in Miscellanous

Resolusi 2017: Mau Kerja Di Mana Setelah Lulus?

at
resolusi-2017-mau-kerja-di-mana-setelah-lulus

Err, did I ever said that before?  Nope.  Seenggaknya, nyari kerja bukan resolusi 2017, haha.  Karena buat saya resolusi itu sampah karena udah pasti nggak akan dikerjakan.  Tapi nyari kerja tetap saya kerjakan.  Karena itu target yang sedang ingin saya capai tahun ini.

Karena saya lulus akhir Desember, udah pasti ini pertanyaan yang bakal ngeberondong saya tiap kali ketemu teman.

 “Udah ada rencana ngelamar ke mana?”

“Kamu mau kerja ke pemerintahan?” (yang tahu saya lagi proyekan di XXX)

“Udah dapet di mana?”

Dan lain lain, dan sebagainya, dan seterusnya.  Saya tahu sih saya harus tahan banting ya, dengerin, ini, tapi ada beberapa pertanyaan yang bikin saya sebel. Contohnya begini:

Yang nanya: “Sekarang kerja di mana?”

Saya: “Err, di mana ya *mikir keras* di mana-mana.  Hehe.”

Yang nanya:  “Loh, maksudnya apa?”

Saya: “Aku freelancer.  Freelance writer.”

Yang nanya: “Oooh *nggak tahu prihatin, nggak tahu nggak ngerti* emang ngapain jadi freelance writer?”

Saya: “Ya gitu, nulis buat beberapa media, kerjanya di rumah.  Bisa online.”

Yang nanya: *Muka nggak percaya* “Nggak ada rencana pengen kerja di mana gitu?  Di bank?  Kalau jurusan kamu kan bisa tuh kerja di bank, cocok pula jadi satpam IT security.” 

Saya: “Err, hehehe.  Nggak tahu.  Liat gimana nanti aja.” 

via peopleperhour
via peopleperhour

Ada yang menganggap karena saya single keren, maka saya nggak perlu khawatir soal tanggungan.  Mau kerja nggak jelas kayak freelance juga nggak apa-apa. Masih sendiri.  Tapi tetap harus nyari kerja tetap juga supaya pemasukannya lebih tentu. Hmm, yang poin terakhir ada benernya, sih.

Yang bikin saya kesel sebetulnya bukan karena yang nanya sok ngasih alternatif atau dicap kerja serabutan, tapi rasanya kesel karena pekerjaan sebagai freelancer masih dipandang sebelah mata.  Oke sih, di Bandung sendiri baru sejak tahun 2000 belasan *lupa kapan tepatnya* freelancer booming.  Kini banyak kafe yang menawarkan alternatif space atau tempat bagi freelancer dan pemilik startup, contohnya bekas tempat kerja saya   C*&Co, Upnorm*l, Edupl*x, Postc*rd, dan lain-lain.  Di Jakarta pun sebetulnya menjamur, dan harga bayar membernya justru lebih mahal dibanding Bandung, karena sudah mencapai jutaan. Wew.

via visa
via visa

Tapi justru dengan perkenalan saya dengan co-workspace semacam itu, pikiran saya jadi makin terbuka.  Kerja tuh nggak harus ke kantor, loh. Saya cocok banget loh dengan jenis kerjaan macam begini. Sebagai orang yang moody dan benci formalitas ala perusahaan, saya lebih suka menentukan jam kerja sendiri karena bisa melakukan aktivitas lain.  Masih bisa gogoleran, main kucing, ke toko buku, dan nggak merasa berdosa window shopping di laptop, lah wong nggak pakai internet kantor kok buat belanja belinji.

Sebetulnya freelance sendiri sudah menjadi alternatif pekerjaan di Barat sejak bertahun-tahun yang lalu sejak internet hadir.  Bahkan kini ada yang namanya teleworking, atau kerja di suatu perusahaan tapi bisa bawa pekerjaan ke rumah.  Kalau ada perusahaan macam begini di Indonesia, pasti saya bakal mati-matian mencoba menjajal kerja.

via motivationgrid
via motivationgrid

Mungkin karena saya nggak suka komitmen jangka panjang, mungkin karena saya betah dengan suasana homy, atau bisa jadi karena saya lebih suka space sempit tenang dibanding kubikel yang bikin saya memutuskan mencari kerja yang santai.  Semasa kerja praktek dulu, tiap menit saya selalu ngelirik jam buat tahu ini-jam-berapa.  Jam 10 aja udah nggak betah di kantor, apalagi harus kerja 8-5?  Nggak, deh, makasih.

Tapi yaa, fokus orang Indonesia adalah, ketika kamu sudah lulus, baik itu S1 dan S2, pasti pertanyaannya klise: “Mau kerja di mana?”  atau “Udah ngelamar ke mana aja?” atau ngasih alternatif di saat kitanya sendiri ngerasa nggak butuh.  Sori buat yang ngerasa pernah ngelakuin gini ke saya , nggak ada maksud nyinggung atau nyindir, kok.  Tapi karena saya nggak suka ditembakin pertanyaan sedemikian rupa macem gini, saya memilih untuk nggak melakukan hal yang sama ke orang lain.  Saya prefer nanya rencananya saja daripada sok basa-basi tapi menyakitkan hati yang ditanya.

via seroundtable.com
via seroundtable.com

Nggak tahu kenapa, semua orang berekspetasi yang sama pula: mudah-mudahan keterima kerja di perusahaan besar.  Err, aamiin? Buat yang nggak ngerti saya gimana, pasti bakal bingung pas saya ngejelasin dream job dan malah syok (atau mungkin terancam?) dengan keberadaan spesies langka macam saya yang benci jadwal kerja perusahaan, haha. Karena saya nggak sama dengan yang lain, mungkin nyangkanya saya adalah alien yang berusaha merusak tatanan keseragaman manusia yang biasanya kerja di perusahaan setelah lulus. Tiap kali ada berekspetasi gini saya justru pengen nanya balik:

“Kamu sendiri, kerja di perusahaan atau organisasi XXX, apa dengan begitu nemu apa yang bikin kamu excited?  Kamu bahagia?”

Eniwei, saya ngomong gini bukan berarti meremehkan yang kerja di perusahaan mapan.  Nggak sama sekali.  Saya juga dulu pernah interview berkali-kali tapi gagal terus.  Perjuangan masuk perusahaan itu nggak mudah. Saya juga tahu rasanya putus asa gagal dapat kerja terus menerus.  Pas keterima kerja, bisa jadi ada banyak hal yang juga nggak sesuai ekspetasi, misal kamu nggak ada gawe hampir setengah tahun karena kamu anak baru.  Nggak betah karena teman kerja rese.  Dan lain-lain.

via catalinbaciu.ro
via catalinbaciu.ro

Wahai para pekerja, bukan berarti dengan freelance saya nggak ngalamin ini, ya.  Saya juga tahu rasanya punya bos yang bossy *curhat*, dikejar-kejar deadline, dan harus pintar membawa diri saat berhadapan dengan klien.  Apalagi justru dengan jadi freelance bukan berarti saya nganggur.  Meski waktu bisa diatur sendiri, tapi saya juga harus bisa ngatur diri juga supaya saya tetap dapat pekerjaan.  Kalau saya malas, ya, bakal berbuntut dompet kering juga.  Jadi saya nggak mudah, lho.

Maka dari itu, saya kira semua orang itu nggak bisa disama ratakan, ya.  Setiap orang pasti punya pertimbangan saat ingin kerja di perusahaan A dan B atau malah kayak saya, kerjanya suka-suka.

via personalbrandingblog
via personalbrandingblog

Mungkin ada yang pengen nimba ilmu lagi, makanya pindah kerja.  Pengen gaji besar.  Pengen karir cepat naik.  Karena udah punya keluarga atau akan berkeluarga, memilih pekerjaan yang sudah pasti aman dan mendatangkan penghasilan. Nggak bisa dibenarkan, nggak bisa disalahkan, karena itu semua adalah tanda kamu manusia.  Punya keinginan. Selama halal, silakan saja mencapai apapun yang kamu rencanakan dengan sungguh-sungguh.

Tapi ada satu hal yang kini dilupakan dan tergerus oleh yang namanya dunia yang kita semua tapaki setelah lulus sekolah, bernama “dunia orang dewasa”: menjadi berbeda itu nggak selalu buruk.  

Buat saya, pekerjaan yang membuat saya bisa jadi diri sendiri lebih baik daripada ngikutin apa mau orang lain. Ngeproyek, jadi dosen, dan nulis adalah tiga di antara yang sudah saya temukan.

Dream job kamu, apa?

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    6 Comments

    1. Nizmi Nasution

      dream job aku jadi reporter kak. pengennya sih reporter di bidang kuliner, wisata, kesehatan, sosial, dan budaya. ya lebih ke lifestyle gitu sih kak. tapi katanya di awal jadi reporter dituntut supaya bisa di berbagai desk. tiap tiga bulan sekali bakalan dipindah gitu desknya. tapi setelah mencari tahu tentang industri media, cara kerjanya, dan tetek bengeknya, keinginanku buat jadi reporter mulai luntur kak :’) jadinya sekarang aku bingung dream jobku itu apa. aku pun jadi bingung ketika ditanya, “kalau udah lulus kuliah pengen jadi apa? pengen kerja dimana?” 🙁 ortu dan kebanyakan saudaraku masih mendewakan pekerjaan PNS dan karyawan di perusahaan terkenall 🙁

      02 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Aku nggak menyalahkan orang sih karena memang jadi PNS dan perusahaan mapan menjamin banget. Sekalinya berhasil masuk ke tempat yang sudah jadi idaman banyak orang, kamu bakal berpikir berulang kali sebelum memutuskan keluar. Karena nantinya kamu bakal tahu betapa sulitnya cari kerja lagi, kecuali di pekerjaanmu sebelumnya kamu punya prestasi (setidaknya kamu ngerjain pekerjaan lama sungguh-sungguh).

        Tapi nggak semua orang memang ketemu dengan dream job-nya secara langsung. Untuk jadi dosen pun aku butuh muter-muter sana sini dulu, haha. Yang dulunya kukira bakal cocok sama aku (editor dan penulis dan wartawan) ternyata nggak. Dengan Allah mengarahkan aku ke sini, sebetulnya jalan kita memang sudah dibentuk. Kerja itu jodoh-jodohan, sama aja kayak nyari suami atau istri. Yang penting berusaha dulu. Siapa tahu lebih betah kerja di perusahaan mapan 🙂

        03 . Nov . 2017
    2. Nizmi Nasution

      ortu dan beberapa saudaraku mendewakan pekerjaan PNS karena dapet gaji pensiun di hari tua. enak sih :’) tapi gak enaknya jadi PNS dan di perusahaan mapan, aku ngerasa seperti “dikekang dan dibatasi” banget gitu kak 🙁 aku juga kepikiran nanti jadi pengen freelance writer atau social media specialist. tapi ketika aku ngomong ke ortu, mereka malah bingung dan gak setuju gitu kak. tanggapan mereka kira-kira seperti ini, “emang profesi freelance writer atau social media specialist menjanjikan? emang duitnya banyak? nanti kan gak bakalan dapet gaji pensiun. gimana nanti masa tuamu mau enak dan nyaman? masa lulusan S1 dari PTN X gak kerja jadi PNS.” 🙁

      03 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Kalau mau jadi sampingan bisa untuk freelance writer, tapi jangan jadi profesi utama. Ada plus minus jadi freelance, coba baca-baca lagi, deh di Google.

        Sebetulnya orangtua itu pasti pengen yang terbaik, makanya minta kerja di perusahaan mapan. Tapi daripada tok cuma ngikutin kata orangtua, nggak ada salahnya bikn beberapa rencana alternatif. Daripada ujung-ujungnya berantem :D, coba ikuti aja keinginan mereka, tapi kamu juga apply di beberapa pekerjaan yang kamu suka. Pelajari dulu apa memang karakter pekerjaan idaman sesuai sama karakter kamu. Kalau kamu pemalu pengen jadi wartawan ya susah nanti wawancara orang.

        Yang manapun itu nantinya pas kepilih, setidaknya kamu udah berusaha mencari. Udah pernah disebut kan, nyari kerja sama kayak nyari jodoh. Kita udah berusaha (pacaran misalnya) tapi putus di tengah jalan, ya berarti gak jodoh. Nanti kalau sudah dapat pekerjaan (ketika Allah ngarahin kamu ke sana), bakal dengan sendirinya ngerti alasan kenapa kamu diarahkan ke jalan yang tepat, dan ditutupnya pintu keinginan itu

        06 . Nov . 2017
    3. Nizmi Nasution

      terimakasih banyak atas sarannya dan bersedia menampung curhatku, kak. ehehehe :’))

      13 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Pernah ngalamin juga kok :’D, jadi mengerti gimana galaunya dirimu, haha

        14 . Nov . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *