in Miscellanous

Yakin Siap Nikah? Sebelum Baper, Perhatikan 3 Hal Ini yang Sering Dilupakan Jomlo

at
yakin-siap-nikah-sebelum-baper-perhatikan-3-hal-ini-yang-sering-dilupakan-jomlo

Bagi yang pernah baca blog saya sebelumnya, pasti tahu ya, kalau saya orangnya sinis banget sama  meme sejenis “kapan dihalalin?”, “kapan nikah?”, dan lain sebagainya.  Jujur aja, saya ngerasa candaan macam itu low level. Helloooo, orang India aja ke bulan berkali-kali, ini masih aja seneng ngebahas kapan para jomlowan-jomlowati di Indonesia menikah!

Sungguh pembicaraan yang low level.

Ada yang masih ingat, salah satu kampanye cagub dan cawagub bikin Kartu Jakarta Jomlo?   Setelah terpilih, saya pengin tahu, apakah benar-benar diupayakan ada atau tidak, ya? Karena saya pernah ngobrol dengan sahabat (yang sesama sinis) dengan inti percakapan begini:

Saya: Kalau mereka beneran bikin kartu macem gitu yang sejenis BPJS emang jadi gimana, ya?

Sahabat: Yang pasti sih, jomlo jadi makin banyak

Saya: Loh, bukannya jadi berpasang-pasangan ya?  Mereka kan pengin bikin usaha sampingan biro jodoh tuh kalau kepilih

Sahabat: Justru kalau berpasang-pasangan, nanti lahir jomlo baru.  Dikira lagi berantas jentik nyamuk ya, jomlo langsung hilang begitu pada nikah semua

Saya: *Ngakak sepanjang jalan di lift menuju CGV Blitz*

Saya masih nggak ngerti faedahnya apa bikin KJJ (kalau memang ada).  Mending benerin kota dulu deh, ya, Bapak-Bapakku yang sudah terpilih jadi Gubernur dan Wakil Gubernur.  Ngurus kota lebih gampang lho, daripada ngurus takdir orang, wong Lauh Mahfuzh (Kitab Kejadian menurut agama Islam) itu nggak bisa diunduh di Playstore dan Appstore 🙂

Fenomena ini sebetulnya bukan cuma sekedar lelucon semata yang beredar di internet.  Buat yang sebentar lagi lulus kuliah, atau sedang menikmati suka dukanya bekerja, atau kuliah lagi di dalam atau luar negeri, dan masih saja belum meresmikan hubungan atau memang asyik sendiri, biasanya bakal dirongrong sama pertanyaan mirip-mirip ini:

“Kapan Nikah?  Kapan Punya Anak? Kapan Mati?

Saya sendiri pernah mengulas sifat orang Indonesia yang suka kepo di postingan di atas.  Setelah saya kategorikan, ada dua jenis manusia kepo (di sekitar saya) terkait pertanyaan seputar nikah:

a. Pamer status karena sudah nikah (entah itu baru beberapa hari/bulan/tahun) dan masih langgeng

b. Pamer status anaknya sebentar lagi bakal nikah atau ngasih beliau cucu

Lalu pada ke manakah orang-orang yang peduli?  Alhamdulillah, sejauh ini orang-orang yang peduli di sekitar saya tidak pernah iseng bertanya, kalau pun iya, mereka kemudian mendoakan balik semoga saya bertemu jodoh yang baik kelak.

Kan lebih enak didengar ya, saya juga senang ada yang mendoakan 🙂

Untungnya, saya dan teman-teman yang masih single bukan tipe yang stres kalau ditanya “Kapan nikah?”.  Kami masih senang bereksplorasi dan melakukan hal-hal  yang tidak mungkin dilakukan kalau sudah terikat dengan janji suci pernikahan.  Kami masih mencintai kebebasan yang hanya dimiliki seseorang berstatus single. 

Bukan berarti kami ogah nikah, hanya saja tak ada gunanya berkeluh kesah nungguin jodoh.  Kami bersikap santai, itu karena kami sedang belajar 3 persiapan tertentu yang perlu di-checklist agar pernikahan tidak jadi asal-asalan dan main-main:

Persiapan Mental

Terdengar klise, tapi ini adalah sesuatu yang memang sangat penting. Semua teman saya, baik yang masih asyik pacaran, atau memang asyik sendirian, atau sudah menikah, punya pendapat masing-masing terkait persiapan mental.  Teman laki-laki saya berpendapat begini:

“Kalau mau nikah itu sebaiknya sudah punya pekerjaan dan tabungan dulu.  Gue kan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anak orang lain, mau ngasih makan apa kalau nggak ada duit?”

Namun ada juga teman perempuan yang baru menikah,  berpendapat beda lagi:

“(Suami) nyari kerja itu masih bisa diusahakan, tabungan yang ada masih cukup untuk hidup berdua.  Daripada berlama-lama lebih baik langsung meresmikan hubungan.  Insya Allah rezeki akan datang dengan sendirinya setelah menikah.”

Mana sih yang paling benar?  Mendahulukan cinta dulu, atau mapan dulu?

Perkara apakah sebaiknya “nikah dulu” atau “mapan dulu”, tidak bisa dijawab secara gamblang.  Ada situasi, ada permasalahan, ada ujian yang membentuk karakter seseorang.   Ada berbagai macam informasi dan pengalaman di masa lalu yang perlahan-lahan kemudian kita yakini sebagai kebenaran.  Pengalaman dan informasi ini lalu dirumuskan di dalam pikiran.  Di sinilah asal usul opini itu lahir.   Opini setiap orang terkait pernikahan akan berbeda-beda.

Saya sendiri merasa bahwa tidak ada jawaban yang salah, tidak ada juga jawaban yang benar.  Semuanya tetap akan kembali kepada pilihan masing-masing, mau mendahulukan apa?  Kenapa memilih menikah dulu, atau kenapa memilih mapan dulu? Menikah itu sebetulnya salah satu dari sekian banyak pilihan untuk survive dan beribadah, bukan babak final dari kehidupan.  Bagi saya, seseorang bisa disebut dewasa ketika ia sudah siap bertanggung jawab dengan konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Jadi, menikah bukanlah pertanda dirimu sudah dewasa.  Menikah hanyalah satu proses yang akan kita lalui semakin kita beranjak tua. Ketika kamu siap menerima segala risiko positif dan negatif yang akan dilalui setelah menikah, dengan segala kondisi yang terjadi di antara dua insan, persiapan mentalmu  untuk menikah sudah mantap.

Persiapan Finansial

Menikah itu, selain “menguras” tenaga dan waktu, ternyata menguras tabungan.  Serius, lho.  Jadi, daripada baperan dengan mikir “kapan aku dihalalin,” mending hitung-hitungan dulu, deh.  Kalau sudah siap menghabiskan uangmu tidak hanya untuk kepentinganmu semata, kalau sudah cukup pintar membedakan kebutuhan dan keinginan, boleh deh, kebelet nikah.

Memang apa, sih, yang bikin nikah itu “boros?”

Mbak Faradila Putri dalam postingannya tentang “Yakin Siap Nikah?” merumuskan persiapan pernikahan terkait finansial sebagai berikut:

  1. Premarital medical check up, misal menghabiskan Rp 1 juta untuk semua jenis tes
  2. Pesta pernikahan, misal menghabiskan dana Rp 100 juta
  3. Nyicil rumah atau ngontrak, misal menghabiskan dana Rp 25-30 juta pertahun
  4. Periksa kehamilan, misal sekali berkunjung menghabiskan Rp 500 ribu.  Tiga kali konsultasi dalam sebulan, maka habis Rp 1,5 juta
  5. Beli perabotan, misal  menghabiskan Rp 10 – 15 juta
  6. Dan lain-lain (termasuk kalau anak sudah besar, persiapan sekolahnya itu luar biasa, lho)

Omong-omong, hitung-hitungan yang saya tulis di sini hanya berdasarkan selentingan kabar, lho, ya, jadi saya sendiri nggak tahu persis berapa nominalnya.  Tapi dilihat dari jumlah yang dikeluarkan untuk pesta pun, ternyata bisa fantastis!

Mungkin kita sebagai generasi milenial pengennya sederhana dan hanya mengundang sahabat dekat saja. Maksudnya sih, supaya murah dan uangnya bisa dipakai untuk keperluan yang lebih bermanfaat.  Tapi orangtua biasanya langsung berkelit: “Loh, terus tetangga gimana?  Teman-teman Mama gimana?  Teman-teman Papa gimana?  Belum keluarga besar kita, Dek, seenggaknya harus dikasih seragam bagus, bla bla bla…”

Sebagai kaum perempuan, kita dituntut untuk menjadi “kalkulator berjalan” sekaligus menjadi akuntan dari kehidupan rumah tangga kita.  Persiapan finansial bukan berarti harus punya tabungan yang banyak, sudah punya rumah, sudah punya mobil setelah pesta pernikahan selesai.  Alhamdulillah kalau bisa tercapai sebelum menikah.  Tapi seandainya belum, nggak masalah juga.  “Kaya” itu relatif.  Kalau kita bisa merasa cukup dengan pemberian suami, ketika kita bisa mengelola kekayaan berupa tabungan bersama setelah menikah untuk hal-hal bermanfaat, itu adalah tandanya kita sudah cukup matang mengelola keuangan.

Masih kepengin nikah tanpa persiapan finansial yang matang?

Persiapan Ilmu

Nikah itu nggak cuma sekedar hidup berdua bahagia selama-lamanya, lho, ya.  Dikira Cinderella? Saya sering dengar, ya, ucapan teman-teman yang baru nikah senada seperti ini:

“Nikah itu enak! Kita jadi punya orang yang bisa jadi sandaran, mau curhat kapan pun bisa.  Nggak terlalu beda jauh dengan hidup sendiri.  Paling yang ngebedain itu cuciannya memang jadi makin nambah, masak bikinnya dua porsi, biasanya bobo sendiri ada yang nemenin.  Selebihnya asyik-asyik aja.”

Sebagai tipe manusia yang skeptis, saya cuma setengah percaya dengan omongan macam ini.  Ya, saya ngerti.  Dengan postingan foto, video, atau Instastory, saya bisa lihat bentuk kebahagiaan yang komplit 100% dari pasangan yang baru menikah.

Tapi dikira cuma 100% bahagia saja yang dialami?

Rahasia pernikahan itu sejatinya hanya diketahui suami dan istri.  Karena itu, jika memang sempat berantem, atau ada masalah, teman-teman saya tidak akan curhat dengan saya. Lebih mungkin curhat ke orangtua, mertua, atau saudara.  Level pernikahan itu sudah berbeda dengan level masih pacaran unyu-unyu zaman kuliah.  Pernikahan itu sesuatu yang sakral, jadi rasanya malu berat kan, kalau sampai ngebocorin masalah rumah tangga ke mana-mana?

Jadi, meski di luar terlihat bahagia, pasangan itu akan mengalami pasang surut (dikira laut, Mi? :p).  Pasangan yang sudah menikah itu tidak hanya mengalami hal-hal menyenangkan, tapi ada ujian-ujian tertentu yang akan dihadapi setelahnya.  Ketika teman saya bilang dia bahagia, saya percaya.  Tapi saya juga percaya bahwa kebahagiaan itu tidak selalu menaungi pasangan yang sudah menikah. Ada berbagai macam perasaan yang juga akan mereka alami setelah menikah.

Terus gimana, nih, supaya kelak bisa langgeng terus?

Kita sebagai kaum perempuan, termasuk yang masih single, pasti punya keinginan menikah sekali seumur hidup.  Walimahan berkali-kali itu capek soalnya, ngabisin biaya. Apa resepnya supaya langgeng terus?

“A strong marriage requires two people who choose to love each other even on those days when they struggle to like each other.” (By Pinterest)

Saya pernah baca di suatu tulisan (lupa di mana), resep langgeng itu sebetulnya nggak ada.   Teman saya pernah berkata seperti ini dengan nada mellow:

“Ketika salah satu memutuskan untuk menyerah dan berhenti memahami yang lain, itu momen saat hubungan bisa disebut berakhir.”

Cara untuk bisa mempertahankan pernikahan itu butuh ilmu.  Butuh kesabaran.  Butuh pengertian.  Butuh komunikasi yang baik. Bukan ilmu atau kursus pranikah saja yang perlu kita pelajari.  Pasangan itu adalah buku yang bisa kita pelajari secara gratis setiap hari. Dialah sumber ilmu kita.

Pertanyaannya, setelah mempelajari pasangan: maukah kita kompromi setelah memahami karakter, keinginan, dan cita-citanya?

Ketika tidak ingin mencoba memahami lagi, ketika visi sudah berbeda saat masih pacaran, saya kira sebaiknya jangan dilanjut  ke jenjang pernikahan.  Pikirkan dulu matang-matang.  Kelak, kecocokan visi dan misi pernikahan yang bisa menentukan arah yang selanjutnya: apa yang ingin dilakukan pada periode jangka pendek dan panjang?  Siapkah keluar dari pekerjaan ketika tiba-tiba diberi rezeki berupa hamil cepat, atau siapkah ikut suami tinggal di tempat terpencil karena dipindahtugaskan?

Siapkah kita menerima cobaan ketika pernikahan diguncang prahara adanya WIL dan PIL (wanita/pria idaman lain)? (ketahuan kebanyakan baca kisah psikologi di No*a nih, lol)

Jadi, untukmu yang merasa single dan jomlo, sebaiknya kita checklist dulu, ya.  Jika ketiganya sudah oke, insya Allah, pernikahanmu bisa berjalan dengan baik.  Daripada baper kapan nikah, mending menikmati hidup dulu!

 

Bandung,31 Agustus 2017 

Opini ini hanyalah secangkir pikiran objektif dari

sudut pandang  seseorang yang

belum pernah pacaran dan menikah

untuk trigger post dari Collablogging KEB :p

Share:

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    6 Comments

    1. Roma Pakpahan

      Saya tim yang sering banget dikepoin dengan pertanyaan “kapan nikah”
      Tapi saya santai aja. Awalnya jengkel. Lama2 biasa aja, udah kebal sih

      Dari pada baper mending memantaskan diri lah ya, mbak. Ya semacam high quality jomblo gitu

      31 . Aug . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Setujuuu
        Tulisan di atas kesannya nyinyir ya Mbak XD, tapi sesungguhnya di sekitar saya masih ada orang-orang baper, sih. Jadi saya nulis ini buat “nampar” diri sendiri juga untuk nggak terlalu kemakan fantasi soal nikah, hehe, maklumlah yang single kan suka mimpiin yang asik-asiknya aja XD

        31 . Aug . 2017
    2. Indah Sulistyowati

      Setuju mak, kesiapan seseorang tergantung banyak faktor.
      Ada yang masih muda, sudah mapan, dan akhirnya menikah muda.
      Ada yang dah cukup umur belum mau menikah dengan alasan belum mapan.
      Ada yang udah mapan, cukup umur, mau menikah, belum ketemu jodohnya.
      Ada yang udah mapan, mau menikah, sudah ketemu jodohnya, eh nggak ada umur 🙁

      11 . Sep . 2017
    3. Ina Wahyu

      Ternyata banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan perlu dipersiapkan sebelum ke jenjang pernikahan.

      Menurut Mbak, usia berapa ya yang pas untuk menikah? ataukah tak masalah dengan usia?

      Terima kasih

      14 . Sep . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Kalo secara biologis usia matang pernikahan itu antara 20 sampai di bawah 35. Tapi yang namanya nikah kan nggak bisa cuma lihat dari segi biologis saja sih :). Di sekitar kita, orang-orang akan mempertanyakan kenapa seorang perempuan masih enjoy dengan hidupnya sebagai single padahal sudah mendekati 30an, sehingga akan dicap “gila kerja”, “perawan tua”, dsb. Saya kira itu faktor pribadi masing-masing, siapnya kapan? Karena ada banyak hal yang harus “dikorbankan” ketika sudah menikah, meski kita juga akan mendapatkan hal-hal membahagiakan yang tidak kita dapatkan ketika masih single.

        15 . Sep . 2017
    4. Lina

      wah wajib dibaca nih buat yang masih single nih, buat yang couple pun bisa jadi bahan perenungan sudah sejauh mana mereka melangkah #eh

      26 . Sep . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *