in Beauty, Body Care

[REVIEW] The Bath Box Oats Series: Alasan Saya Beralih Pakai Sampo Handmade

at
review-the-bath-box-oats-series-alasan-saya-beralih-pakai-sampo-handmade

Seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, saya punya masalah serius soal seboraik.  Apa itu seboraik dermatitis?   Seboraik dermatitis adalah kondisi di mana kamu mengalami suatu kondisi kronis di kulit kepala, telinga, wajah (sekitar mulut dan hidung) mengalami kulit kemerahan dan kulit kering kayak ketombe.  Banyak ahli yang sepakat bahwa ketombe di kepala pun sebetulnya merupakan SD yang ringan[1].

Saya sendiri baru tahu “kena” SD ini sekitar 2 tahun yang lalu.  Sudah cukup lama juga frustasi “ini kenapa sih nggak berhenti-berhenti ketombe di kepala.”  Saya udah nyoba berbagai jenis Selsun, tapi yang ada malah makin banyak flaky skin.

Saya kemudian googling buat nyari tahu kondisi ini.  Buat postingan lebih lanjut tentang SD bakal nyusul ya .  Eniwei, bagusnya sih kalo misalkan kamu pergi ke dokter kulit langsung supaya diagnosisnya akurat.  Dasar sayanya aja yang pemalesan, dan saat itu status saya masih nganggur (a.k.a baru lulus sarjana), jadi saya nggak ditanggung kantor orangtua lagi kalo mau berobat.  Dari situ saya kemudian akhirnya kenal dengan metode no-poo [2].  Bahasan kenapa saya pakai metode ini lebih lanjut bakal nyusul juga .  Inti dari no poo shampoo sendiri adalah berhenti menggunakan sampo komersial dan beralih menggunakan bahan-bahan alami.  Nah, apa alasannya saya cerita panjang lebar gini, bukannya review?  Sabar, Sis, justru ini yang bikin saya mulai “berpetualang” mencari sampo khusus.

Saya udah nyoba berbagai macam metode mulai dari pakai conditioner dari apple vinegar (ini beda dengan apple cider vinegar), sampo baking soda, sampo aloe vera, sampai sampo coconut milk alias santan.  Nggak ada yang berhasil.  Banyak yang mengklaim kalo memakai apple vinegar/apple cider vinegar bisa meredakan SD karena tingkat keasamannya.  Hal ini sempat terjadi sama saya, selama beberapa kali pemakaian, SD di kepala dan muka saya sempat mereda.  Tapi orang rumah mulai protes karena rambut saya jadi bau cuka .  Lama kelamaan, kulit muka pun jadi iritasi pas setelah pakai apple vinegar beberapa kali dalam rutinitas skin care.

Daaan… akhirnya saya on-off pakai sampo komersial -> sampo madu -> komersial -> sampo madu saking nggak tahu lagi mau gimana.  Perkenalan saya dengan produk The Bath Box dimulai saat saya iseng nyari produk skin care lokal yang mungkin bisa bantu meredakan SD.  Sebetulnya saya udah cukup lama tahu brand ini, tapi karena lumayan mahal, saya nggak berani beli.  Di puncak kefrustasian inilah  yang bikin saya hedon dan nekat beli “Oat Series” .

Oats Series

 

Dari segi kemasan, produk Oats Series ini semacam “sample” buat dicoba dulu, karena ukurannya cuma 100 g untuk masing-masing produk.  Yang pertama adalah Oat Milk Cream Shampoo.  Produk kedua dalam Oats Series adalah Oatberry Hair Treatment.

Ingredients

cymera_20161017_061750-01

Oat Milk Cream Shampoo Ingredients: Water, Avena Sativa Meal, Sodium Laureth Sulfoacetate, Cocamidopropyl Betaine, Citrus Medica Limonum Juice, Hydrolized Rice Protein, Hydrolized Oat Protein, Crambe Abyssinica Seed Oil, Guar Hydroxypropyltrimonium Chloride, Fragrance, Propylene Glycol, Diazolidinyl Urea, Iodopropynyl Butylcarbanate, Hydroxyethyl Cellulose

Oatberry Hair Treatment Ingredients: Water, Avena Sativa Meal, Fragaria Ananassa Fruit, Mel, Behentrimonium Methosulfate, Cetyl Alcohol, Butylene Glycol C13-15 Alkane, Citrus Medica Limonum Juice, Fragrance, Brassica Abyssinica Oil, Hydrolyzed Adansonia Digitata Seed Extract, Hydrolized Oat Protein, Sclerocarya Birrea Oil, Citrus Sinensis Oil, Propylene Glycol, Diazolidinyl Urea, Iodopropynyl Butylcarbanate

COSDNA Analysis 

Bagi penderita SD seperti saya, bahan yang mengandung Cocamidopropyl Betaine sebetulnya harus dihindari karena mengandung 12 carbon fatty acids yang bisa “menumbuh suburkan” jamur yang menjadi penyebab SD [3]. Agak kaget juga pas tahu, karena saya beli ini tanpa mempertimbangkan bahan dan tertarik dengan iming-iming bisa menghilangkan ketombe .  Tapi beberapa bahan lain seperti Propylene Glycol [4] , Diazolidinyl Urea, Behentrimonium Methosulfate[5] dan Butylene Glycol [6],  sudah terbukti bisa menjadi bahan yang cukup ampuh untuk melawan SD.

What You Should Know About Ingredients

Nyatanya setelah saya pakai sekitar sebulan lebih, perkembangannya cukup terlihat.  Saya suka iseng menggosok kepala dalam rangka mengumpulkan ketombe untuk melihat seberapa efektif sampo yang saya gunakan (dont trai dis et hom, denjeres!) .  Sejauh ini, justru Oat Milk Cream Shampoo lebih membantu dibanding saat dulu masih pake Selsun, Pantene, dan Dove. Ketombe saya masih “berhamburan” tapi jumlahnya jauh berkurang.

Untuk yang belum pernah pakai sampo jenis ini, saya kira nggak ada efek samping khusus, kecuali kalo ada alergi  terhadap zat tertentu.  Bahannya sama seperti yang biasa ditemukan pada sampo anti ketombe lainnya di pasaran.  Yang membedakan, The Bath Box memakai Sodium Laureth Sulfoacetate atau SLSA, yang dinilai “jauh lebih ramah” dibanding SLS dan SLES.  Jadi buat yang alergi SLS atau menghindari SLS karena takut kanker (btw, ternyata itu salah kaprah tuh sebetulnya SLS aman-aman aja), sampo ini saya rekomendasikan. Karena saya sempat mengalami fase komersial -> DIY -> komersial, di awal sempat agak gatal karena belum terbiasa. Mungkin buat yang belum pernah nyoba sampo semacam ini harus sabar ngalamin gatal-gatal sekitar 2-4 minggu untuk membiasakan kulit kepala dengan bahan asing. Setelah seminggu pemakaian baru akhirnya nggak ada efek apa-apa.

How To Use

Di awal, hair treatment digunakan 3 kali seminggu, setelahnya cukup dengan pakai 1 – 2 kali seminggu. Untuk sampo saya gunakan hampir setiap hari. Hair treatment sebaiknya digunakan  20 menit sebelum keramas. Bagi yang terbiasa dengan sampo komersial berbusa, ini agak sedikit tricky karena untuk bisa menghasilkan busa yang banyak, perlu keramas 2 kali.  Yang pertama fungsinya untuk membilas hair treatment, yang kedua untuk mencuci rambut. Tapi saya hanya keramas 1 kali.

What This Product Tell Us

Hair treament-nya bau banget! Kayak semacam bau ketek yang nggak berhari-hari dicuci (pihak The Bath Box, jangan blacklist saya, ya, lol).  Tekstur hair treatment agak thick, mirip tekstur masker wajah bubuk yang sudah dicampur air. Di awal baunya menyengat, tapi sejak saya buka tutupnya bau tersebut mulai agak berkurang.  Justru yang enak banget itu samponya, wangi lemon.  Tekstur samponya sama dengan sampo komersial.  Saya pribadi lebih suka samponya, mungkin untuk hair treatment saya mau nyoba produk lain dari The Bath Box.  Katanya Fluffy Hair Treatment wanginya kayak pisang :3.  Lebih cocok juga saya rambut saya yang emang susah diatur.

Sayangnya karena ini cuma 100 g, dan saya lumayan gila juga makenya, dalam waktu 1-2 bulan cepat habis.  Tapi karena tanggal kadaluarsanya itu Januari 2017 dan produk sudah saya pakai setengahnya, sebetulnya cukup, sih.

Price

Harganya Rp 135.000 untuk 2 produk ukuran 100 g. Untuk ukuran sampo, ini mahal sih, tapi wajar karena sampo dan hair treatment adalah handmade. Samponya ada yang ukuran 200 g dengan harga Rp 150.000.

Will I Repurchase?

Mikir-mikir lagi, haha. Saya udah kadung cocok sama hair treatment dan samponya, walaupun mungkin lain kali saya coba hair treatment yang lain. Sementara saya mau pakai sampai habis dulu.

Rating

4/5

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *