Travel

[REVIEW] Hotel Simpang Lima Residence Semarang, Bintang Tiga Oke Punya!

byAzzahra R Kamila-
review-hotel-simpang-lima-semarang

Hai semuanya!  Saat ini saya sedang ada di Semarang, tepatnya saya menginap di Simpang Lima Residence.  Itulah salah satu alasan saya ngilang selama bulan April, lol.  Cerita singkatnya, saya sedang mengikuti program GPTP yang diselenggarakan Telkom Indonesia.  Yups, tebakanmu benar!  Buat yang kenal sama saya, sekarang saya sudah berhenti menjadi dosen.  Insya Allah mulai Januari depan saya akan menjadi kartap BUMN satu ini.

Terus, apa hubungannya dengan keberadaan saya di Semarang?

Selama dua bulan, hingga Juni 2018, saya akan tinggal di Semarang dalam rangka OJT.  OJT itu apa, sih?  OJT adalah On Job Training, yaitu masa-masa pelatihan sebagai calon karyawan Telkom Indonesia.  Nah, karena kampus saya ada di area barat, maka saya dipindah ke Semarang untuk merasakan bagaimana sesungguhnya pekerjaan lapangan di perusahaan ini.

Untuk lebih lengkap tentang OJT tidak akan saya bahas lebih lanjut, karena di sini saya lebih tertarik membahas apa saja yang akan saya lakukan di Semarang.  Yang pasti main, dong, haha (kerja woy ~ XD ).  Nah, pada minggu pertama selama di sini, saya menginap di Simpang Lima Residence sebelum mencari kos-kosan untuk ditinggali dua bulan ke depan.

Simpang Lima Residence

Awal mulanya, saya memutuskan tinggal di sini karena setahu saya, kantor Telkom Indonesia terletak di Jl Pahlawan, daerah Simpang Lima.  Namun pada kenyataannya, kami ternyata tidak akan ngantor di satu tempat saja, melainkan akan digilir di setiap kantor Telkom Indonesia yang berada di kota ini.  Alasan saya memilih hotel ini simpel sih:  dekat ke mana-mana!

Saya memesan untuk dua malam bersama salah seorang teman yang juga akan ngantor di sini. Budget kami terbatas, tapi kami ingin stay di tempat yang ada AC, air panas, dan cukup nyaman ditinggali (iya, rada ngelunjak, wkwk), jadilah saya memutuskan untuk mencari hotel bintang tiga yang jaraknya tidak begitu jauh dari kantor. Lalu dapatlah kamar di Simpang Lima Residence.

Untuk harga Mei 2018, saya mendapatkan kamar tanpa jendela dengan harga Rp 305.000/orang.  Sudah termasuk sarapan selama dua hari.  Lumayan banget kok, apalagi kamarnya cukup layak huni.  Hanya saja memang lebih sempit, jadi ketika mau shalat, saya harus mencari tempat yang agak kosong.

hotel simpang lima

Fasilitas yang saya dapatkan antara lain: AC, TV, heater, air panas, hairdryer, termasuk beberapa sachet teh dan kopi!  Setiap hari, hotel juga supply air mineral dengan merek Pelangi.  Botolnya lumayan cute, warna pink dengan hiasan hati di tutup botol. Mungkinkah itu merek asli Semarang atau sekitarnya?  Karena saya belum pernah melihatnya selama tinggal di Bandung.

hotel simpang lima

Bagaimana dengan sarapan yang disediakan oleh Simpang Lima Residence?  Sebetulnya standar banget sih.  Jangan harap kamu bisa dapat yang wow ala bintang lima (walaupun sempat begitu karena takjub dengan Concorde Hotel pas saya ke Singapura beberapa waktu lalu).  Di sini saya tidak mendapatkan croissant hangat ala ala breakfast di Singapura, tapi dapat roti tawar dan selai bluberi, strawberi, dan coklat yang agak keras pun cukup.  Salah satu menu wajib lainnya adalah omelet dan salad.

hotel simpang lima

hotel simpang lima

Untuk menu prasmanan yang berat biasanya berganti-ganti tiap hari.  Saya yang berprinsip jangan makan nasi kalau ada alternatifnya, biasanya hanya mengambil lauk pauknya saja dan sedikit sayur.  Tak lupa, mengambil puding, jus, dan buah-buahan sebagai menu pembuka.

hotel simpang lima

hotel simpang lima

hotel simpang lima

Rasanya kayak gimana?  Hmm, standar hotel yang ngirit banget, sih. Cream soup yang saya ambil agak encer dan tidak ada rasa, omelet juga demikian. Yang lumayan enak itu buah-buahan karena masih segar.  Ya, tapi mau berharap apa sih, bisa sarapan gratis juga udah bagus!

Baca Juga:  One Day Trip To Jakarta: Dari Kota Tua Sampai Kemang

Kalau dari hotelnya dekat ke mana saja, sih?

hotel simpang lima

Ke mana-mana deket banget!  Mau ke Masjid Raya Baiturrahman?  Tinggal jalan kaki dikit, nyampe! Jika dari hotel kamu ingin berobat, tinggal belok kiri ada SMC! Pokoknya komplit, deh.

hotel simpang lima

Oh, ya, ada pengalaman lucu yang saya alami di hari pertama tiba di Semarang.  Kami tiba lebih awal karena pesawat yang kami tumpangi tiba di Semarang sekitar pukul sembilan pagi.  Sementara kami baru bisa check in di hotel pukul dua siang.  Akhirnya kami memutuskan untuk main dulu ke Mall Ciputra, karena setahu saya, mall ini jaraknya cukup dekat dengan hotel.

hotel simpang lima

Dasar turis, kami memutuskan naik Go Car agar tiba di tempat tujuan.  Bapak yang mengantar kami terlihat keheranan setengah mati. Dia pun bertanya:

Supir (S): “Dek, ini beneran mau ke Mall Ciputra?”

Kami (K):”Iya, Pak.”

S: “Oalah,” geleng-geleng kepala, “Kalau dari sini sih, muter dulu, kalau naik mobil. Di Simpang Lima itu satu arah. Tapi sebetulnya dekat, lho.”

K: “Hehehe, maklum Pak, kami baru sampai Semarang.  Pakai Go Car biar nggak nyasar.”

S: “Saya dulu pernah lho mengantar bapak-bapak ke Hotel Amaris.  Kan dekat banget ya dari sini.  Dikira nggak tahu jalan, tahunya gara-gara malas jalan.  Ini lho Dek, hotelnya yang itu, tuh.”

K: “Wah, ya ampun, Pak padahal segitu deket, ya…”

S: “Iya, Dek…” (sambil masih heran sama dua turis buta arah yang naik Go Car demi main ke mall)

Singkat cerita, kami berputar-putar di mall sampai pukul dua siang.  Kami kembali memesan Go Car. Daaan saudara-saudara, ternyata perjalanan bahkan enggak sampai lima menit, alias cuma 250 meter dari hotel!

Pengalaman pertama pakai taksi online di Semarang:  jangan sok kaya naik Go Car, cari dulu di Google Maps!

Well, walaupun akhirnya kami tertawa bareng karena ketidaktahuan yang super duper memalukan itu, setidaknya kami dapat sesuatu yang berharga 😀 :D.  Ke mall jalan kaki aja!  Kalau dari hotel, kamu tinggal belok kanan dan jalan sebentar, lalu akhirnya sampai di pintu McDonalds!

Tapi setelah mengitari Semarang selama dua hari, saya jadi cukup mengerti mengapa kebanyakan orang bilang bahwa kota-kota besar di Jateng dan Jatim lebih teratur.  Saya terbiasa tinggal di Bandung, yang notebene memiliki alur jalan yang sempit dan tata kota yang amburadul.  Sebagai pelancong jadi-jadian, saya dibuat takjub dengan tata kota Semarang.

hotel simpang lima

Well, meski ada saja sudut-sudut tertentu yang masih belum tertangani baik, saya salut karena ruas jalan di sini lebar, udah kayak di Dublin aja.  Termasuk trotoar, mereka begitu memerhatikan hak pejalan kaki!  Saya jadi merasa nyaman ketika melangkahkan kaki ke manapun saya pergi, karena tidak khawatir tersenggol kendaraan.

Meski begitu, sejauh ini saya belum pernah melihat zebra cross.  Kendaraan di sini cenderung ngebut, bahkan di belokan atau tikungan pun begitu.  Buat cari aman sih, kamu harus bersama teman lain saat menyeberang jalan atau berpergian.

Bagaimana dengan akses kendaraan ke dan di Simpang Lima Residence?

hotel simpang lima

Bandara Ahmad Yani pada Mei 2018 masih belum bekerja sama dengan perusahaan jasa kendaraan online dalam menyediakan alternatif kendaraan.  Saya dan teman memesan taksi di counter.  Untuk bisa menemukan counter, sebaiknya kamu berjalan lurus sampai keluar area pengambilan tas bagasi, kemudian belok ke kiri.  Ada counter kecil untuk memesan taksi.  Harganya Rp 55.000 (Mei 2018) sampai ke Simpang Lima Residence.  Teman saya sempat hampir kena calo yang memberi tarif Rp 150.000 sampai hotel, jadi sebaiknya pakai argo resmi saja!

Baca Juga:  Surat Cinta untuk Jepang: 5 Hal yang Membuatku Sulit Move On Darimu

Terus, apakah mudah ke mana-mana via Simpang Lima Residence? Enggak usah ditanya, gampang banget!  Kalau kamu malas jalan dan ingin naik taksi, kamu bisa pesan Go Car atau Go Ride. Berbeda dengan di Bandung yang kadang suka agak lama nunggunya, di sini paling lama nunggu taksi atau ojek online itu lima menit.

hotel simpang lima

Selain kendaraan kekinian, kendaraan sederhana nan tradisional juga masih terjaga.  Di sini bentuk becaknya agak lain dengan di Bandung, lebih melengkung, dan tempat duduknya lebih lebar.  Kapan-kapan saya ingin mencoba.  Saya kurang tahu tarifnya berapa.

Di dekat hotel, ada halte bus yang terletak di depan Mall Ciputra.  Saya sempat melihat pergerakan bus di sana, dan… takjub banget.  Udah kayak Singapura banget!  Di Singapura, semua bus mengantre di halte secara rapi untuk mengangkut penumpang ke berbagai tujuan yang diinginkan.  Kamu cuma perlu menunggu beberapa menit jika seandainya bus yang ingin kamu tumpangi terlanjur berangkat. Enggak perlu nunggu lama alias di-PHP-in ala nunggu bus di Bandung!

Di sini pun sistemnya rapi seperti itu.  Namun karena belum cashless, jika kamu ingin naik bus, kamu perlu membayar ke counter “jadi-jadian” untuk membeli tiket dengan uang pas. Saya belum mencoba naik bus, tapi suatu waktu saya akan mencoba berkeliling!

Di mana cari makanan di sekitar Simpang Lima Residence?

hotel simpang lima

Sebetulnya tergantung dengan jenis makanan yang kamu cari, mau makan apa?  Kalau agak mewah, kamu bisa mampir ke Mall Ciputra.  Di sana ada KFC, McDonald, Starbucks, Ichiban Sushi, dan food court dengan beragam menu yang (mungkin) cukup istimewa.  Kalau ingin makan di kaki lima, setiap malam para pedagang menjajakan di food court ala-ala yang tersusun rapi di sepanjang Simpang Lima.

hotel simpang lima

hotel simpang lima

Ada apa saja, sih?  Macam-macam!  Mulai dari masakan khas Jawa seperti tahu campur, nasi gandul, nasi pecel, dan tahu gimbal; sampai masakan Padang pun ada! Karena saya kepo dengan makanan khasnya, saya memutuskan memesan tahu gimbal. Saya sempat agak bingung dengan perbedaan tahu gimbal dan tahu campur, karena sama-sama tahu.  Menurut penjualnya, perbedaannya hanya terletak pada gimbal (bakwan udang).  Tahu campur tidak memakai gimbal, karena itu harganya lebih murah.

hotel simpang lima

Representasi tahu gimbal mirip dengan kupat tahu di Bandung.  Perbedaannya terletak pada sayuran dan gimbal.  Di sini, sayurannya memakai sayuran mentah berupa kol yang diiris tipis dan ditambah gimbal.  Kuahnya terbuat dari kacang dan pedes banget! Untuk tahu gimbal yang saya makan di area kaki lima, harganya adalah Rp 20.000.  Harganya bisa berbeda, tergantung dengan area tempatmu membeli makan. Rasanya gimana? Hmm… lebih enak kupat tahu, karena Nyunda banget, hehehe.

Nah, itu pengalaman saya selama tinggal dua hari di Simpang Lima Residence.  Overall, saya beri peringkat 8/10 untuk ukuran hotel bintang tiga. Nantikan petualangan saya selanjutnya di Semarang!

Share:

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *