cek tata bahasa indonesia
Blog 101

3 Cara Cek Tata Bahasa Indonesia Baku bagi Blogger Pemula

Hi, guys!  Hampir seminggu ini saya enggak nulis apa-apa.  Antara malas, dan kuliah sudah dimulai, hehe. Sayangnya, saya bukan mahasiswa, yang tinggal duduk cantik dengan isi kepala bersih mengkilap karena sudah dicuci (baca: dihapus semua ingatannya terkait materi kuliah) selama liburan, haha.  Sejak akhir UAS sampai sebelum perkuliahan dimulai, saya enggak menikmati liburan secara hakiki  (baca: kerja terus atau belajar buat sertifikasi) :’).

Nah, tapi kali ini bahasannya cukup istimewa.  Teh Langit Amaravati berbaik hati mengisi Beautiesquad Ngopi Cantik#4 dengan tema “Cek Tata Bahasa Indonesia Bagi Blogger, Perlukah?”

Saya sendiri sebetulnya tipe orang yang suka getek dengan orang yang tidak peduli dengan ejaan dan kosakata yang benar. Termasuk yang sering typo.   Typo atau saltik itu wajar, sih, tapi kadang saya bertanya-tanya (secara jahat), situ belajar bahasa, enggak, sih, pas sekolah?    Setidaknya, kalaupun tidak mempelajari bahasa Indonesia lebih mendalam, misal tidak masuk sastra, 12 tahun sekolah + 1 semester dapat mata kuliah bahasa Indonesia harusnya menjadikan seseorang menulis dengan baik.

Karena itu, saat saya mengetik SMS dan chat, saya tetap mengetiknya tanpa disingkat.  Enggak benar-benar baku sih, soalnya susah ya, ngobrol dengan suasana kaku :’), tapi  dengan seperti ini sebetulnya saya sedang melatih diri untuk berbahasa ibu dengan benar.

Tapi apakah ini berlaku juga untuk blogger?

cek tata bahasa indonesia

 

Blogger yang Baik, Peduli dengan Tata Bahasa

Blogger tidak ada bedanya dengan penulis.  Toh sama-sama mengetik dan atau memikirkan tulisan, maka posisinya sama saja.  Apalagi karena teknologi sudah membantu kita untuk bisa mencari berbagai jenis informasi di internet, akan sangat baik jika kita tidak hanya sekedar memberikan informasi saja bagi pembaca, tetapi juga tetap membuat pembaca nyaman dengan isi konten kita.  Karena itu sebagai beauty blogger, kita wajib bisa berbahasa dengan baik!

Teh Langit beropini, sangat naif jika blogger tidak memiliki keinginan untuk belajar bahasa yang baik. Ini bukan hanya sekedar memberi kenyamana pada pembaca saja, tapi juga menjadi tolak ukur profesionalitas seorang blogger.  Ada 6 hal yang dibeberkan oleh Teh Langit mengenai alasan blogger perlu belajar bahasa:

  1. Kredibilitas.  Bagi pembaca blog, cara kita berbahasa juga akan mereka nilai.  Tentunya kita sendiri tidak nyaman jika membaca sesuatu yang acak adut “s3M4CaM !nI”, kan?  Kita juga bisa meningkatkan personal branding jika konten yang kita sajikan enak dibaca dan tidak ada saltik.
  2. Page rank. Salah satu yang disebutkan dalam guidelines Google, jika ingin menentukan peringat situs, maka kualitas tulisan termasuk penilaian.  Berarti kita harus bisa mengeja dengan benar, menulis kosakata baku yang baik, dan minim saltik.  Juga tidak boleh jiplak, ya!
  3. SEO. Mesin pencari seperti Google dan Bing punya algoritma sendiri dalam menafsirkan keyword.  Setiap tahun, Google memperbaharui cara mesin pencari untuk bisa menafsirkan keyword dan meta description.  Jika ada dua artikel  membahas suatu hal yang kurang lebih sama, Google memprioritaskan hasil pencarian yang memiliki tata bahasa lebih baik.
  4. Pembaca. Engagement yang paling baik adalah memberi kenyamanan bagi pembaca ketika mereka melihat-lihat blog.  Kalau sampai ditulis seenaknya, biasanya pembaca tidak mau lagi berkunjung ke blog itu.
  5. Monetisasi. Brand tidak akan mau bekerja sama jika blogger tersebut tidak bisa menulis sesuai tata bahasa yang benar.
  6. Lomba blog. Tata bahasa juga menjadi salah satu poin penilaian saat mengikuti lomba.
Baca Juga:  4 Tips Non Teknik Membuat Foto Flatlay Instagram yang Mudah Bagi Pemula

 

Cara Cek Tata Bahasa Indonesia

cek tata bahasa indonesia
via grammarfactory.com

Tahukah kamu bahwa bahasa Indonesia itu dinamis? Bagaimana mencari tahu apakah kita sudah menulis dengan benar atau belum?  Cukup simpel, kita bisa cek tata bahasa dengan menggunakan pedoman umum dan kamus.

Seiring waktu berjalan, selalu ada penambahan kosakata dalam bahasa Indonesia yang jarang kita dengar.  Selalu ada aturan dalam pedomaan ejaan yang juga berubah.  Salah satunya adalah “saltik” yang saya sebut tadi. Saltik adalah akronim dari salah ketik.  Selain kosakata, terkadang saya lupa juga dengan tata bahasa Indonesia yang benar itu seperti apa. Misalkan, mana yang paling benar di antara beberapa kata di bawah?

Kerumah.

Di makan.

Tidak ada sama sekali.  Iya, karena yang benar adalah memisahkan antara rumah dan kata penghubung menjadi ” ke rumah”, dan karena “di” merupakan kata penghubung objek, maka seharusnya disatukan menjadi “dimakan.”

Baca Juga:  4 Tips Non Teknik Membuat Foto Flatlay Instagram yang Mudah Bagi Pemula

Tips Teh Langit sebetulnya simpel:  Mari kita tetap berpegang teguh pada KBBI dan PUEBI.  KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sudah mengalami beberapa kali revisi, terakhir edisi kelima diterbitkan tahun 2016. Saat saya cek Wikipedia, untuk versi kamus hardcopy selalu diperbaharui 5 tahun sekali, sementara KBBI daring atau online diperbaharui 6 bulan sekali.  Kalau tidak mau beli, tinggal unduh saja di Playstore atau App Store.  Cukup mudah kok!

Untuk PUEBI (Pedoman Ejaan Umum Bahasa Indonesia) sendiri, kita bisa unduh juga, kok.  Badan Bahasa dari Kemendikbud sudah menyediakannya secara gratis. Kamu bisa unduh PUEBI di sini.

 

Gaya Bahasa, Bolehkah Tidak Kaku? 

cek tata bahasa indonesia
via marketinginsidergroup.com

Gaya bahasa setiap orang berbeda-beda.  Apa alasannya?  Sebetulnya, gaya bahasa itu dipengaruhi oleh cara kita berbicara.  Ini juga menjadi salah satu tips Teh Langit saat menulis: menulislah seperti kamu berbicara!  Biasanya yang membuat kita agak kaku saat menulis adalah karena tidak terbiasa, juga tidak “membebaskan” diri saat menulis.  Padahal gaya bahasa itu sifatnya unik.  Jadi, jangan takut menulis!

Lalu, apakah boleh jika seandainya tidak kaku dan terlalu baku?  Sebetulnya ini tergantung dengan pembawaan kita masing-masing.  Ada blogger bergaya santai dengan bilang “gue-lo”, ada yang resmi dengan menyebut “saya-Anda”, ada juga yang kasual yaitu “aku-kamu.”  Saya sendiri tipe yang semi kasual, “saya-kamu.”  Aneh?  Emang, hehehe 😛 .

Target pembaca sebetulnya menentukan tingkat dari kesopanan dalam menulis kata ganti.  Setelah cek Google Analytics, kebanyakan pembaca blog saya adalah yang usianya sekitar 20-30an, sehingga kata ganti semi kasual masih masuk (maksa 😛 ).

 

Nah, ternyata simpel ya, belajar bahasa!  Enggak perlu ribet, kok.  Selama kita niat untuk mengasah diri, semakin lama kita bisa semakin baik 🙂 🙂 .

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *