in Miscellanous

Pengakuan Posisi Perempuan Modern : Feminisme atau Emansipasi? (1)

at
posisi-perempuan-feminisme-atau-emansipasi

Pagi ini saya baru saja menonton tayangan terkait dengan perlunya perempuan yang bisa bela diri di “Apa Kabar Indonesia”. Tinggal di kota besar, kejahatan yang marak bisa bikin perempuan yang belum atau sudah menikah jadi sasaran. Di sini, seorang pembicara perempuan secara berapi-api menyebut hal ini:

“Bukan masalah rok mini yang dipakai perempuan, tapi masalahnya adalah keamanan di publik secara umum masih kurang. Keberpihakan transportasi khusus perempuan sangat kurang. Bla bla bla…”

Dari sini aja saya udah ketawa dan mikir, “si mbak ini feminis kok ngaco.” Coba deh pikir pakai logika, untuk apa juga pakai rok mini misalkan, di depan publik seperti halte atau kereta? Wajar dong dipegang-pegang, dia sendiri yang ngejual? Pakai mobil pribadi aja kalau mau pakai baju seksi! Jelas lebih aman.  Nggak, saya nggak mendiskreditkan yang suka berpakaian minim; saya cuma ingin guncang si mbak sambil bilang, “Logikanya manaa?”

Apa karena menjelang Kartinian makanya omongan macam ini makin gencar ditayangkan?  Terkait perempuan harus boleh pakai rok mini secara aman tanpa celdal dikodok, itu kira-kira masuk mana, emansipasi atau feminisme?  Kemudian saya akhirnya nyari di KBBI apa itu feminisme:

via genderandeducation.com

fe·mi·nis·me /féminisme/ n gerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria

 Itu membuat saya berpikir, lalu apa bedanya dengan emansipasi?  Setelah dicari, ditemukan arti emansipasi:

emansipasi/eman·si·pa·si/ /émansipasi/ n1 pembebasan dari perbudakan; 2 persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria): Kartini adalah tokoh — wanita Indonesia

— wanita proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju
 Saya pernah baca bahwa emansipasi dan feminisme sebetulnya berbeda. Alasannya?  Karena akhir-akhir ini para pakar banyak yang berpendapat bahwa feminisme bukanlah sesuatu yang digolongkan hanya untuk perempuan, tapi juga untuk memperjuangkan hak laki-laki.  Kalau saya lihat nggak ada bedanya sih, haha.  Nggak tahu ya, pendapat yang lain.
via pinterest.com
Despite of what’s the difference and why bother it, I think many of us misuse this term to be somewhat like, defending something for your own sake?  Yah, karena jujur aja, saya pernah baca tentang artikel Muslims Are the True Feminists dan itu bikin saya ketawa hambar.  Apa benar Free Your Nipple adalah gerakan feminisme hanya karena mengumbar (maaf) dada perempuan kini perlu dilakukan sebagai bukti kebebasan perempuan?  Sounds ludicrous! Saya nggak mau debat dengan individu-individu tertentu yang menganggap telanjang adalah seni; sorry to say.  Di sini saya mempertanyakan akal sehat tentang apa kaitannya antara ngeliatin aurat dengan feminisme. Nggak ada!
Nah, terus, apa kaitannya sih, antara kamu ngalor ngidul ngomongin dada, dan hubungannya dengan feminisme dan emansipasi?
Setelah mata saya dibukakan dengan fakta, saya nggak terlalu “wow” sama istilah feminisme, emansipasi, apalah itu. Bahwa ya, perempuan memang perlu kedudukan yang tidak dianggap kelas dua itu benar.  Tapi kalau perempuan harus selalu setara dengan laki-laki, err, nanti dulu. Rasanya ada salah kaprah di sini, menurut saya.
via pinterest.com
Feminisme itu sebetulnya asalnya dari mana, sih?  Kata emansipasi muncul dari mana?  Dari hasil penelitian (ceilah), ditemukan bahwa kata emancipate sudah digunakan sejak 1613, dimana emancipate sesungguhnya tidak terkait dengan “kemerdekaan perempuan” pada awalnya.  Sementara feminism digunakan pada tahun 1895, dan saat itulah emancipation of women dikenal sebagai feminism. Jadi istilah emansipasi dan feminisme hanya memiliki 1 persamaan: pembebasan diri dari kedudukan sosial, kepercayaan tradisional, dan lain sebagainya.  [1] [2].
via pinterest.com
Gerakan feminisme sendiri diawali dengan kemarahan luar biasa kaum perempuan di Eropa yang saat itu selalu dianggap kelas dua.  Sudah sejak lama mereka menderita dijajah oleh laki-laki, jadi wajar aja kalau kemarahan ini yang membuat mereka mulai berjuang mati-matian untuk membela hak perempuan.
Ke sini-sini, saya lihat gerakan feminisime malah makin melenceng dari apa yang digaungkan di awal. Kebanyakan hanya membela kepentingan kelompok semata, menebar slogan untuk merebut simpati tanpa aksi.  Nggak usah terlalu jauh untuk melihat kenyataan, coba tengok perempuan berkerudung yang kerja dan sekolah, banyak yang dipaksa berhenti dan dicaci (saya dengar ini dari sesepuh keluarga) di era 1970-an sampai 1980-an.  Tapi mana, suara feminis yang mengatakan hal itu tidak adil?  Para lelaki sikut-sikut ngetawain perempuan berjilbab sebagai “Rexona berjalan” , kok feminis nggak ada yang angot? Apa karena takut sama yang berkuasa waktu itu?
via jejakislam.net
Berapa banyak feminis yang membela muslimah yang terpaksa membotakkan kepala sebagai aksi protes karena aturan pemerintah Prancis yang melarang hijab dan burka? Berapa banyak feminis yang benar-benar terjun langsung memotong kemaluan tentara Slavia karena ketidakadilan yang dilakukan pada ratusan dan ribuan muslimah Bosnia pada tahun 90’an diperkosa secara massal? Kalau pun ada, jumlahnya nggak sebanyak yang membela Hillary Clinton dengan slogan “The Future is Female” karena ingin dia jadi presiden. Dan tahukah kamu ternyata banyak feminis  yang membeli kaus seharga 70 dollar dengan embel-embel tulisan “That is what a feminist look like”  yang dijual yayasan feminis The Fawcett Society, menutup mata pada wanita-wanita India dipekerjakan 14 jam  dengan upah 12 dollar setiap hari, dan bekerja di ruangan sempit dipadatkan hingga 16 orang untuk mengerjakan itu semua? [3]
via france24.com
Ini yang membuat saya berpikir: jadi sebagai perempuan, mana yang harus saya bela? Melihat banyak pemerkosaan, kekerasan, dan lain sebagainya, perlukah saya ikut gerakan feminisme atau emansipasi untuk mendukung kesetaraan perempuan?
Saya nggak akan bahas kenapa akhirnya jadi banyak aliran feminisme dan mana sebetulnya yang benar; buat saya kebenarannya simpel: silakan tengok kita suci saya.
“Soal beginian nggak usah bawa agama! SARA!”
Well, tapi inilah yang saya percaya. Bukan karena saya membela agama atau sedang dakwah; saya nggak seagamis itu . Saya tipe orang yang butuh bukti, argumentasi yang masuk akal, sehingga bisa menerima bahwa memang, ya, itulah yang saya anggap benar. Jadi saya nggak minta pembaca berpendapat sama; saya cuma mau menunjukkan bukti saja. Apa saja buktinya?
Tahukah kamu bahwa kata “laki-laki” dan “perempuan” diulang dalam jumlah yang sama yakni sama-sama 23 di dalam Al Qur’an? [4] Silakan cari, apakah ada surat “Ar Rajul” atau surat yang memiliki arti “Laki-Laki” dalam Al Qur’an?  Setahu saya hanya ada satu surat yang menyebut jenis kelamin, “An Nisa” atau “Perempuan.” Dan di dalam surat itu dijelaskan secara rinci mengenai hukum nikah dan bercerai yang sangat adil dan melindungi kaum perempuan.
“Loh, bawa-bawa agama, kayak yang bener aja.  Itu ustad poligami, cewek-cewek kerudungan juga gak selalu bener. Terus katanya suami boleh pukul istri? Yakin Islam menghargai perempuan sebagaimana mestinya?”
Kalau saya sih, yakin.  Aturannya jelas, kok. Justru yang mengagumkan adalah, kesetaraan laki-laki dan perempuan sudah diatur sedemikian rupa sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum feminisme atau emansipasi digaungkan tahun 1895 di Eropa.  Lengkapnya bisa dibaca  di sini.
via pinterest.com
Nah, terus kenapa kok, kayaknya kekerasan, poligami, de el el terus berlanjut? Katanya Islam ngatur kesetaraan, penganutnya kok gitu? Yang jadi masalah itu adalah kaumnya sendiri: sudah jauh dari pelaksanaan agamanya sendiri.  Jadi bukan masalah agama. Orangnya jauh dari ketaatan. Dan pemahaman yang dangkal terhadap agamanya. Atau pemutarbalikkan fakta demi kepentingan kelompoknya untuk mencitrakan Islam menjadi sesuatu yang jelek. Inilah yang menyebabkan banyak yang salah kaprah dan menganggap Islam terbelakang dan menindas perempuan karena kerudung dan bolehnya suami memukul istri. Kalau tahu pemahamannya secara benar, insya Allah pasti beda kok cara pandangnya.
Buat saya, setara dengan laki-laki tidak selalu harus selalu sama.  Bahwa ya, perempuan punya hak sekolah setinggi-tingginya, berkarir (menurut saya harus boleh walau suami nggak suka, hehe), dan berkiprah di berbagai ranah yang disukai,  tidak dilecehkan, serta mendapat fasilitas yang mendukung keberdayaannya, itu memang benar.  Perempuan harus mendapatkan hak-hak semacam itu. Tapi apa karena laki-laki bisa telanjang dada, kita juga menuntut harus boleh telanjang dada?  Apa karena kebanyakan kaum lelaki yang berkuasa di berbagai bidang atau berkedudukan tinggi di perusahaan, pemerintahan, dan lain sebagainya, semua wanita perlu kebakaran jenggot? Jelas-jelas kodrat laki-laki dan perempuan berbeda!
via pinterest.com
Jadi jika seandainya laki-laki unggul di berbagai bidang, atau digaji lebih tinggi dari perempuan, wajar saja, mereka kan pencari nafkah! Dan nafkah itu untuk dinikmati dengan keluarga.  Sementara perempuan, meski ada yang bekerja untuk membantu suami atau malah jadi tulang punggung keluarga, tetap saja hukumnya tidak wajib untuk memberikan uang penghasilannya sebagai uang yang memodali kebutuhan rumah tangga.
Itu sebabnya, saya kira semangat feminisme yang ada sebaiknya dikembalikan ke semula (tapi bukan berarti saya nganut pahamnya sih).  Saya lebih setuju dengan Mary Wollstonecraft dalam hal semangat emansipasi wanita. Tanpa menjadi super woman yang ngetop dengan menjadi presiden atau perdana menteri, perempuan itu sudah lebih powerful dari laki-laki.  Tuhan sudah memberi kita satu keunggulan yang nggak akan pernah dimiliki laki-laki. Tahu pepatah surga di bawah telapak kaki ibu?  Di antara semua profesi, feminis sejati buat saya adalah perempuan yang menjadi ibu. Laki-laki mana sih yang bisa kabur dari kutukan kalau ibunya murka macem Maling Kundang? 
Conclusion? Jangan pakai rok mini kalau nggak mau dikodok-kodok, haha. Saya nggak bilang nggak boleh pakai you can see, tank top, crop tee; terserah, monggo, karena setiap orang pasti memiliki nilai yang ia percaya dan anut.  Tapi nggak ada salahnya tho tertutup? Karena perempuan berjilbab juga percaya bahwa apa yang dikenakannya itu bukanlah sesuatu yang mengekang diri; justru membuat semakin percaya diri dan kreatif!
*tulisan part 1 dibuat menyambut Hari Kartini yang seharusnya bukan Hari Kartini 

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *