in Miscellanous

Quarter Life Crisis yang Menghampiri di Usia 25 Ke Atas

at
quarter-life-crisis-yang-menghampiri-di-usia-25-ke-atas

Ada yang tahu istilah ini?

Saya yakin, bukan saya aja yang paham situasinya, haha.  Rata-rata orang yang menginjak usia 25 ke atas pernah mengalami momen galau hebat, teror luar biasa yang bikin mellow.  Dengar-dengar, biasanya quarter life crisis akan menimpa orang usia 25-35, dan kalau sampai nggak tahan bisa bikin bunuh diri.

Jujur aja, saya termasuk orang yang sempat berpikir bunuh diri.

Nggak sampai nyoba atau pengen beneran bunuh diri, sih, untungnya.  Tapi keadaan di mana kamu berada di titik terendah kehidupan benar-benar nggak enak.  Rasanya pengen banget nodong pistol ke kepala biar bocor dan bisa tidur tenang, nggak perlu ngadepin hal-hal menyebalkan macem ditanya, “Abis lulus apply kerja ke mana?” atau “Udah ada calon?” atau “Moga kamu nyusul (nikah) juga, yaa”. Bagi yang belum kena quarter life crisis pasti bingung, ya.  Yang kenal saya mungkin malah ngeledek: “Eaa, ada yang galau mellow gitu deh” atau “Elu ngalamin quarter life crisis, apa yang mau digalauin coba?  Huahaha” , atau “Yaelah, masih banyak kali orang yang ada di bawah lu, nggak bisa sekolah de el el, lu malah mikir bunuh diri”  dsb, dsb.

Justru karena saya nggak punya apa-apa makanya gampang banget kena ini, haha.  Saya nggak tahu bagaimana rasanya depresi, tapi saya tahu rasanya feeling blue seharian dan mendadak nggak pengen produktif.  Apa kira-kira sama kali ya, dengan baby blues syndrome? Sindrom ini menimbulkan perasaan sedih yang kemudian biasanya diwujudkan dengan menangis, kecemasan, kebingungan, kelelahan, kegelisahan, tak bisa tidur bahkan sampai penolakan terhadap bayinya sendiri.

Well, saya nggak punya bayi (kecuali bayi kucing), sih, tapi apa yang terjadi pada mama muda yang kena ini mirip gejalanya dengan quarter life crisis (menurut saya). Di usia 25, biasanya orang sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya, atau mungkin memutuskan pindah kerja, atau merencanakan pernikahan, atau bahkan sudah menikah.  Lha, saya?  Kerja sama nikah aja belum!

Dulu di tahun 2014, saya pernah mengalami masa titik terendah kehidupan di mana saya nggak tahu mau ngapain dan mikir “Gue selama ini hidup buat apa, sih? Gue masuk jurusan ini mau ngapain emangnya pas kerja?”.  Itu 3 tahun lalu, saat saya masih 22 tahun. Kayaknya saya udah kena krisis ini dari dulu, dan mulai muncul lagi pas menjelang wisuda, haha.  Entahlah ya, mungkin karena saya ngerti banget gimana rasanya saat terpuruk, nggak punya duit, nggak ada calon, nggak punya tujuan hidup. Sehari-hari luntang lantung di rumah udah kayak belatung aja.

quarter life crisis
via pinterest.com

Oke, omongan di atas itu memang mendiskreditkan saya sendiri, tapi saya rasa nggak ada salahnya berbagi dengan pemirsa yang baca blog saya.  Karena saya tahu, pasti ada sekian orang yang pernah ngalamin masa-masa nggak pasti seperti ini. Emang cirinya apa, sih?

  1. Hopeless, merasa nggak berguna.  Nggak punya arah dan tujuan hidup serta bingung dengan apa yang ingin dilakukan

  2. Merasa teman-teman dan sahabat menjauh, karena semua kini punya kesibukan masing-masing

  3. Panik melihat hidup orang lain lebih sukses, serta merasakan tekanan sosial  berlebih (pekerjaan, status, keuangan, passion, dll)

  4. Meski punya bakat atau talenta atau prestasi atau pengalaman, akan punya pikiran “lo tuh nggak ada apa-apanya dibanding orang lain” , terutama saat orang lain bisa meraih posisi yang kamu inginkan dengan cara yang terlihat “mudah”

  5. Jadi tarareba onna atau otoko (alias “what if person” yang sering berandai-andai soal masa lalu)

    Source: 21 Signs You’re Having Quarter Life Crisis

Ini adalah beberapa contoh dari apa yang pernah saya alami selama beberapa tahun terakhir. Ada yang ngerasa salah satu di antaranya?  Atau malah lima-limanya, atau semua ciri-ciri seperti yang disebut Thought Catalog?  Selamat, kamu nggak sendirian.  Ada saya, kok, dan saya sendiri masih nggak yakin udah melewati masa itu atau belum, haha.

Curhat sedikit, saya punya trauma dengan penolakan.  Bukan, bukan soal ditolak mantan atau gebetan.  Jenis penolakan apapun bikin saya takut, termasuk gagal keterima kerja.  Jadi kemungkinan ini yang bikin saya, selama 3 bulan terakhir ini sedih banget, meski saya dinyatakan lulus sidang magister pada Desember lalu. Mungkin karena amygdala (bagian otak yang mengatur emotional memory) saya mulai nge-recall lagi hal-hal menyedihkan di tahun 2014.  Momen di saat saya masih bingung sebetulnya saya mau kerja jadi apa, kenapa saya ditolak  kerja terus,  kenapa kayaknya orang lain bisa sukses dengan mudah, dan kenapa saya masih belum berjodoh .

Bedanya saya 3 tahun lalu dan sekarang, meski mellow nggak jelas dan nggak tahu mau kerja apa, dan kapan dapat jodoh, seenggaknya saya punya planning. Belajar dari pengalaman, ternyata penting banget untuk punya planning, sesepele apapun itu.   Perkara rencana saya cuma untuk jangka pendek, atau rencana saya nggak detail, seenggaknya saya punya. Meski ujung-ujungnya nggak semua sesuai dengan harapan, minimal itu bisa bikin saya tenang, dan bisa dengan cepat mencari alternatif jika ada yang nggak sesuai dengan yang dikerjakan.

Sisi positifnya (mungkin), saya menjadi orang yang kini selalu mencari opsi dan alternatif dan berusaha ngintip sisi baik dari segala kejadian (dipengaruhi trauma penolakan dan quarter life crisis), karena ya, hidup itu adalah memilih, bukan?  Segimana saya pengen nembak diri sendiri, tetap saja saya nggak mungkin melakukannya.  Bukan gara-gara dilarang agama saja, tapi saya kira nggak ada gunanya terus-terusan sedih dan mengeluh.

quarter life crisis
via pinterest.com

Masalahnya nggak akan ada yang peduli dan mengurus  kamu selain kamu sendiri. Perkara bahwa orangtua, kerabat, dan orang terdekat bakal selalu peduli sama kamu itu memang benar. Tapi sebagai individu, mereka nggak bisa terus-terusan 100% selalu hadir untuk kamu.  Jujur aja, saya sendiri kadang suka ngerasa kesepian pas lagi mellow nggak jelas macem begini, tapi mau curhat juga kayaknya nggak perlu-perlu amat.  Apa yang saya rasakan ini cuma feeling, bukan kenyataan!

Susah sih untuk membalikkan perasaan macam ini jadi sesuatu yang positif.  Saya juga masih nggak ahli.  Tapi karena harus bisa dihentikan, maka perlu mencoba supaya kamu berhenti membandingkan diri dengan orang lain.  Kalau saya, ada beberapa hal yang pernah dicoba:

  1.  Berhenti lihat sosial media untuk sementara waktu.  Biasanya kalau nggak ada kerjaan, pasti seseorang bakal iseng lihat sosial media.  Berhenti! Haqul yaqin, minimal yang pernah ngalamin semacam yang saya rasakan, bakalan nyampah di Twitter (karena nggak banyak lagi yang bakalan baca tweet kamu) atau nulis di Instastory tentang kegalauan kamu.  Nyampah memang bikin lega, tapi cuma sesaat.  Begitu lihat update timeline tentang anaknya teman atau pesta nikahannya atau dia posting foto di luar negeri, balik lagi tuh mellow-nya.
  2. Bikin diri sendiri sibuk. Atau seenggaknya kelihatan sibuk, haha.  Meskipun aslinya masih luntang lantung di rumah sambil nunggu diterima kerja secara mapan, kerjain aja hobi atau kesukaan (selain nonton drama Korea loh, ya) yang bisa ngasah skill. Karena, jujur aja, skill itu yang paling penting buat kerja atau berwirausaha. Suer, saya sampai sekarang masih nyesel kenapa dulu nggak mendalami ini-itu dengan lebih baik lagi.
quarter life crisis
via pinterest.com

Alasan saya mulai serius ngeblog di sini juga gitu.  Saya mulai ikut forum sana-sini, blogwalking, baca-baca soal monetisasi dari blog, nyoba apply ke affiliate marketer, belajar disiplin nulis, nyari pekerjaan paruh waktu buat tambahan penghasilan, daftar jadi influencer (meskipun masih level newbie); minimal saya ada sesuatu yang bikin sibuk tiap hari.  Bikin saya mikir, bikin saya mau ngasah diri.  Bikin saya nggak melulu merendahkan diri, tapi memacu supaya saya bisa maju seperti orang-orang yang udah lebih duluan sukses.  Lha, suksesnya saya dan kamu dan orang-orang sekitar itu beda-beda, kan?

Nggak perlu lagi ngebanding-bandingin, adanya bikin capek.  Jadi saya nggak iri dengan teman udah punya anak, teman udah pernah kuliah di luar negeri, teman baru nikah, teman baru hamil, dan teman-teman lainnya yang udah di atas saya.  Saya memberi sugesti pada diri sendiri, bahwa saat ini saya sedang diberi kesempatan untuk bekerja sesuai keinginan saya. Jadi mungkin aja ini alasannya kenapa saya diberi kesempatan lanjut sekolah dan berujung ingin berkarier di bidang yang saya kuasai. Doakan semoga tercapai, aamiin.

Intinya, bukan berarti kita nggak bisa lepas dari krisis ini.  Kamu juga pasti bisa mengatasi quarter life crisis dengan caramu sendiri .  Yakinlah, kamu beruntung kok kalau sampai merasakan krisis ini, karena kamu sedang diberi kesempatan untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Yang pernah merasakan hal sama, boleh dong sharing di sini!

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    3 Comments

    1. Muhammad Fathinuddin

      Krisis dimana apapun yang dilakuin selalu aja ngerasa ga seberapa sama apa yang dihasilkan sama orang lain, seolah bakat lahir itu absolut. Dan ketika saat itu bakal ketabrak dinding Q25 (sebutan quarter life untuk saya sendiri) dan apa yang dilakuin salah semua. mau belajar giat, tetep dirasa ga cukup. mau nambah keahlian, selalu ngerasa low-level student. Apalagi ditambah dengan liat sosial media yang banyak foto foto temen kerabat yang udah kemana-mana dan sukses karirnya, dibanding diri sendiri ma apa atuh..

      But, setelah dirasa saya perlahan sudah melewati Q25 sendiri dengan cara yang simpel dalam kata, namun sulit untuk dijalankan. yang paling penting itu JANGAN PERNAH BANDINGIN skil atau muka (eh) kita dengan temen-temen yang udah lebih dulu sukses. YAKIN lah kalo ada dalam diri kita masing-masing sesuatu yang sudah kita dapetin dalam proses waktu yang lama, itu pasti ada. Ngelamar kerja ga dapet terus itu biasa, anggap saja sifat perusahaan kurang cocok dengan sifat kita, BUKAN SEBALIKNYA (but ofc in a positive view).

      be INVISIBLE, maksudnya konsisten ilang dari sosial media. Mulai dari simpel aja gausah posting segala apaan, baik ‘listening to’ atau macem kata motivasi sekalipun, ga ngaruh buat diri kita. sifat alamiah sosial media itu buat pamer, dan gabisa terelakkan (hehe). Ketika udah ga ngeposting lagi, mulai ilangin tab-tab login di browser dan kalo ekstrimnya ya apus credential login nya, biar pas buka males isi password xD

      Dengan ngga ngebandingin, abis itu ilang dari sosmed, dijamin hidup bakal SEDIKIT lebih tenang. kok cuma dikit? kalo mau nambah banyak tenangnya…jalanin hidup dan selalu dekat sama Allah swt., make your life better dengan mikirin hidup sendiri, bukan hidup orang lain.

      and well, saya alhamdulillah udah ada pasangan hidup, dan Q25 digantikan dengan tantangan hidup baru sebagai keluarga. life is always give you challenge, its up to you to find what you seek and how to embrace it for moving forward.

      Regards, (lah ini biasa di email-email kerja) xD

      04 . Apr . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Sori baru bales, sibuk soalnya hehe (sok sibuk sebetulnya mah). Kayaknya kita sesama yang ngalamin jadi pasti ngerti ya :’D

        FYI, sebetulnya bukan gara-gara nggak keterima terus makanya desperate sih, itu cuma faktor kecilnya. Perilaku waktu kena Q25 itu bener-bener mengubah diri sendiri, dan sebetulnya itu berpengaruh terhadap hal-hal lain. Buat aku pribadi sih kayak efek domino. Nggak cuma ke love life aja, ke work life juga :’D, makanya waktu ketemu orang bawaannya malu. Jadilah ngehikki, males ketemu temen :’D

        Tapi justru momen itu bikin aku jadi belajar banyak hal, terutama diri sendiri. Meskipun sekarang masih takut ngalamin hal serupa, minimal aku punya tujuan dan arah saat ini. Perkara nggak berhasil, pasti biasa, dan nggak bisa terpuruk lagi dengan penolakan. Emang udah waktunya berhenti merasa nyaman (kayak sekolah kan aman dan nyaman tuh) dan keluar dari comfort zone. Ada alesan lebih dalem lagi sebetulnya aku sampai sekarang trauma ditolak :’D, tapi gak bisa dibahas di sini sih wkk.

        07 . Apr . 2017
    2. Zee

      dan sekarang aku lagi ngalamin hal kaya begini, ini kayanya dimulai dari ahir penyusunan skripsi 2014 lalu dan kemellowan serta kegalauan itu masih aja terus berlanjut sampe sekarang. Baca2 dan ketemu tulisan q25 terus berlanjut baca tulisan dan “ah gue lagi kena q25 -,-” mengamini semua gejala q25 di beberapa tulisan termasuk ini. Emang bener, pernah cerita masalh ini, tapi tanggapan mereka general istilahnya ga ngebantu lah, mugkin karna mereka ga ngalamin beginian atau gak ngerti masalh kaya gini. Sekarang masih terjangkit ni penyakit, lagi males2 nya sama profesi. Mau melanjutkan riset lebih jauh tentang kondisi ini (haha kerennya pake bahasa riset)

      Inspiring nih tulisan.
      Thanks

      Smoga gue segera keluar dari ni q25 segera

      18 . Oct . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *