Beautilogy Beauty

4 Cara Membaca Label Kosmetik, Sesuaikan dengan Kebutuhan Kulit!

Hi, semuanya!  Menulis draft terkait cara membaca label kosmetik sudah cukup lama terpendam, dan akhirnya saya menyempatkan diri untuk menulis.

Awalnya saya ingin menulis terkait jenis kulit, tapi sebelum ke arah sana, rasanya saya ingin  memberikan beberapa tips bagaimana cara membaca label skincare yang kamu miliki.   Saya sendiri lebih concern ke sini karena bagi saya, percuma  makeup secantik apapun kalau kulitnya aja bermasalah.

4 Cara Membaca Label Kosmetik 

Ada cukup banyak teman dan pembaca yang bertanya ke saya terkait bahan-bahan kosmetik.  Enggak sedikit yang sudah cukup mengerti, tapi lebih banyak lagi yang tidak mengerti (apalagi blog saya penjelasannya lumayan ribet, haha).  Sejauh ini, saya belum pernah menemukan artikel terpercaya versi bahasa Indonesia tentang cara membaca label kosmetik yang benar.  Alangkah baiknya jika semua perempuan Indonesia mulai mau berpikir ke arah sini.  Supaya apa?  Agar kamu tidak lagi kalap membeli skincare tanpa mengerti makna barang yang kamu beli.

Seperti biasa, saya akan membuat daftar isi yang clickable.  Kamu tinggal klik salah satu dari daftar isi berikut jika hanya ingin membaca satu sesi tertentu.

Bahan Kosmetik Tidak Pernah Berbohong 

Sebelumnya, saya ingin meluruskan satu hal dulu.  Kebanyakan dari kita masih menganggap kosmetik = makeup. Kenyataannya?

Kosmetik = skincare dan makeup

Nah, di sini saya lebih cenderung membahas ke skincare.  Tapi sesungguhnya, label bahan skincare dan makeup itu mirip, dalam arti cara membacanya pun sama.

Kenapa saya sebut bahan kosmetik tidak pernah berbohong?

Pernah dengar kalimat marketing mirip-mirip ini?

cara membaca label kosmetik
via beautyheaven.com.au

The Body Shop Almond Milk & Honey Hand Cream 30ml

“Produk untuk kulit sensitif yang mudah dibawa, Hand Cream ini melindungi, dan melembabkan tangan. Diperkaya dengan susu almond organik dari Spanyol dan madu dari Ethiopia, Susu Almond dan Madu diformulasikan untuk kulit sensitif dan kering. Hand Cream yang melindungi, melembabkan tangan yang kering, cocok untuk kulit sensitif dan kering .Mengandung susu almond organik. Diperkaya dengan madu dan minyak almond organik.  Hypoallergenic Teruji dermatologis. Detail tentang ketentuan uang kembali. Produk ini tidak termasuk bagian dari promosi”

Saya bold beberapa kalimat yang menjual banget. Sekarang, mari kita bongkar kebenarannya.  Berikut adalah daftar bahan pembuat hand cream ini:

Ingredients

Aqua, Glycerin, Caprylic/Capric Triglyceride, Sesamum Indicum Seed Oil, Mel, Sodium Polyacrylate, Cetyl Alcohol, Pentaerythrityl Distearate, Phenoxyethanol, Parfum, Caprylyl Glycol, Cetearyl Alcohol, Cetearyl Glucoside, Prunus Amygdalus Dulcis Oil, Butyrospermum Parkii Butter, Glycine Soja Oil, Orbignya Oleifera Seed Oil, Myristamidopropyl PG-Dimonium Chloride Phosphate, Sodium Stearoyl Glutamate, Xanthan Gum, Disodium EDTA, Myristyl Alcohol, Stearyl Alcohol, Prunus Amygdalus Dulcis Seed Extract, Benzyl Alcohol, Citric Acid, Dehydroacetic Acid.

Saya hanya menemukan almond extract, yaitu dua bahan yang saya bold.  Lalu ke mana madu dari Ethiopia yang menjadi iming-iming?  Honey extract atau mel extract yang merupakan nama INCI (International Nomenclature Cosmetic Ingredient; yang merupakan nama sistematis internasional untuk penamaan bahan kosmetik) untuk madu tidak saya temukan sama sekali!

Well, well, well, ke mana gerangan madu dari Ethiopia yang katanya cocok untuk kulit kering?  Mungkinkah masih tertinggal di Ethiopia? Hanya Conan yang bisa menjawabnya (lol).

Namun bukan berarti almond tidak ada sama sekali. Prunus amygdalus dulcis oil yang merupakan nama lain dari sweet almond oil.  Almond milk di sini sepertinya lebih merujuk pada ekstrak almond dari Prunus amygdalus dulcis sweet extract yang terkandung dalam produk ini.

So, inilah yang saya maksud bahan kosmetik tidak pernah berbohong 😀 , at least tidak seperti apa yang diucapkan pada sales service.

 

Jenis Bahan Kosmetik yang Sering Kamu Jumpai 

cara membaca label kosmetik
via simplysona.com

Nah, biasanya nih, dalam pembuatan kosmetik, kita akan mengenal yang dinamakan toner, essence, moisturizer, dan lain-lain.  Perbedaannya apa?  Buat saya sendiri, lebih pada thin dan thick dari suatu produk.  Mulai dari toner sampai heavy cream memiliki konsistensi cairan yang berbeda-beda. Fungsinya bisa sama atau berbeda, tergantung dari kebutuhan.

Baca Juga:  ALTHEA X GET IT BEAUTY REAL FRESH SKIN DETOXERS

Normalnya produk kosmetik berbasis air atau disebut water based. Ini juga termasuk untuk produk yang mengandung emulsi (minyak dicampur air) serta produk mengandung surfaktan.  Ini juga termasuk skincare untuk wajah, sabun, dan sampo.  Setelah itu, 4-5 bahan kosmetik selanjutnya merupakan bahan kosmetik utama yang “bertanggung jawab” terhadap fungsi dari produk itu sendiri. Setelah bahan kelima, biasanya persentase masing-masing bahan di bawah 1%.

Tips: Jika kamu membeli produk, pastikan salah satu atau beberapa bahan yang diusung di tagline ada dalam urutan lima teratas dalam label kosmetik.  Prinsip ini juga berlaku untuk produk berbentuk powder (eyeshadow, foundation, loose powder).  

Namun sesungguhnya ada beberapa istilah yang perlu kamu ketahui jika membicarakan bahan pembuat skincare. Menurut Annalisa, cosmetic chemist di balik blog Vavoom Cosmetics, terdapat beberapa kategori dalam kosmetik yang semestinya diketahui,  yaitu:

 

Water

Sesungguhnya water atau aqua atau distilled water hanya istilah saja; karena air memang bahan yang paling banyak ditemukan di berbagai jenis skincare dan body care.  Bahkan bahan utama sampo sesungguhnya adalah air!  Air memiliki fungsi untuk melembapkan kulit dan tidak membuat kulit mengalami iritasi

Gelling Agents

 Pernah dengar Xanthan gum?  Ini merupakan bahan yang bisa membuat air berubah menjadi gel.  Normalnya xanthan gum berada di kisaran 0.3% – 1.  Bahan pembuat gel lainnya adalah Carbomer, Hydroxyethylcellulose, dan C10-30 Alkyl acrylate crosspolymer.

Humectan

Merupakan bahan yang membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air. Kulit kering terhidrasi berkat kemampuan humektan mengikat molekul air sehingga kulit mempunyai level water agent yang cukup. Contohnya adalah glycerin, dengan maksimum persentase 3%.  Glycerin terbagi dua, yaitu animal based glycerin dan vegetable glycerin.  Saat ini sebagian besar brand sudah mulai beralih menggunakan vegetable glycerin, tetapi jika kamu memiliki concern tertentu, disarankan ditanyakan langsung pada brand yang kamu sukai.  Contoh bahan lainnya adalah Hyaluronic acid dan Sodium PCA

Emollients

Bahan yang digunakan untuk mencegah kekeringan pada kulit.  Contoh dari emollient ini adalah semua yang termasuk ke dalam ekstrak oil dan butter. Misalkan carrier oil (jojoba oil), shea butter, cocoa butter, peppermint oil (essential oil).  Biasanya produk yang mengandung emollients terdapat untuk jenis kulit kering, namun meski dilabeli oil free, sebetulnya terdapat sedikit kandungan emollient. Kisarannya antara 0.5% – 10%

Emulsifier

Untuk cream dan lotion, emulsifier sangat dibutuhkan. Fungsinya adalah untuk menjadi bahan penyatu antara air dan minyak.  Biasanya, emulsifier digunakan untuk menyatukan bahan dengan water based dan oil based.  Contohnya adalah Cetearyl Alcohol, Polysorbate, Glyceryl Stearate, PEG 100 Stearate.  Kisaran mulai dari 1-10%

Actives

Biasanya, bahan aktif adalah bahan kosmetik yang memberikan “janji” atau manfaat dari bahan tersebut.  Biasanya ada pengaturan tertentu terkait dengan persentase dari bahan aktif, karena kebanyakan bahan aktif sesungguhnya merupakan drug atau termasuk obat-obatan.  Contoh: Avobenzone pada sunscreen, salicylic acid (BHA), dan fluoride pada pasta gigi.  Konsentrasinya sudah diatur sedemikian rupa agar bisa bekerja efektif

Preservative

Merupakan bahan pengawet kosmetik.  Eits, jangan salah lho, paraben itu termasuk preservative yang terbaik saat ini!  Pembahasan mengenai mitos paraben free dan mitos dan sains terkait kanker sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya.  Oya, ketika kamu membeli produk, pastikan ada preservative.  Produk yang natural tidak selalu bagus, karena kita tidak bisa memprediksi kapan produk itu kedaluwarsa.  Jika kamu suka dengan produk natural dan organik, pastikan ada sertifikasi ECOCERT, karena itu adalah tandanya produk tersebut mengandung preservative yang cukup aman.  Saya tidak menyarankan untuk menggunakan produk dengan preservative seperti carrier oil dan essential oil saja karena kulit rentan mengalami iritasi.  Contohnya adalah Paraben 0.01% – 0.03% , Potassium sorbate 0.1 – 0.5%, Sodium benzoate > 1%

Solvent

Merupakan pelarut yang berfungsi untuk mencampurkan bahan satu dengan bahan lain. Persentase biasanya cukup besar karena perlu untuk melarutkan solute (zat terlarut). Contohnya adalah ethanol (alcohol), glycerin, 1-propanol, 2-propanol, water (air), dan lain-lain

Baca Juga:  Perlukah Kita Memakai Produk Paraben Free? Mengungkap Mitos dan Sains Terkait Kanker

Surfactan

Surfactan atau surfaktan: Sabun merupakan salah satu contoh surfaktan yang paling awal dikenali oleh manusia. Fungsi dari surfaktan adalah untuk menghilangkan  minyak dan kotoran akan diangkat  kulit.   Saat ini, surfaktan yang lebih lembut sudah mulai diproduksi, sehingga akan lebih baik jika kamu mengganti produk dengan surfaktan yang berpotensi mengikis acid mantle dengan yang lebih gentle.  Contoh surfaktan adalah SLS, SLES, SLAS, Dioctyl sodium sulfosuccinate, Sodium lauryl glucose carboxylate, dan lain-lain

Fragrance

Wewangian biasanya digunakan untuk memberikan sensasi kesegaran. Namun bagi sebagian orang tertentu, fragrance bisa membuat iritasi.  Jika ingin membeli produk mengandung fragrance atau perfume, akan lebih baik jika urutan fragrance ada di bagian paling akhir. Bagi pemilik kulit sensitif, sebaiknya memakai produk fragrance free

pH Adjusters

 Normalnya kulit kita memiliki pH 5.5 (baca lebih lanjut mengenai daftar merek sabun cuci muka bagus!).  pH adjusters biasanya berfungsi memastikan bahwa pH dari produk sesuai dengan kebutuhan kulit atau di kisaran 5.5.  Contohnya adalah Lactic acid, Citric acid, Sodium hydroxide, dan triethanolamine (TEA). Konsentrasinya ada di kisaran 1%

Chelating Agents

 Bahan ini berfungsi untuk mengikat ion-ion metal dan mencegahnya menempel di kulit.  Biasanya, chelating agents berfungsi sebagai pelengkap dari preservative.  Contohnya adalah Disodium EDTA. Konsentrasi yang digunakan kisaran 0.2%

 

Apa Itu Bahan Kosmetik Aktif (Active Ingredients)?

cara membaca label kosmetik
via dermstore.com

Saya sudah pernah menulis posting khusus  Urutan Memakai Skincare Actives untuk Perawatan Wajah yang Tepat. Tapi sebelum mencari tahu urutannya, sebetulnya bahan aktif itu apa, sih?

Menurut cosmetic chemist Perry Romanowski,  active ingredients (bahan aktif) sesungguhnya merupakan drug atau obat-obatan, sehingga tidak bisa sembarang pakai. Namun actives juga bisa mengacu pada bahan tertentu yang memainkan peran penting agar produk tersebut berkhasiat.

 

Untuk exfoliate toner, misalkan, persentase dan pH untuk bahan-bahan berikut harus sesuai dengan ketentuan sehingga bisa bekerja optimal di kulit.  Begitu juga dengan sunscreen, benzoyl peroxide, dan bahan aktif lainnya yang memiliki fungsi penting dalam suatu produk.

Apa aja sih contohnya?

AHA: Glycolic acid, lactic acid

BHA: salicylic acid, betaine salicylate, willow bark extract

PHA: Gluconolactone, lactobionic acid, galactose

LHA: Serupa dengan salicylic acid namun lipophilic.  Ini artinya, LHA tidak memiliki kemampuan penetrasi menyerupai BHA, tetapi ini bagus untuk kulit sensitif sehingga tidak menimbulkan iritasi

 

Terus gimana sih cara nyari tahu apakah produk kita mengandung bahan aktif atau enggak?  Ada beberapa cara seperti berikut:

  1. Cari produk yang menawarkan benefit yang spesifik, misal produk antiaging.  Namun tidak semua bahan yang dijadikan embel-embel marketing memang berkhasiat, contohnya cream collagen (baca lebih lanjut mitosnya di sini!). Jika terdapat perawatan antiaging,(pernah saya bahas di sini juga lho), maka bisa dipastikan produk itu memang memiliki khasiat
  2. Jika produk tersebut dijual di apotek (namun berbentuk skincare), produk itu memang memiliki khasiat sesuai yang ditawarkan.  Contohnya adalah brand Glikoderm.  Ini asli buatan Indonesia, lho!

 

Contoh Membaca Label Kosmetik 

hatomugi skin conditioner

Di sini saya akan mengambil contoh produk yang saat ini menjadi favorit saya, yaitu Imju Hatomugi Skin Conditioner (reviewnya bisa dibaca di sini!)

 

Hatomugi Skin Conditioner

Water (solvent), Dipropylene Glycol (solvent), Butylene Glycol (skin conditioning agent / solvent/ humectan) , Glycerin (humectan), Dipotassium Glychyrrizate (active) , Coix Lacryma-jobi Seed Extract (seharusnya active), Acrylates Copolymer (film forming agent), Alcohol (solvent), Citric Acid (pH adjuster), Sodium Citrate (pH adjuster), Methylparaben (preservative), Propylparaben (preservative).

 

Bagi yang masih khawatir dengan produk paraben, bisa dilihat bahwa methylparaben dan propylparaben berada di urutan terbawah.  Ini membuktikan bahwa persentase paraben tidak mencapai 1%, sehingga paraben bukan bahan pengawet yang membahayakan.

Nah, sekarang sudah cukup ada gambaran kan, mengenai cara membaca label kosmetik?  Semoga bermanfaat, sampai jumpa di posting saya selanjutnya, readers!  Yang masih belum paham boleh tanya di kolom komentar ya 😀

 

Loading...

9 thoughts on “4 Cara Membaca Label Kosmetik, Sesuaikan dengan Kebutuhan Kulit!”

  1. Wah informasinya seru nih, aku bookmarked dulu deh.
    Thanks for the information Kamila 🙂

    Cheers,
    Cindy
    cindyartha.com

  2. luar biasa miaaa…

    emang aku perlu mencerna lebih serius pas baca blog mia.. tapi ini bermanfaat banget terutama buat yang buta ingredients kaya aku..hahaha

  3. kalo kak mia ngga nulis tentang handcream di atas, aku pasti asal masukin keranjang aja dengan iming2 ethiopia-nya wkwk emang butuh banget ya lebih teliti baca ingredients makeup. aku juga mulai bikin artikel yang nyinggung-nyinggung soal ingredients nih kak, baca referensi tentang kandungan-kandungannya ternyata asik ya!

    xoxo,
    ai – aidacht.com

  4. Seperti biasa, selalu lengkap Mia. Btw, aku mau nanya nih, Mia. Kalo urutan ingredients-nya beda tapi list ingredientsnya sama, apakah akan ngaruh ke tekstur maupun kualitas produk?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *