Follow:
Miscellanous

Bab 1: Arifin’s Eyes

 

Jalan Merdeka, Bogor, 15 Desember 2019

Terdengar suara tawa.

Lebih tepatnya, suara tawa gue.

Lebih rincinya, suara tawa gue yang retak karena terlalu lama membiarkan mulut terbuka lebar.  Langit-langit mulutnya kering begini sampai bercampur batuk.  Padahal gue enggak punya kotak tertawa.  Begini-begini juga gue nonton spons laut konyol yang tawanya itu nonstop sampai kiamat.  Selagi gue mati-matian mengontrol air yang mengalir melalui kedua mata, gue berusaha menekan perut untuk berhenti.  Gue ingin berhenti, tapi susah.  Kayaknya indra penciuman gue baru dibekap sama masker dinitrogen dioksida.  Itu lho, yang bisa bikin orang happy banget dan biasa dipakai untuk pasien yang punya gangguan kecemasan.

Gue selalu bingung. Bingung dengan diri gue sendiri. Apa ya, twisted?

Harusnya sih, gue enggak tertawa.  Seenggaknya, kalau orang lain, mereka enggak mungkin melakukannya dalam kondisi yang gue alami. Kadang itu yang membuat gue terlihat twisted, witty, dan enggak jelas banget.

“Arifin, lo tegar banget sih.”

“Kok bisa-bisanya lo sekolah di sini?  Padahal nyogok ke tempat lain yang lebih bergengsi juga bisa…”

“Lo enak posisinya, habis lulus kuliah bisa tinggal masuk ke perusahaan bokap lo. Enggak kerja juga enggak masalah kayaknya.”

Emang enak sih, jadi gue. Kalau ada yang menentang tinggal tembak mati, dor dor dor. Selesai. Enggak akan ada yang menyalahkan gue menyewa pembunuh bayaran untuk menembaki orang-orang tolol ini, toh gue bergelimang uang sejak masih di rahim.  Yang punya uang dan kekuasaan itu selalu benar.

Menjadi gue itu artinya bisa melakukan apa saja.  Mungkin itu alasannya semua orang selalu menganggap gue suka menggampangkan perkara. Ya, terserahlah.  Bisa-bisanya mereka mengira gue malaikat yang enggak punya problematika hidup!

Kalau gue malaikat, semua buku catatan amalan mereka gue bakar biar manusia sekeliling gue enggak punya bukti kalau mereka pernah berbuat baik. Menjebloskan para pendosa yang sudah rusak ke neraka itu ternyata mudah.

Enggak jauh dari gue, ada seseorang dengan rambut panjang, sangat panjang sehingga perlu digelung agar terlihat tidak seperti kuntilanak. Poninya dipotong dengan presisi yang cukup mengerikan  di atas alis mata yang melengkung tajam. Ia memakai gaun merah darah sebetis yang kontras dengan kulit pucatnya.  Kakinya yang jenjang dan panjang memakai kaos kaki tinggi berwarna hitam dengan sepatu maryjane mengilap berwarna serupa.  Dia hanya duduk di armchair bermaterial kulit coklat, menunggu enggak antusias hingga perilaku absurd gue berakhir.  Ia mengisap pelan pipa cangklong di bibirnya sejak tadi.

Meski sikapnya menyebalkan, gue selalu merasa nyaman.  Apa karena suasananya?  Kantor kecil ini mirip dengan flat-nya Sherlock Holmes yang pernah gue kunjungi semasa masih kuliah di Cambridge. Karpet Turki yang tampak mahal melapisi lantai, yang mungkin berasal dari abad pertengahan. Dua buah kursi tua dari kulit asli yang memiliki punggung tinggi tengah kami duduki.  Biru Langit biasanya duduk di sisi lain yang enggak terkena cahaya matahari, sementara gue di tempat sebaliknya. Terdapat dupa dengan wangi mencurigakan, satu set papan catur yang entah bagaimana bisa mirip dengan hadiah untuk sahabat gue, Richard, di ulangtahunnya yang ke-17, dan tatakan cangkir teh emas kemerahan ala Timur Tengah di meja kayu sebelah Biru.

Ada meja lain berbentuk bulat yang menjadi pembatas di antara kami berdua, dan gue selalu membiarkan diri senyaman mungkin.  Biasanya Biru mengajak gue main catur sambil memulai sesi terapi, tapi terkadang gue suka menaikkan kaki ke meja itu kalau gue lagi jenuh dan enggak ingin memikirkan langkah bidak berikutnya.  Di sisi kiri terdapat rak dinding kayu melayang dengan kumpulan boneka kecil seram.

Sementara di sisi kanan gue ada sebuah rak kayu tinggi yang isinya cukup aneh.  Jika Sherlock biasa menyimpan toples berisi otak di koleksinya, maka rak itu juga menyimpan keajaiban yang bakal bikin terheran-heran.  Gue merasa lagi tur di torture museum versi mini.  Ada vas bunga putih berlumuran darah, jam tangan yang ditempatkan di sarang burung terlalu besar, buku-buku uzur, telepon vintage dari zaman Campbell, dan kumpulan figura dengan foto-foto tua.  Jendela di belakang Biru memancarkan sinar yang menandakan bahwa sebentar lagi matahari terbenam.

Biru masih enggak pernah menatap mata gue, hanya terpaku pada jam saku di tangannya.  Jam itu terlihat sangat tua dengan warna perunggu mengilap.  Jam itu pas di genggamannya yang kecil, seolah tercipta memang untuknya.  Terdapat motif seperti lingkaran dengan simbol aneh yang tidak bisa gue deskripsikan dengan baik.  Itu seperti simbol dari mitologi dengan akar mencuat dari luar lingkaran itu.  Tatapannya sangat intens, sangat menghayati bunyi dan gerakan jarum yang konsisten dan pasti.

Jam sialan. Memang apa istimewanya jam itu dibanding curhatan gue?

Dan gue berhenti tertawa secara mendadak.

“Kenapa lo enggak ketawa?”  tuntut gue pada sosok itu.  “Pengalaman tadi tuh lucu banget.  Gue malah ditawarin walk in interview jadi office boy pas gue baru aja selesai mampir ketemu investor.  Tahu aja dia bisnis gue hampir hancur. Apa muka gue kayak anjing lagi sedih dengan ekor nyelip habis dimarahin majikan? Nasib tuh tahu aja gue butuh duit. Tapi sampai gue jadi fosil juga enggak akan sanggup ngelunasin utang kalau sambi dengan kerjaan model gitu.  Mati aja apa, ya?  Biar gue dapat asuransi.” Ada sesuatu yang berat ketika gue mencoba melepas karbondioksida di paru-paru. Dia masih enggak menatap gue.

Gue mulai membenci arah percakapan ini. Dikira gue ini televisi, dibiarkan ngebacot sendirian dari lima belas menit yang lalu di kantor mengerikan ini biar suasana enggak sepi?  “Gini ya, kalau lo merasa waktu liburnya terganggu karena gue datang enggak bikin janji, gue akan bayar berapa pun kompensasinya.  Sekalipun gue udah menuju pailit. Sebut aja berapa.”

“Apa kamu sadar kalau kamu sedang mencoba melakukan penyuapan?” Suara alto Biru Langit membalas.  Namun dia masih enggak memandang gue. “Tidak heran ini akan selalu jadi masalah klasik orang kaya di novel dan drama. Kamu menggambarkan ciri-ciri mereka dengan sangat tepat.”

Thanks.  Makasih pujiannya,” gue mendengus.  “Sebetulnya lo mau ngomongin apa, sih? Lo sadar enggak sih, sejak gue masuk ruangan ini, mood gue lebih kotor dari air kobokan?”

“Selama ini uang yang kamu berikan untuk konsultasi tidak pernah kupakai,” Biru menjawab, kemudian berdiri. Matanya yang berwarna safir masih menunduk ketika ia berjalan mendekati sebuah laci kayu jati berdebu. Sebuah buku pipih dikeluarkan dari sana.  Lalu, untuk pertama kalinya, kedua safir itu bersirobok dengan pandangan gue.

“Kukembalikan lagi.  Silakan. Bisa berguna untuk mengembalikan modal meski tidak terlalu banyak.”

Apa-apaan ini? Gue mengambil buku itu dan melihat sejumlah nominal yang cukup banyak, mencapai tujuh digit.  Astaga. Jadi sudah sebanyak itu uang yang gue keluarkan untuk melakukan terapi?

“Kita sudah kenal sejak lama, tapi kamu memang selalu seperti ini,” Biru menepuk-nepuk pipi seolah sedang gemas dengan anak kecil yang melakukan tindakan bodoh.  Alih-alih tangan, yang terasa di kulit gue serupa dengan ranting kayu menampar-nampar akibat  embusan angin. Biasanya kalau sudah begini selalu gue tepis.  Dan itu memang yang gue lakukan.   “Mungkin itu juga alasannya Kaluna capek menghadapimu.”

Mendengar nama itu membuat gue mengernyit. “Apa maksud lo, hah?”

“Melihat dari cara kamu menyelesaikan sesuatu, aku yakin dia mengalami kelelahan yang cukup panjang.  Mungkin itu juga alasannya dia meninggalkan kamar yang kusewakan padanya,” Biru menyahut, kemudian kembali duduk di kursinya.

“Dia enggak ada di sini?” Refleks, mulut gue bergumam.

“Bukankah itu alasannya kamu mendatangiku?  Kamu sebetulnya ingin bertemu Kaluna, kan?” tanya Biru.

Gue selalu benci ketika Biru mencoba menebak-nebak isi pikiran gue.  Mungkin  karena ia selalu tepat sasaran, gue tetap mempercayakan jasa konsultasi yang seperti lingkaran setan ini terus berlanjut.

“Lo terapis paling mengerikan yang pernah gue kenal.”

“Aku suka klien sepertimu,” Biru melebarkan bibirnya yang berwarna merah.  Entah mengapa gue mendadak merasakan bayangan gelap menari-nari di belakang punggungnya. “Tidak butuh kemampuan apa pun ketika insting hewanmu terasah dengan baik.  Melihatmu meracau bahwa hidupmu sekarang terbebas dari segalanya sampai mendadak beli tiket supaya bisa melarikan diri  kembali ke London dengan wajah terlalu gembira padahal tidak mabuk… kamu selalu begini.  Apa ini juga yang membuat Kaluna meninggalkanmu setelah tahu kegilaan yang ada dalam otakmu itu?”

Gue mendesah. “Kadang gue bingung kenapa gue tetap ngehubungin lo.  Nyadar enggak sih, tiap kali terapi lo selalu ngebikin gue ngerasa lagi diinterogasi di Iron maiden?  Enggak heran gue enggak sembuh-sembuh!”

“Kamu pikir aku berminat untuk menyembuhkanmu?” Biru mengangkat alisnya, kentara sekali pura-pura heran. “Aku hanya memandangmu sebagai klien, bukan pasien.  Lagipula, bukankah kamu memang seperti itu? Selalu bingung mengapa orangtuamu pilih kasih, bingung melihat mantan pacar lebih memilih kembaran identikmu yang brengsek, bingung mengapa kamu datang ke sini sewaktu-waktu bahkan saat harusnya semua orang terlelap, bingung mengapa Kaluna meninggalkanmu?”

“Kamu tidak pernah keluar dari labirin kebingunganmu itu sejak dulu.  Sekarang kamu tidak bisa menyalahkanku karena tidak bisa menyembuhkan kebodohanmu itu.  Uangnya sudah kukembalikan dengan jaminan garansi 100%.  Akan kucetak juga bukti pembayaranmu selama ini supaya kamu tidak bisa menuntutku kelak di pengadilan.  Kalau memang bingung ya sudah, mati saja sana.  Mungkin jauh lebih berguna untuk perusahaanmu.”

Kalau itu orang lain, gue yakin mereka sudah tersinggung dengan omongan jahat yang sudah diucapkan Biru.  Tapi gue bukan orang lain.  Gue ya gue.  Dan selalu seperti ini.  Meski gue enggak suka dinasehati orang, gue selalu datang ke sini ketika gue ingin dilukai, secara sadar dan enggak sadar. Dan Biru tahu bahwa gue orang yang suka mengais-ngais rasa sakit.

Pantas saja gue klop dengan dirinya sejak Richard mengenalkan Biru ke gue.  Astaga.

“Jadi lo mau nyalahin gue karena enggak bisa sembuh?”

“Siapa lagi yang bisa kusalahkan?”  Biru mengambil cangkir tehnya yang sudah dingin.  Sejak awal gue melakukan terapi, ia jarang menyuguhkannya untuk gue.  Selalu begitu. Memang keparat. “Kalau saja kamu tidak terlalu manja, aku sudah bersenang-senang dengan uangmu itu, entah ke Afghanistan atau bertualang ke Bermuda. Tapi aku mengenal orang sepertimu dengan sangat baik.  Karena itulah kukumpulkan semua biaya yang kamu keluarkan supaya suatu saat nanti bisa kukembalikan penuh kejayaan.  Nah, terimalah, dan tidak perlu datang lagi kalau menganggap bantuanku selama ini tidak berguna.”

Gue melempar buku pipih itu ke lantai.  “Iya.  Semua salah gue.  Kalau gue enggak ada, semua bakal berbahagia. Selesai perkara.”

“Kamu yakin?”  tanya Biru.  “Bagaimana kalau Kaluna tidak menganggapmu seperti itu?”

“Lo dari tadi mau nyari ribut apa gimana, sih?” Gue menyugar rambut kesal, yang, bodoh amatlah, enggak gue tata kayak biasanya.  Biar saja kusut begini. Sudah bagus gue enggak menjambak sanggul sialannya itu.

“Arifin, tidakkah kamu selalu menyadari bahwa kesimpulanmu selalu seperti itu?” Biru menaruh kembali cangkirnya, lalu mencondongkan tubuh dengan menyilangkan kedua kaki.  Kedua tangan tepat di atas tumpuan lutut kiri. “Kamu selalu menyimpulkan sesuatu tanpa memikirkan orang lain.  Jadi kamu akan berujung pada menyalahkan diri sendiri, yang membuat kamu selalu menutup mata dari segala sudut pandang. Mereka tidak akan pernah bisa tahu dan melakukan apa pun padamu selama kamu selalu mendorong mereka dari kehidupanmu, yang kamu anggap sebagai aksi pahlawan karena kamu sumber masalahnya.  Kamu hanya menyakiti diri sendiri, seperti biasa.  Itu yang membuat kamu selalu melarikan diri dari kenyataan.”

“Terus gue harus gimana, hah?!”  Gue setengah berteriak. Kesal.  Bagaimana caranya gue bisa keluar dari labirin kebingungan kalau ternyata malah orang lain yang menyakiti duluan?

“Mengapa kamu mencari Kaluna?”

“Gue ke sini bukan untuk dia.”

Biru bergeming.  Ia kembali bertanya dengan nada dingin. “Mengapa… kamu mencari Kaluna?”

Apa benar gue datang ke sini untuk mencari Angya?

“Kamu tidak akan bisa sembuh selama kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan.  Ingat itu, Arifin.”

Apa yang gue inginkan?

Memangnya apa yang bisa gue lakukan setelah apa yang terjadi?

Gue kehilangan semuanya. Sejak tersandung kasus kebocoran data, gue selalu dicari dan disorot media.  Mereka dengan mudahnya menggoreskan luka seolah gue yang enggak becus menangani perusahaan. Padahal gue masih ingat betapa mereka mengeluk-elukan ketika gue, sebagai salah satu anggota keluarga Soemadiredja, bisa sukses membuat bisnis di luar konglomerasi media milik keluarga gue.  Startup yang masih hangat.  Muda. Penuh potensi, mengingat cuma gue yang bisa segila itu punya ide gemilang, berani menjual dan menggadai semua harta yang gue punya untuk bisa keluar dari lingkaran setan. Ya, keluarga gue adalah setannya.

Kalau seandainya ada permainan di belakang gue yang dilakukan orang sekitar, gue enggak heran. Seenggaknya cita-cita mereka jadi kenyataan.  Nilai saham merosot tajam, investor berulang kali meneror, netizen menghujat gue.   Richard sampai memutuskan untuk menyita segala peralatan elektronik milik gue.  Ia sepertinya menganggap tindakan itu heroik  supaya gue enggak banyak pikiran.  Justru enggak menghasilkan apa-apa.  Gue tetap memikirkan semuanya sampai sakit kepala.

Enggak ada yang menyokong gue menghadapi segalanya. Tapi gue memang enggak butuh. Startup ini didirikan enam tahun lalu karena alasan sentimental yang enggak akan dimengerti orang lain. Gue harus bisa menyelamatkan bisnis ini dengan cara apa pun. Jadi memang enggak ada lagi yang bisa menyelamatkan bisnis ini selain gue.

Enggak ada.

…ada?

Kelebat yang hadir di pelupuk mata membuat indra penglihatan gue mendadak nyeri.  Hitam.  Siluet itu masih enggak berhenti membayangi setiap gue menggeleng, mengerutkan dahi, meneleng kepala untuk mengenyahkan sakit di sekitar area mata.  Ah.  Mengapa harus sekarang?

Biru mengambil jam saku itu di antara kantung gaunnya yang lebar, mengedipkan mata beberapa kali seolah menyamakan tempo dengan jarum detik, lalu menutupnya lagi.  Sudah berapa lama gue di sini, ya?  Dua puluh… tiga puluh menit?  Bahkan ini bukan waktu yang biasa untuk kunjungan.  Hanya sesekali saja gue melanggar aturan setiap Kamis malam setelah Maghrib yang sudah kami sepakati sebelumnya.

Gue pernah datang ke rumah-kantor Biru setelah berbaring berjam-jam di ranjang dengan mata nyalang di malam hari. Sekali waktu, gue datang pagi-pagi buta sebelum kabut subuh menghilang di suatu musim hujan. Kali ini, gue enggak sadar sudah menyetir sampai ke Bogor.    Tahu-tahu saja gue mendapati diri memarkirkan mobil di tempat biasa dan mampir kemari.

Apa karena ini gue selalu enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gue?  Apa karena gue selalu kesulitan memproses segalanya hingga apa yang gue pikirkan dan gue lakukan selalu enggak pernah sejalan?

Sosok di pelupuk mata gue masih belum hilang.  Masih di sana.  Ibarat kata hantu, bayang bayangnya tepat berada di belakang Biru kali ini.  Siluet itu memiliki bentuk yang samar, tetapi justru sangat terlihat jelas karena gue tahu siapa siluet itu.

“Apa gue emang semenyedihkan itu, ya?” Gue masih belum bisa melepas kerlingan dari sosok di belakang Biru. “Gue terbiasa enggak berharap dan enggak ingin apa-apa. Kalau memang besok mati, ya udah. Kalau besok masih dikasih napas, mau enggak mau ya mencoba bertahan.  Seandainya Richie enggak muncul waktu itu, bisnis ini enggak akan jalan.  Enggak akan hancur juga kayak sekarang. Kalau memang gue harus memiliki cita-cita, gue hanya ingin gue enggak pernah ada.  Mungkin itu yang terbaik buat gue dan semua orang.  Termasuk Angya.”

Lama kelamaan, muncul bayangan yang seperti disobek-sobek jadi serpihan.  Warna di kulit, rambut, dan pakaiannya semakin terang.  Netra ini secara kurang ajar mengimajinasikan ukiran senyumnya yang merekah, membuat ulu hati berdenyut-denyut.

“Apa memang Angya akan sedih seandainya gue enggak pernah ada?  Gue kadang membayangkan itu.  Kalau gue enggak pernah ketemu dia, it never hurts like hell. Buat apa kami ditakdirkan bertemu lagi kalau hanya untuk kembali menyakiti satu sama lain?”

Biru menyandarkan punggungnya di kursi, bertopang dagu.  “Kamu ini memang lamban ya, kalau untuk urusan seperti ini?  Apa ini karena dia satu-satunya orang yang kamu cintai selama ini, jadi kamu sulit untuk lepas dari sosok Angyalkaluna?”

Bisa gue rasakan telinga yang mendadak terasa hangat dengan pernyataannya.  “Cinta apanya?  Gue, sama dia? Not even in my wildest dream!

Biru bangkit dari duduknya, mendekat ke arah gue.  Sebelum gue bisa menghindar, ia sudah memegang cuping telinga gue kuat-kuat sampai mulut gue otomatis mengaduh.  Biru berbisik pelan, “Kalau aku bilang kamu mencintai Kaluna, maka kamu memang mencintainya.  Kalau aku bilang kamu mencari Kaluna, kamu memang mencarinya. Paham?”

Gerakan peristaltik di tenggorokan gue otomatis tercipta.

“Nah, karena aku tidak suka berbelit-belit seperti kamu, kusampaikan saja langsung poin pertemuan kita di hari liburku ini,” Biru, masih berdiri, kini menyedekapkan kedua tangannya di dada.  “Di masa-masa beratmu, siapa sesungguhnya yang selalu ada untukmu?  Siapa yang menyadarkanmu terhadap posisi yang kamu jalani hingga akhirnya kamu memahami arti dari sebuah jerih payah?  Siapa yang memberimu ide hingga kamu bisa membentuk bisnis yang kamu jalankan sekarang? Siapa… yang membuat kamu sampai datang kemari?”

Bayangan di belakang kursi yang tadinya ditempati Biru mendadak menghilang, seperti debu yang berpencar ke segala penjuru dalam hitungan sangat cepat.  Seolah debu itu merasuk saat terhirup, bayangan itu masuk ke dalam kepala gue.  Merengkuh gue dalam kehangatan yang familiar.  Di saat yang sama, seperti ada yang menjepit kedua paru-paru hingga rasanya sangat ketat dan menyakitkan.

“Apa sesungguhnya yang kamu inginkan, Arifin?” Biru kembali mengulangi pertanyaannya.  “Hanya kamu yang bisa menjawabnya.  Hanya kamu yang tahu hal tepat untuk bisa merasa lebih baik di kondisimu yang sekarang.”

I just don’t want to feel bad anymore.” Kalau dahi gue adalah kertas, pasti sudah kusut gue remas sampai jadi gumpalan.  “But I always think that my death worth a lot than my life. Gue enggak punya apa-apa.  Jadi gue enggak paham kenapa sampai tetap ada yang bertahan demi gue.  Apa gue emang berharga?  She said… she said that loving me so much really hurts. She supposed to stay if she loves me that much! Tapi kenapa Angya meninggalkan gue selagi gue dalam kondisi begini?  Dan kalau memang apa yang lo bilang itu sebuah kebenaran, bahwa gue memang ke sini karena gue membutuhkan Angya, ke mana gue perlu mencari?  Gimana kalau dia justru enggak mau ditemui?  Gimana kalau–”

“Tutup mulutmu yang bodoh itu dan dengarkan aku,” kini jari jempol dan telunjuknya mencubit kedua bibir gue dan menariknya pelan-pelan. Aduh!  Sudah gila, ya!  “Kamu menganggap dirimu itu sampah, dan memang itulah kamu yang sebenarnya.  Tapi aku suka sampah sepertimu. Rengekanmu itu sudah cukup untuk membuatku merasakan debaran kencang yang sudah lama tidak aku rasakan setelah melihatmu tersakiti lagi, lagi, lagi, dan lagi.  Ah, begitu menyenangkan melihatmu tersiksa begini! Jangan berhenti. Itu sesuatu yang berharga untukku.”

 Wanita dan terapis macam apa ini?!  Mengapa rasanya gue seperti sedang berusaha meloloskan diri dari mulut singa malah masuk ke mulut ular piton? Gue berusaha mundur dan menggapai-gapai benda apa pun itu di sekitar gue untuk menghantam tengkoraknya.  Sia-sia.  Biru semakin mendekatkan wajahnya hingga bisa gue cium napasnya yang beraroma bergamot, membuat gue memejamkan mata erat-erat. “Kaluna meninggalkanmu bukan karena dia membencimu.  Dia tahu apa yang diinginkannya, itu alasan ia meninggalkanmu.  Seperti itulah caranya Kaluna menyampaikan maksudnya padamu. Sekarang, apa yang sebetulnya kamu inginkan?”

Gue menampik tangan kurus Biru, menggosok bekas pegangannya yang sudah kemerahan.  Ugh, rasanya kayak habis diraba-raba tidak senonoh sama mayat hidup!   “Gue enggak kayak lo.  Lo barbar!  Mungkin kalau dunia kiamat, lo bisa tahu caranya bertahan hidup.   Mungkin lo akan jadi kanibal.  Gue beda sama lo, gue bakal membiarkan kiamat tetap datang!  Tapi gue bisa berfungsi selama ada orang lain.  Selama ada seseorang yang memang akan bertahan untuk gue… mungkin gue akan baik-baik aja.”

“Aku menyukaimu, tapi otak lemahmu itu terkadang membuatku ingin berhenti,” Biru memutar mata, lalu kembali duduk di kursinya.  “Aku lebih suka klien yang tidak idiot.”

Sialan. Punya satu psikoterapis macam ini justru bikin gue makin gila.

I don’t know where she is. Gimana kalau gue diblok setelah apa yang terjadi?”

Biru mengedikkan kepalanya.  “Apa itu keinginanmu?  Apa kamu ingin agar bisa bertemu lagi dengan Kaluna?”

Gue berbalik menatapnya nanar.  “Apa gue bisa bersatu dengan Angya lagi?”

“Apa pun bisa terjadi selama keinginanmu itu memang kuat,”  ujarnya.  “Selama ada pengorbanan darimu sendiri, hal itu bisa terwujud.”

“Harga diri gue udah luluh lantak terjun ke palung. Segala kepingan yang tersisa bakal gue gadai demi bisa menyelamatkan apa yang penting buat gue.”

“Yah, harga dirimu adalah sebuah pengorbanan yang bisa kita gunakan, bukan? Sejak saat ini, kamu harus memprosesnya sendiri,” kata Biru.  “Aku sudah memberimu beberapa petunjuk.  Temui Kaluna.  Dia adalah satu-satunya yang memiliki jawaban atas pertanyaanmu itu.”

Share:
Previous Post

No Comments

Leave a Reply