”, tos dulu.  Kita sama, kok. Namun saya yakin kamu punya potensi lain di luar itu semua.  Syukur-syukur kamu jago bikin web, bisa dapat proyekan, nambah-nambah uang jajan.

Kalau ngerasa enggak punya sama sekali?  Dikira momotoran bukan keahlian? Dikira cuci piring bukan keahlian? Ada banyak cara kok, buat mantan mahasiswa menghasilkan uang.  Kamu bisa jadi calo kos-kosan, jadi tukang ojek online, bikin jasa ilustrasi, bikin kue, jadi reseller atau dropshipper… buat saya, kerja itu enggak perlu fancy.  Apalagi kalau masih nyari belum dapat terus.  Selama halal dan enggak menyusahkan orang lain, jalani saja.  Enggak perlu gengsi-gengsianlah, memangnya gengsi bisa memberimu uang jajan?

Baca Juga:  Menggugat Hari Kartini: Siapa Pelopor Emansipasi Sebenarnya?

Saya yakin, Tuhan mendengar ratapan dompetmu dan akan mengabulkan permintaan dompet tipismu jika kamu mau berusaha.

Hello, Quarter Life Crisis

habis lulus kuliah mau ngapain

Kalau teman-teman sepermainan saat kuliah mendadak ngehe saat sudah naik ke life stage berikutnya, enggak perlu heran atau angot. Stay cool ajalah.

Cukup bikin boneka voodoo mirip dia lalu kutuklah tiap malem Jumat Kliwon, muahahaha *enggak, saya enggak lagi cerita pengalaman pribadi*

Buat lebih rinci tentang quarter life crisis boleh baca sini, ya.  Intinya, kamu akan mengalami masa-masa stuck, “kok-gue-disini-terus-orang-lain-lebih-maju.” Teman udah dapat kerja, kok saya belum?  Teman udah nikah, kok saya belum?  Iyalah dodol, kalau kamu jomlo gimana ceritanya mau nikah.  Di Indonesia belum ada undang-undang yang ngebolehin nikah sama diri sendiri 🙁 🙁   *enggak, enggak lagi curhat*

Tapi, percaya, deh, teman-teman tipe begini pasti ada aja. Termasuk sobatmu sendiri, bisa jadi ngehe banget sampai rasanya bikin boneka voodoo pun enggak cukup bikin dia jera.  Kalau mau tahu ya, peristiwa macam ini pernah kejadian sama saya beberapa tahun lalu:

Temen A: (Mau nikah 2 bulan lagi) Kalo kamu kira kira rencana kapan tanggal pernikahannya?

Temen B: (Yang udah dilamar dan lagi nyusun rencana) Aku gak tau, A, lagi mau diomongin dulu sama calonnya.  Kayaknya sih bakalan sesudah kamu gitu, deh

Temen A: Nanti dateng aja sama calon kamu pas nikahan, biar bisa liat contoh nikahan aku nanti

Temen B: Iya A, tapi kurang tau sih dia bisa atau nggak, liat nanti aja

Temen A: Oya, abis fitting nginep di rumahku, yuk.  C gimana, mau ikut?

Temen C: Nggak bawa baju sih, tapi bisa sampe malem.  Paling nanti minta jemput aja di xxx

Temen A: Sama siapa dijemput?

Temen C: Adalah, si Mia kayaknya kenal tuh

Temen A: Hah, kamu ternyata punya, ya?  Udah berapa lama?

Temen B: Iya, nih, si C diem diem aja

Temen A: Kasian Mia dong, desperate

Gue: Dasar maneh, sikucing! (Karena anying udah terlalu mainstream)

 

Enggaklah, saya enggak ngomong gitu.  Aslinya saya stay cool, kok, dingin macam es Cool Cool, haha (anak 90’an pasti pernah nyoba!)

Life is not a race.  Teman saya, A yang lain, pernah bilang demikian.  Itu adalah kalimat penyelamat saya dari rasa iri, dengki, dan dendam. Bukannya lebih horor kalau beneran kayak lomba lari, ya?  Soalnya kalau mengikuti timeline normal, teman-teman saya yang sudah menikah ini nantinya akan (atau sudah) memiliki anak -> anak tumbuh dewasa -> anak nikah… terus apa sih yang dinanti setelah itu selain kematian?

Bukannya saya jadi lebih panjang umur dibanding mereka semua karena belum mengikuti timeline normal? *senyum jumawa ala dark comedy*

Well, saya bukan berarti ngedoain, ya, tapi itu adalah cara ampuh buat bikin skak mat teman-teman kita yang nantinya akan berperilaku pitajongeun (minta ditendang) ngepoin nominal gaji, pasangan, rumah, juga banding-bandingin kemampuan tumbuh kembang anak.  Setidaknya kamu lebih unggul dari mereka jika bicara tentang kebebasan. Iya, khusus kamu yang jomlo.

Sayangnya kita enggak bisa nanya, “Kapan bakal bikin pemakaman?” sama tipe orang dewasa lebih tua yang  riweuh  loba cucun (rese banyak omong) dan suka ngepoin kapan kita kawin. Pasti kesel, kan, ya.  Udahlah, pasrah aja kalau ketemu tipe macam begini, doakan semoga dia segera insyaf aja, ya.

Kawin sih kapan aja bisa, yang gak bisa itu nikah!  Butuh persiapan amat sangat banyak.  Jangan cuma mau jadi princess sehari aja di pelaminan. Mana tahu kita enggak jadi selama-lamanya jadi princess buat si dia.  Apalagi kalau hobinya dasteran di rumah baru mandi kalau butuh saja, hmm, mungkin dia memilih untuk selingkuh sama kucing tetangga di luar *saya ngomongin peliharaan kamu di rumah, jangan suudzon, hehehe*

Jadi ya, buat jomlo, enggak perlu stres mikirin kapan nikah, ya.  Bangun jam tiga subuh demi menyusui anak itu gak asik, menurut pengalaman orang lain. Untungnya sejauh ini pengalaman saya ngurus bayi, baru bayi kucing.  Enggak perlu dikasih popoklah ya, cukup diajarin mana tempat pupnya biar bisa segera dibuang.

Omong-omong, nih saya punya tips memantaskan diri biar mantap saat meminang atau dipinang:  Yakin Siap Nikah? Sebelum Baper, Perhatikan 3 Hal Ini yang Sering Dilupakan Jomlo.

(dalam hati pembaca: Dari tadi teh kalahkah promosi artikel wae!

Me :  😀 😀 )

Cheers, 

semoga bermanfaat buat pejuang TA, have a good day!

Loading...

1 thought on “Habis Lulus Kuliah, Mau Ngapain? 4 Realitas Ini yang Akan Terjadi Padamu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *