Beautilogy Beauty

AHA, BHA, PHA, Apa Persamaan dan Perbedaannya?

Cukup banyak yang DM saya terkait AHA, BHA, PHA Some By Mi 30 Days Miracle by Somi yang saat ini sedang ngetren banget.  Judulnya udah cukup kontroversial soalnya, hehe, dan lagi klaimnya menyatakan bahwa ini  exfoliator. 

Well, buat saya sendiri klaim ini enggak sepenuhnya salah, tapi enggak sepenuhnya benar, sih. 

Dari DM itu, rata-rata mereka menanyakan apa sebetulnya fungsi dari AHA, BHA, PHA itu sendiri dari toner yang katanya “magic” dan “miracle.”  Buat saya sendiri, produk itu lebih cocok disebut sebagai pH adjusting toner.  

Kok bisa, sih?

Seperti biasa, untuk mengetahuinya, saya buat sejumlah poin-poin yang disusun sebagai daftar isi. Agar lebih mudah, kamu bisa mengklik poin saya sesuai yang ingin dibaca saja, jadi enggak perlu baca semua, kok! 

  AHA, BHA, PHA = Chemical Peeling 

Nah, sebelumnya tentu perlu tahu dulu, dong, apa itu AHA, BHA, PHA. Bagi yang sudah cukup akrab dengan exfoliator, tentunya kamu tahu bahwa fungsi utama AHA, BHA, dan PHA adalah sebagai chemical peeling.  Maksudnya chemical peeling apa, sih? 

Jadi, sesungguhnya kulit kita itu selalu regenerasi setiap 28 hari sekali.  Nah, ketika regenerasi terjadi, maka tentunya akan ada sel-sel kulit mati yang menumpuk di lapisan epidermis.  Jika sel-sel kulit mati ini tidak dibersihkan, akibatnya adalah:

  1. Kulit kusam 
  2. Pori-pori tersumbat, dan bisa menyebabkan jerawat 

Maka dari itu, kita harus rajin membersihkan wajah secara rutin. Cara paling gampang adalah dengan menggunakan scrub, yang kita kenal sebagai physical peeling.  Kenapa disebut physical, sih?  Ini karena bentuk dari pengelupasan sel-sel kulit mati itu menggunakan butiran-butiran kecil (alat bantu) yang kita gosok ke wajah. Physical exfoliator biasanya dikenali dari alat bantunya yang agak berpasir. 

Sementara chemical peeling itu adalah cara pengelupasan sel kulit mati menggunakan bahan yang bersifat enzimatik. Contohnya kayak apa?  Yang saat ini lagi ngetren banget itu, lho, AHA, BHA, PHA!

Apa itu AHA?

cosrx review

 

Di posting sebelumnya, Mengenal pH Kulit, AHA, BHA, dan Vitamin C, saya pernah membahas mengenai AHA.  AHA adalah alpha hydroxy acid, yaitu senyawa asam lemah yang bisa digunakan untuk eksfoliasi, dalam hal ini adalah chemical peeling. 

Sudah berabad-abad manusia menggunakan wine yang sudah berumur, susu masam (yogurt), dll. untuk dijadikan sebagai cara untuk memperbaiki kulit, entah itu diaplikasikan ke kulit atau diminum.  Namun baru tahun 1970-an istilah AHA kemudian dikenal. 

Sebetulnya AHA, BHA, dan PHA merupakan sekumpulan carboxylic acids atau komponen organik yang mengandung atom C (karbon) yang terikat dengan atom O (oksigen) secara ganda, dan satu ikatan dengan OH. Maka jika ditulis struktur kimianya akan membentuk COOH.  

Disebut alpha karena hydroxyl (OH) berada di posisi yang alpha dari atom karbon. 

Bedanya AHA dan BHA terletak pada posisinya.  Jika AHA berada di posisi alpha, maka BHA berada di posisi beta. Nah, diketahui bahwa AHA itu tidak terdiri dari satu senyawa saja, bahkan ternyata ada juga jenis senyawa AHA yang bisa dikategorikan sebagai senyawa BHA.  Kenapa bisa terjadi?  Ini bisa terjadi jika ikatan senyawa AHA itu memiliki lebih dari satu hydroxyl atau carboxyl. 

AHAAsal Usul
Glycolic acidTebu
Citric acid (termasuk BHA)Jeruk dan lemon
Lactic acidSusu masam, tomat
Mandelic acidAlmond
Tartaric acid (termasuk BHA)Anggur
Benzilic acid?

Dalton Rule

Jika ada yang pernah mendengar Dalton Rule, maka tentunya kamu akan tahu bahwa ada alasan di balik kenapa AHA bisa disebut sebagai exfoliator yang bikin iritasi, atau cekit-cekit.  Salah satu alasannya adalah karena massa molekulnya yang relatif kecil, dan itu bisa mempengaruhi terhadap seberapa cepat senyawa itu penetrasi ke kulit. 

Untuk setiap jenis AHA, masing-masing memiliki massa molekul yang berbeda.  Ukuran masing-masing molekul berpengaruh.  Misalkan saja, glycolic acid memiliki ukuran molekul terkecil dibanding jenis-jenis AHA yang lain.  Ini yang membuat glycolic acid bisa lebih cepat penetrasi ke kulit, memberikan hasil glowing, jarang komedoan whitehead) dan menghilangkan noda jerawat; namun disertai efek cekit cekit dan iritasi bagi yang sensitif terhadap glycolic acid. 

Nah, berdasarkan bagan ini, maka saya mengurutkan mulai dari gugusan molekul terkecil sampai terbesar (mulai dari yang memiliki kemungkinan iritasi lebih besar hingga yang tidak terlalu rentan): 

AHAMassa Molekul
Glycolic acid76
Lactic acid90
Citric acid192
Tartaric acid150
Mandelic acid152
Benzilic acid228

Nah, Dalton Rule itu sendiri sebetulnya merupakan suatu rule untuk melihat sejauh mana suatu senyawa bisa penetrasi ke kulit.  Semakin besar massa suatu molekul, maka kemungkinan untuk bisa penetrasi ke stratum corneum (lapisan teratas epidermis) semakin kecil.  Ini juga berlaku sebaliknya.  

Aturannya sendiri adalah dengan melihat jika massa molekul lebih kecil dari 500, maka kemungkinan bisa penetrasi ke kulit semakin besar.  Jika kita lihat dari tabel di atas, maka semua jenis AHA bisa melakukan penetrasi ke kulit sampai lapisan stratrum corneum.  

Inilah yang membuat AHA bisa menjadi senyawa yang berguna untuk melakukan eksfoliasi. 

Penyebab AHA Bikin Kulit Iritasi

Penyebab AHA bikin iritasi di kulit itu sebetulnya bermacam-macam.  

Dalton Rule di atas sebetulnya hanyalah sample untuk menentukan apakah suatu senyawa bisa penetrasi ke kulit, namun tidak menentukan seberapa cepat akan bereaksi ketika senyawa tersebut diaplikasikan ke kulit. So, Dalton Rule itu hanya pijakan dasar untuk mengetahui tentang hal yang akan saya bahas selanjutnya di sini 😀

Baca Juga:  Daftar pH Sabun Cuci Muka Merek Lokal dan Drugstore di Indonesia

Di antara semua jenis AHA yang ada, dua yang paling terkenal adalah glycolic acid dan lactic acid.  Formulasi yang mengandung keduanya tanpa melalui proses netralisasi bisa menyebabkan sensasi menyengat, cekit-cekit, bahkan iritasi ketika diaplikasikan ke kulit sensitif atau atopik. 

Efek samping ini bisa terjadi karena dua hal: 

  1. pH yang lebih rendah dan kecepatan penetrasi AHA 
  2. Properti turunan AHA 
  3. Senyawa alkali yang digunakan untuk netralisasi 

Pada umumnya untuk produk-produk komersial, akan ada satu hal yang dinamakan dengan netralisasi.  Proses ini terjadi untuk menaikkan pH hingga bisa ditoleransi oleh kulit kita.  Diketahui bahwa pH kulit manusia berada di kisaran 4.2-5.6, maka tentunya kita perlu membuat produk itu bisa diterima oleh kulit. 

Glycolic acid biasanya dicampurkan dengan ammonium hydroxide atau sodium hydroxide untuk menaikkan pH dari 3.5 menjadi 4.5. pH sesungguhnya tidak memiliki relasi dengan iritasi kulit.  Kecepatan penetrasi dan  properti turunan dari glycolic acid dan ammonium hydroxide yang membuat kulit kita merasakan sensasi demikian. 

Kalau memang glycolic acid dan lactic acid ini bikin kulit iritasi, ada enggak sih, sebetulnya, cara supaya bisa mempelambat proses penetrasi AHA ke kulit?

Ada.   Dalam ilmu kimia, ini dinamakan dengan amfoterisme. Dibutuhkan formulasi tertentu agar bisa mengurangi, hingga mengeliminasi iritasi pada kulit sensitif atau kulit atopik. Substansi amfoterik harus bisa menjadi asam dan basa, dan bentuknya bisa berupa senyawa organik atau senyawa inorganik. 

Contohnya adalah senyawa amina (derivatif amoniaknya disebut amino), yang merupakan senyawa basa. Kini senyawa amina banyak digunakan untuk menggantikan peran ammonium hydroxide, yaitu: 

  1. Glycine

  2. Glutamine 

  3. Lysine

  4. Arginine 

  5. Histidine

  6. Tryptophan 

  7. Ornithine 

  8. Citrulline 

Jadi dari ngalor ngidul  rasa jurnal ini sebetulnya kesimpulannya apa, sih Mi, sejauh ini?

  1. AHA terdiri dari beberapa jenis
  2. Molekul tiap jenis AHA berbeda-beda.  Karena semua jenis AHA massa molekulnya berada di bawah 500, maka semua jenis AHA bisa penetrasi ke kulit namun dengan kecepatan yang berbeda beda
  3. Alasan mengapa sensasi menyengat dan iritasi kulit bisa terjadi bergantung pada kecepatan penetrasi AHA dan pengaruh properti turunan dari proses netralisasi  
  4. Jika kamu ingin mencoba AHA yang cukup ramah  (untuk kulit normal), maka kamu perlu mencari produk yang mengandung  senyawa amina dan AHA.  Contoh produk yang mengandung senyawa amina dan AHA adalah The Ordinary Glycolic Acid 7% Peeling Solution 

Reaksi AHA Terhadap Kulit

Efek topikal formulasi produk yang mengandung AHA bergantung pada dua faktor: 

  • Konsentrasi bioavailable AHA
  • Cara yang digunakan saat mengaplikasikan AHA 

Dalam farmakologi, bioavabilitas merupakan persentase dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat yang mencapai / tersedia dalam sirkulasi sistemik tubuh.  Ini juga ternyata berlaku dengan seberapa cepat produk mengandung AHA bisa penetrasi ke kulit. 

Namun kalau di sini, istilah bioavabilitas adalah untuk mengetahui potensi dari bentuk free acid dibagi dengan total molekul AHA dalam formulasi AHA. Bioavabilitas bisa dipengaruhi oleh pH. 

Nah, ngomongin soal pH, saya sudah pernah bahas sebelumnya di postingan sebelumnya, yaitu  review The Ordinary Lactic Acid 5% + HA 2%

Apalagi ini, Mi, cara bacanya nyusahin, wk. 

Intinya sih saya lagi mau memperkenalkan pH dan pKa terlebih dulu, wkwk. 

Asam adalah zat yang jika dilarutkan ke dalam air akan lebih banyak menghasilkan ion H+.

Sementara basa adalah zat yang jika dilarutkan ke dalam air akan lebih banyak menghasilkan OH.

Ini adalah teori menurut Arrhenius; dan untuk ini mari kita abaikan dulu kelemahan teorinya (saya yakin anak teknik kimia dan kimia lebih ngerti!).

Nah, di dalam ilmu kimia, terdapat suatu konstanta keasaman dalam larutan berair yang dinamakan pKa.   pKa adalah suatu konstanta yang bisa memberitahu kita seberapa banyak asam dan basa konjugasi dalam larutan berair.

pH sendiri adalah suatu pengukuran yang bisa memberitahu kita apakah kadar dari suatu zat itu memiliki tingkat asam, netral, atau alkalin.  Semakin banyak ion H+ , maka pH suatu zat semakin asam.

Untuk mengetahui apakah zat AHA bernama lactic acid ini bisa melakukan peeling dengan baik, maka kita perlu tahu berapa pH lactic acid di suatu produk.  Kita sudah tahu bahwa pKa lactic acid = 3.86.  

Jadi, kira-kira The Ordinary Lactic Acid itu sebetulnya berapa kisaran pH-nya ya, apa sama dengan pKa?  Biar lebih afdol, coba deh simak review saya di blog wkwk (sekalian promosi boleh dong 😀 )

Sebetulnya kesimpulannya apa?

Kalau kita pakai contoh The Ordinary Lactic Acid, maka kesimpulannya ini adalah mild exfoliator.  Jika pH < pKa, maka tentunya bisa lebih efektif ke kulit, tapi risiko iritasinya menjadi semakin besar.  Sementara jika pH > pKa, maka ada kemungkinan fungsinya jadi semakin berkurang, meski tetap bisa menjadi exfoliator namun belum tentu secepat hasil dari produk yang memiliki pH yang kurang dari atau sama dengan pKa. 

Maksud pH Dependent

Kalau kamu sudah cukup akrab dengan AHA, BHA, dan PHA, pastinya tahu dong, istilah pH dependent.  Itu tuh apa lagi sih? 

Karena AHA merupakan senyawa asam lemah, keefektifannya menyerap ke kulit bergantung pada banyak hal.  Di sinilah bioavabilitas berperan penting.  

Sebetulnya cara baca tabel berikut mirip sama cara baca tabel jenis-jenis AHA lain, tapi saya bakal pakai contoh glycolic acid dulu. 

 

Misalkan ada produk brand A yang mengandung glycolic acid dengan pH 3.2, konsentrasi 5%.  Lalu ada produk brand B yang mengandung glycolic acid dengan pH 4.0, dengan konsentrasi 10%. 

Baca Juga:  Apa Bedanya Purging dan Break Out? Apa Kaitannya dengan AHA, BHA, Vitamin C?

Mana yang lebih manjur? 

Ternyata baik brand A dan brand B berada di kisaran bioavabilitas 4.0 (dan 4.1).  Keefektifan produk berada di kisaran 4%. Ketika AHA belum melalui proses netralisasi, maka bioavabilitasnya ada di kisaran 1.0. Namun jika sudah melalui proses netralisasi, maka bioavabilitas produk = konsentrasinya. Jadi meski di brand B ditulis bahwa konsentrasinya 10%, kemanjurannya saat kita gunakan di kulit itu sebetulnya hanya 4% saja. 

Ini artinya apa? 

Ternyata semakin konsentrasi lebih tinggi, maka produk mengandung AHA itu tidak selalu jauh lebih manjur.  Semua tergantung dengan pH. Ketika pH semakin rendah, maka AHA bisa bekerja lebih optimal.  Inilah yang saya sebut sebagai pH dependent. 

Jadi produk yang mengandung AHA, BHA, dan PHA sekaligus itu tidak akan bekerja seoptimal ketika produk AHA, BHA, dan PHA dipakai secara terpisah. Some By Mi yang lagi ngetren itu hanya berfungsi sebagai pH adjuster (untuk membantu menyeimbangkan pH kulit), cocok dipakai sebelum exfoliator dan atau hydrating skincare. 

Namun keuntungan dari produk brand B tentu saja ada.  Meski produk yang bekerja di kulit hanya di kisaran 4%, tetapi bagi pemula, produk ini akan terasa cukup mild karena tidak terlalu menyengat di kulit dan mengurangi risiko iritasi, dan memungkinkan terjadinya dua kali fase peresapan AHA ke dalam kulit jika pada saat netralisasi menggunakan basa lemah. 

Saya kasih contoh nyata secara teori, ya. 

Misal, mari kita bandingkan The Ordinary Lactic Acid 10% + HA 2%, Paula’s Choice Skin Perfecting 8% AHA Lotion, dan COSRX AHA 7 Whitehead Power Liquid. 

Mana yang lebih manjur?

The Ordinary berada di kisaran pH 3.6 – 3.9, sementara Paula’s Choice di kisaran pH 3.5 – 3.9. COSRX berada di kisaran pH 4. Keefektifan COSRX mendekati Paula’s Choice, namun jika dibandingkan dengan The Ordinary, maka The Ordinary paling unggul di antara semuanya.  Ini karena bioavabilitasnya mencapai 5%, diikuti oleh Paula’s Choice 3.7%, dan COSRX di kisaran 3.2%. 

Namun apakah pada kenyataannya memang demikian?

Semua tetap tergantung dengan jenis bahan-bahan lainnya yang diformulasikan bersama dengan AHA, kondisi pH kulit masing-masing, dan lain-lain.  Jadi saya tidak bisa bilang bahwa ada yang terbaik di antara tiga brand tersebut.  Namun ini memang menjadi cara termudah untuk bisa memilih produk yang sesuai budget dan keefektifan yang diinginkan oleh masing-masing orang. 

 

Apa Itu PHA?

Simpelnya, PHA adalah “adik” dari AHA. 

Ini karena fungsinya sama dengan AHA, hanya saja sifatnya jauh lebih gentle. 

Memangnya PHA sendiri apa, sih?

PHA adalah polyhydroxy acid, memiliki dua atau lebih hydroxy di dalam ikatan molekul.  Contoh dari PHA yang komersial adalah gluconolactone, tetapi lactobionic acid pun terkadang dianggap masuk golongan PHA. 

Namun saya sendiri lebih suka membedakan antara PHA dengan ABA.  Nah lho, ABA itu apa lagi?  ABA adalah aldobionic acid; dengan kata lain sebetulnya memiliki dua atau lebih hydroxy di dalam ikatan molekulnya.  Inilah alasan mengapa ABA juga dianggap sebagai PHA.  

ABA juga bisa dideskripsikan sebagai formulasi teroksidasi dari disakarida atau karbohidrat dimerik.  Gampangnya, lactobionic acid itu terbentuk dari gula, berasal dari laktosa.  Ada juga maltobionic acid yang berasal dari maltosa. Jadi ABA adalah jenis exfoliator yang terbentuk oleh molekul gula. 

AHA vs PHA

Karena sifatnya jauh lebih gentle, maka saat ini PHA ngetren banget. Baik AHA, PHA, dan ABA sama-sama mudah larut dalam air, bahkan sebagian besar AHA juga bisa larut dalam alkohol. 

PHA sendiri sesungguhnya suatu senyawa yang secara natural berada di kulit manusia. PHA berfungsi untuk memperhalus permukaan kulit, memperbaiki tone kulit, menghidrasi, serta mengencangkan. 

Yang membedakan AHA dengan PHA apa, dong?

Strukturnya itu yang membuat PHA jadi lebih gentle. Ketika penetrasi ke kulit, maka tidak akan ada reaksi seperti gatal, panas, kemerahan, sengatan, dan hal-hal lain yang mungkin terjadi ketika kita mengaplikasikan AHA.  Kabar baiknya lagi, kamu tidak akan mengalami sunburn saat mengaplikasikan PHA, jadi risikonya benar-benar enggak ada! 

Namun berada pada level berapa gluconolactone bisa seefektif glycolic acid ketika penetrasi ke kulit? 

Suatu tes dicoba dengan konsentrasi yang berbeda antara glycolic acid (AHA) dan gluconolactone (PHA).  Dari segi pengembalian elastisitas kulit dan penyamaan warna tone kulit selama 12 minggu, AHA lebih unggul.  Namun jika berbicara dari segi sensitivitas, maka PHA jauh lebih baik. 

Rekomendasi Produk AHA dan PHA

BrandJenis AHA/PHA
Sunday Riley Good GenesLactic acid
Drunk Elephant – T.L.C. Framboos Glycolic Night SerumGlycolic, tartaric, lactic, and Citric acid, salicylic acid
The Ordinary Lactic Acid 5% &10% + HA 2%Lactic acid
The Ordinary Glycolic Acid 7 Toning SolutionGlycolic acid
COSRX AHA 7 Whitehead LiquidGlycolic acid
Neogen Bio-Peel Gauze PeelingGlycolic, lactic, tartaric acid
COSRX PHA Moisture Renewal Power CreamGluconolactone
COSRX Low pH PHA Barrier MistGluconolactone
Glikoderm AHA & PHA (brand lokal)Glycolic acid, gluconolactone
Make P:Rem Radiance Peeling Sleeping PackLactobionic acid, citric acid

Source: 

Alpha-hyrodxyacids and carboxyl acids. Ruey J Yu & Eugene J Van Scott, Journal of Cosmetic Dermatology, Blackwell Publishing, 2004. 

A polyhydroxy acid skin care regimen provides antiaging effects comparable to an alpha-hydroxyacid regimen. Edison BL1Green BAWildnauer RHSigler ML 2004 Feb;73(2 Suppl):14-7.

Glycolic Acid Peels. Moy, R., Luftman D., Kakita, L.S, Marcel Dekker Inc: Switzerland, 2002.

The Science of Hydroxy Acids: Mechanisms of Action, Types, and Cosmetic Applications. Lorna Bowes, Journal of Aesthetic Nursing Vol. 2 Issue 2, 2013. 

Loading...

6 thoughts on “AHA, BHA, PHA, Apa Persamaan dan Perbedaannya?”

  1. Ketjee tulisannya kak.
    Btw bahas bha juga dong. Sm contoh produknya juga :))
    Biar lengkap nih bahasan aha, bha + pha.
    Semangat kak, sukses terus!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *