in Beautilogy, Beauty

Perlukah Kita Memakai Produk Paraben Free? Mengungkap Mitos dan Sains Terkait Kanker

at
perlukah-kita-memakai-produk-paraben-free-kanker

Hi, how’s your Freeday?  Finally udah weekend, haha ^^!  Bagi saya weekend nggak berarti apa-apa, karena normalnya semester ini saya libur hanya Kamis, Jumat, dan Minggu, whereas Sabtu tetap kerja ^^; nggak ngaruh.

Setelah nanya beberapa followers dan teman di story Instagram, saya akhirnya menulis terkait paraben: apakah aman atau tidak, nih?  Dulu juga saya termasuk yang antiparaben setelah tahu katanya bisa menyebabkan kanker.  Ternyata, fakta yang diungkapkan ilmuwan jauh lebih mengejutkan lagi.

Seperti biasa, saya hobi bikin daftar isi.  Bagi pembaca lama pasti tahu kebiasaan ini. Tujuannya adalah untuk menjelaskan tentang paraben secara runut dan jelas.  Tapi jika kamu termasuk yang malas membaca semuanya, klik saja daftar isi tersebut di bagian yang ingin kamu baca saja.

Daftar Isi

 

Okey, mari kita lanjut!

Paraben Adalah…

 

produk paraben free
via elyseecosmetics.com

Oke, buat kamu yang sudah kenal dunia skincare dan makeup pasti pernah mendengar ini.  Dan mungkin, sekarang sedang kebawa-bawa hype slogan “no paraben, no SLS.” “Yuk beli barang organik.”

Paraben itu sesungguhnya apa?

Paraben termasuk ke dalam “keluarga pengawet” yang biasa dipakai di industri kosmetik.  Bahan pengawet inilah yang sesungguhnya membantu kosmetikmu, baik yang bentuknya makeup maupun skincare agar tidak cepat kedaluwarsa.

Selain itu, agar mikroba dan bakteri tidak tumbuh beranak pinak di kosmetik yang kamu punya, maka bahan dengan kandungan paraben memang sengaja dicampurkan ke bahan-bahan kosmetik. Kamu juga pasti tahu kan, jika suatu skincare atau alat makeup dibuka (pada saat belum mencapai tanggal kedaluwarsa), maka akan ada batas waktu tertentu yang membuat kita hanya bisa menggunakannya dalam beberapa saat.

Pernah lihat lambang ini, kan, sebelumnya?  Nah, ini adalah salah satu yang menandakan berapa lama produkmu bertahan setelah produk itu dibuka. Paraben fungsinya melindungi kosmetik yang kamu miliki.

produk paraben free
via makeuptutorials.com

Ketakutan kita sebagai orang awam terhadap paraben, menurut saya, berlebihan.  Kita bakal cari tahu selanjutnya di tulisan berikutnya.

Karena Kamu pun Sesungguhnya Memakan Paraben

“Loh, serius?!?  Kita makan sesuatu berparaben?”

“Maksudnya kayak lipstik berparaben yang nggak sengaja kemakan gara-gara kita nyantap makanan?”

Nope, bukan yang kayak gitu.

Makanan yang tumbuh dan berasal dari tanah, ada juga, lho, yang mengandung paraben.  Contohnya apa?

  1. Buah-buahan dan sayuran, contohnya blueberi, mangga, strawberi, persik, wortel, dan bawang-bawangan.  Pada buah-buahan dan sayuran terkandung paraben sebanyak 85%
  2. Tanaman biji-bijian, contohnya gandum, jelai, quinoa, kacang-kacangan, vanila, biji coklat, kismis hitam; terkandung sebanyak 98%
  3. Produk yang terbuat dari bahan susu sapi, susu kambing dan susu kerbau; terkandung sebanyak 87%
  4. Ikan dan kerang-kerangan; terkandung sebanyak 91%
  5. Sirup pancake memiliki kandungan methylparaben tertinggi di antara semua jenis sirup makanan (untuk jenis yang diciptakan pabrik)

Ini adalah penelitian yang terbukti sah secara ilmiah, dikemukakan oleh peneliti dari University of New York di Albany pada tahun 2013 [1].  Masih yakin mau menghindari paraben?

 Kenapa Paraben Disebut Berbahaya?

Himbauan SCCS di tahun 2011 terkait pelarangan paraben di Uni Eropa

Jika kamu mencari sesuatu terkait paraben, maka saya yakin website inilah yang pertama kali muncul.

produk paraben free
via hellosehat.com

Tahukah kamu, tidak semua website itu bisa langsung kita percaya?   Di sini disebutkan bahwa Komisi Regulasi Uni Eropa, atau dikenal sebagai SCSS pada tahun 2011 telah melarang isopropylparaben, isobutylparaben, phenylparaben, benzylparaben, dan pentylparaben. Namun, di artikel yang diterbitkan oleh SCCS sendiri, telah meralat pernyataan yang sempat menjadi kontroversi saat itu.

Apakah isi pernyataannya?

EU law allow the use of parabens in cosmetics, and one or several of them can be present in a given product. The maximum total concentration allowed in such consumer products is 8 g of parabens per kg of cosmetic product, with no single paraben having a higher concentration than 4 g/kg. In a review of the most up-to-date scientific information, the SCCS confirmed that for the smaller paraben molecules (methyl-and ethyl paraben), this limit is considered safe.
For the longer paraben molecules (propyl- and butyl paraben) the Scientific Committee on Consumer Safety recommends to lower the limit to a maximum total concentration of 1.9 g/kg parabens.
For other, less used, parabens (isopropyl-, isobutyl-, and phenylparaben) only a very limited amount of information is available, and the potential risk could not be calculated.

Penggunaan paraben sendiri sesungguhnya masih diperbolehkan oleh regulasi dari Uni Eropa.  Paraben yang dinilai aman adalah methylparaben dan ethylparaben.  Propylparaben dan butylparaben masih boleh digunakan selama hanya dipakai 1,9 g untuk setiap kilogram produk yang dihasilkan.   

Sementara untuk isopropylparaben, isobutylparaben, dan phenylparaben masih sedikit sekali keterangan yang menyatakan ketidakamanannya, sehingga tidak diketahui risiko negatif apa yang mungkin terjadi jika kita memakai produk dengan nama isopropyl-,  isobutyl-, dan phenyl-. 

Kontroversi ini sendiri sebetulnya dimulai ketika pemerintah Denmark secara terang-terangan melarang penggunaan paraben dengan dimulai dari nama isopropyl-, isobutyl-, propyl-, dan butyl-.  Namun, produk yang dilarang memiliki 4 bahan ini adalah produk untuk anak usia 3 tahun ke atas, karena dikhawatirkan paraben yang menyerupai hormon estrogen ini mempengaruhi terhadap tumbuh kembang anak.

Ketika SCCS melakukan review pernyataan pemerintah Denmark, asesmen yang dilakukan itu masih belum cukup kuat. Namun SCCS menghimbau bahwa produk untuk bayi di bawah usia 6 bulan memang sebaiknya tidak digunakan di area kulit yang dibalut popok, karena dikhawatirkan timbul ruam atau permasalahan kulit lain yang mengganggu si bayi [2].

produk paraben free
via https://healthandenvironmentblog.files.wordpress.com

Penelitian Darbre tahun 2004 terkait kanker payudara 

Seperti yang dikatakan oleh Musicalhouses dalam artikelnya tentang paraben, sulit sekali untuk mencari jurnal ilmiah yang bisa diakses gratis untuk membantah pernyataan terkait penelitian-penelitian yang sifatnya lemah, contohnya adalah penelitian Darbre ini. Pendukung penelitian ini terdiri dari Campaign of Safe Cosmetics, David Suzuki Corporation, dan the Environmental Working Group.

Memangnya apa sih, isi penelitian Darbre?

Darbre mengungkapkan bahwa:

Paraben yang mereka temukan diuji dan diukur di blank samples.  Apa sih blank sample itu?  Blank sample adalah suatu sampel yang tidak mengandung analyte (s); komponen atau spesimen kimiawi yang merupakan substansi yang akan digunakan untuk prosedur analitik.

Dalam blank yang diuji, terdapat sejumlah paraben yang sangat kecil.  Paraben yang ditemukan di diukur dalam nanogram per gram.  Kita bisa mengibaratkan seperti ini: paraben yang ditemukan serupa dengan sejumput pasir yang kita genggam saat berada di pantai.

Di sini juga disebutkan bahwa di sejumlah blank, ketika diadakan tes, unsur paraben yang ditemukan lebih banyak di blank ketimbang dengan sampel asli yang berasal dari jaringan payudara yang terkena tumor.  Jadi, ini memunculkan kemungkinan bahwa paraben ini tidak berasal dari tumor payudara.

produk paraben free
via https://onlybuyvegan.com

 

Penelitian tahun 1998 tentang injeksi paraben pada tikus betina

Routledge pernah melakukan penelitian menginjeksi paraben langsung ke kulit tikus; dimana sesungguhnya kita tidak menggunakan paraben dengan cara yang sama.  Memangnya saat pakai skincare kita nyuntik dulu?  Lol.

Dan sebetulnya, ketika diinjeksikan pada tikus, tidak ada satu pun paraben yang diujikan (methyl-, ethyl-, propyl-, dan butyl-) aktif ketika diberikan pada tikus. Media yang salah mengartikan penelitian ini malah menggembar gemborkan bahwa paraben bisa bereaksi sebagai reseptor estrogen yang bisa mempengaruhi hormon wanita, sementara saat itu, estrogen telah dikaitan dengan perkembangan kanker payudara dan ketidakmampuan bereproduksi [3].

 

Dokumentasi Paraben Sebagai Bahan Aman

  1. Paraben sendiri sudah digunakan sejak tahun 1920 untuk dijadikan unsur pengawet.  Sejauh ini, belum ada studi ilmiah yang menjelaskan hubungan antara paraben dengan efek negatif terkait dengan kesehatan.  Namun, memang ada beberapa studi yang menyebutkan bahwa paraben itu memang menyebabkan alergi; ini artinya, ada sejumlah orang yang memang alergi dengan paraben, bahkan tidak disarankan digunakan oleh ibu hamil [4] .  Alergi yang mungkin timbul pun terkait dengan penyakit kulit, misalkan saja eczema. Trigger untuk bisa memicu alergi, dibutuhkan paraben dengan kandungan 0,5%-3,5%, sementara rata-rata kosmetik hanya menggunakan kurang dari 1% [5]..
  2. US Cosmetic Ingredient Review (CIR) merupakan organisasi yang didanai oleh pelaku usaha industri kecantikan untuk meneliti terkait bahan-bahan kosmetik.  Menurut Musicalhouses, metode penelitian yang dilakukan oleh CIR masih termasuk transparan dan adil.  Mereka sudah mulai menguji paraben sejak tahun 1984.  Beberapa dekade selanjutnya, di tahun 2003, 2005, 2008, 2011, dan 2012, paraben tetap dinilai aman. 
  3. Jika kamu melihat data terkait methylparaben dari website Environmental Working Group (EWG), maka kamu akan menemukan keterangan  yang mengklaim bahwa methylparaben merupakan perusak kontrol endokrin (kelenjar) manusia.  Mereka mengatakan bahwa European Commision menyatakan seperti itu di artikel yang mereka buat pada tahun 2007.  Namun ditemukan bahwa dari dokumen European Comission sejak tahun 1999 sampai 2011, tidak ada kata paraben sama sekali yang disebut-sebut sebagai perusak kontrol endokrin manusia (1999), (2001), (2011). Ini menyebabkan EWG tidak bisa dijadikan sumber akurat dan terpercaya.

Ok, Paraben (Mungkin) Aman. Tapi Apa Ada Alternatif Lain untuk Paraben?

Memang apa saja, sih, alternatif paraben?

  1. Methylisothiazolinone Methylisothiazolinone adalah pengawet yang memiliki kinerja yang baik, namun sesungguhnya menyebabkan masalah jika dipakai oleh yang memiliki kulit sensitif.
  2. Phenoxyethanol, merupakan bahan alternatif paraben yang digunakan di Uni Eropa dengan penggunaan berupa 1.0% di semua produk yang dihasilkan. SCCS sudah mengklaim keamanannya.  pH phenoxyethanol yang stabil adalah di kisaran 4 sampai 9.
  3. Sodium Benzoate dan Benzoic Acid, jika dikombinasikan dengan Potassium Sorbate, maka bisa menjadi alternatif yang bisa dipakai.  Digunakan sebanyak 1,7% untuk produk oral, 0,5% pada produk luar, 2,5% untuk produk sabun, dan 0,06% dan ke atas untuk mengatasi panu dan jamur. pH ideal ketika SB sendiri atau dikombinasikan dengan PS adalah antara 3 sampai 5, namun ini bisa menjadi masalah tersendiri.  Efisiensi produk bisa jadi malah berkurang atau malah tidak menghasilkan efek yang berarti.
  4. Benzyl Alcohol Sejauh ini Benzyl Alcohol digunakan di atas 1,0%.  Ketika dikombinasikan bersamaan dengan Dehyroacetic Acid, maka persentasenya adalah 0.6% dimana pH ideal adalah antara 3 sampai 5.
  5. Oregano, thyme, rosemary, goldernseal root, grapefruit seed extract, dan lavender  essential oil digunakan sebagai pengawet alami oleh sebagian pelaku industri brand indieSifatnya memang natural, namun harga yang mahal menyebabkan bahan produksi naik, sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai lebih mahal dibanding produk mengandung paraben. Selain itu bagi sebagian orang, essential oil menimbulkan iritasi jika dipakai ke kulit, sehingga tetap tidak semua orang bisa menggunakan pengawet alami ini.

Jadi mending pakai yang mengandung bahan alternatif aja, ya? Kan lebih aman.

Menurut Dr. Frederic Lebreux dalam artikelnya [6], sejauh ini sulit untuk menciptakan kosmetik tanpa menggunakan bahan pengawet, termasuk tanpa penggunaan paraben.

Satu-satunya kemungkinan adalah dengan menciptakan device atau wadah kedap udara, misalkan saja tipe botol pump kedap udara yang memiliki kontrol sistem yang meyakinkan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme.

Permasalahannya, packaging semacam ini jauh lebih mahal diproduksi ketimbang pump atau jar biasa yang kita pernah pakai.  Justru di sinilah sisi menarik yang dilakukan pihak marketing.

Embel embel preservative free menjadi langkah untuk menarik perhatian pecinta produk organik beralih memakai produk mereka, contohnya adalah membuat produk tanpa bahan pengawet atau memakai botol pump kedap udara. 

Apa sih, contoh produk Eropa yang ada embel-embel ini?

produk paraben free
via flickr.com
  1. Avene Dermatological Laboratories , bekerja sama dengan Promens meluncurkan DEFI system pada botol yang katanya bisa memproteksi formula dari bakteri setelah produk dibuka [7].
  2. LUSH, mengklaim karena produknya natural dan fresh from the oven, maka mereka tidak menambahkan pengawet dalam bahan-bahan.
  3. JooMoo, skincare natural asal Inggris yang mengklaim bahwa produk mereka dibuat tanpa bahan pengawet

Jadi kayak Avene, LUSH, dan JooMoo nggak bisa dipercaya, dong?

Jika merunut dari komentar Dr Frederic, sejauh ini peraturan Uni Eropa memang mengharuskan produk kosmetik bebas dari pengawet atau “preservative free“, namun belum ada keterangan bahwa Uni Eropa menerapkan “paraben free.”

Maksudnya apa?

Jumlah pengawet yang diperbolehkan untuk dipakai sebagai alternatif paraben kian menurun dari tahun ke tahun. Inilah yang menyebabkan banyak produsen tetap menggunakan paraben dalam jumlah sangat sedikit.  Dan meski produsen membuat produk tanpa memakai paraben sama sekali, selalu ada kemungkinan bahwa supplier mereka sudah mencampurkan sedikit unsur paraben untuk memastikan bahan baku sampai dalam kondisi baik ke produsen.  Sehingga tetap sulit untuk mendeteksi produk pabrikan yang tidak menggunakan paraben, kecuali produk itu diproduksi dalam skala kecil atau edisi terbatas.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa sejauh ini belum ditemukan pengawet sebaik dan semurah paraben sebagai alternatif lain yang terpercaya untuk mengamankan kosmetik. 

Kenapa Kampanye Paraben Free Sangat Gencar Kalau Paraben Ternyata Aman?

produk paraben free
via http://en.regenyal.eu

Konsumen, atau kita, adalah penggerak utama roda ekonomi industri kecantikan. Sejak lebih dari satu dekade yang lalu, gaya hidup kita seketika berubah, menjadi back to nature.  Gembar gembor media yang salah kaprah juga sebetulnya turut mendukung terhadap gerakan kosmetik paraben free. 

Inilah yang sesungguhnya mempengaruhi kita untuk membeli produk-produk organik, termasuk tidak keberatan membeli deodoran seharga Rp 200.000 alih-alih produk drugstore yang cuma Rp 20.000-an.

Banyak juga yang memilih untuk berjaga-jaga ketimbang menyesal di hari akhir.  Jadi cukup banyak pula yang meralih menggunakan produk organik karena, misal saja, ada riwayat kanker di keluarga, yang menyebabkan seseorang beralih mengubah gaya hidup.

Kesimpulan

  1. Paraben sesungguhnya aman digunakan, kecuali jika kamu memang alergi dengan kosmetik buatan pabrik. Ibu hamil disarankan tidak memakai produk mengandung paraben.
  2. Belum ada alternatif terbaik semurah paraben yang bisa digunakan oleh industri kosmetik.
  3. Paraben sudah digunakan sejak tahun 1920, dan belum ditemukan bukti nyata yang mengatakan bahwa paraben memiliki efek negatif terhadap kesehatan manusia.
  4. Paraben tidak hanya digunakan pada kosmetik.  Sebanyak 90% makanan yang kita konsumsi mengandung paraben alami, sehingga sulit untuk menghindar dari paraben.
  5. Belum ada lembaga terpercaya yang melarang penggunaan paraben.  Peringatan memang sudah pernah diluncurkan oleh pemerintah Denmark, namun negara-negara lain di Eropa tidak melakukan kampanye penghentian penggunaan paraben.  Kampanye di Denmark pun hanya dikhususkan untuk produk skincare anak-anak.  Tetap ada empat jenis paraben yang masih bisa dipakai oleh industri kosmetik Eropa.
  6. Jangan mudah tertipu dengan marketing.  Embel-embel paraben free digunakan untuk menaikkan harga produk; sementara belum tentu khasiat produk itu memang jauh lebih “wow” dibanding produk mengandung paraben yang lebih murah. Dan meski produk tidak mengandung paraben, supplier mereka bisa saja mencampurkan paraben ke bahan pembuatan kosmetik.  Contohnya, regulasi Jepang tetap membolehkan penggunaan paraben, namun tidak mencantumkan dalam daftar isi bahan-bahan produk. Sehingga tetap sulit untuk mendeteksi produk mana yang tidak mengandung paraben.
  7. Pendapat saya sendiri: berhubung saya lebih suka produk yang awetnya setahun-dua tahun (biar nggak gonta ganti), saya menyatakan diri tidak anti terhadap paraben. Soalnya mahal gonta ganti terus mah :’D.  Paraben memang terbukti jauh lebih aman dibanding dengan bahan-bahan pengawet alternatif, tapi saya pun memang menginginkan penggunaan bahan pengawet yang memang tidak menimbulkan reaksi apa pun.  Jadi sebaiknya kita nantikan saja penemuan lain yang mungkin bisa menggantikan paraben. 

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    15 Comments

    1. Astin Astanti

      Pernah mendengar istilah Paraben, tapi belum begitu memperhatikan apakah di kosmetik yg kupakai ada parabennya atau tidak. Maksih ya, Mbak infonya

      14 . Oct . 2017
    2. dina

      hemphh aku ibu hamil berarti harus menghindari paraben.yg jadi pertanyaan,sangat jarang yang tidak ada kandungan paraben nya.huhuu dan tanpa paraben apa jadinya ? hihi

      14 . Oct . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Sebetulnya alasan menghindari paraben lebih karena dikhawatirkan nanti pengaruh ke bayi, soalnya produk yang bumil pakai itu pasti bakal terserap juga sama si bayi 😀

        Itu sebetulnya menurut SCCS, kalo tanya ke dokter mungkin bisa lebih jelas lagi, Mbak, hehe.

        15 . Oct . 2017
    3. Rani Oktavia

      Postingannya bermanfaat banget! Aku sendiri orang yang gak begitu mempermasalahkan paraben asal produknya memang memakai paraben sesuai peraturan yang ada. Sebenarnya produk Lush pun ada yang mengandung methylparaben sebagai pengawet karena gak semua produknya self preservatives. Tapi tetep aku pakai karena suka banget sama Lush hehe

      15 . Oct . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Iya, selama ngikutin aturan nggak masalah sih, 🙂
        Baru tahu malah Lush ada paraben. Belum pernah make. Pengen nyoba juga! XD
        Sebetulnya bukan berarti jangan percaya sama produk yang pake embel embel preservative free sih, tapi memang terkadang ada produk yang pasang harga terlalu tinggi, pernah soalnya sempet baca kasus di story IG, dimana suatu brand tertentu di Amrik ngeklaim produk mereka lebih baik dari yang lain. Sebetulnya sih tergantung gimana reaksi ke kulit masing-masing terkait produk, bukan masalah paraben 😀

        Makasih udah mampir ya!

        15 . Oct . 2017
    4. Artha Amalia

      Jadi pernah ada salah kaprah ya? Tapi tetep kudu ati2. Saya waktu hamil ini jarang banget pake make up…takut kandungannya aneh2. Kan saya gak ngerti isi make up, asal pake ajah

      15 . Oct . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Kalau mau aman ke dokter sih Mbak, nanya boleh atau nggak pakai yang berparaben. Kebanyakan memang gitu, temen saya juga nggak pakai makeup pas hamil 😀

        15 . Oct . 2017
    5. Zahra

      Terimakasih penjelasannya mbak… Iya benar yang natural tidak bisa tahan lama. Kalau ga salah dulu teman pernah kasih tahu meski berparabenpun kalau dibuka ada rentang waktu sekitar 8 bulan maksimal kosmetik bisa dipakai, baru tahu kalau lambang itu adalah petunjuk waktunya.

      16 . Oct . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Iya sama sama Mbak 🙂

        17 . Oct . 2017
    6. Nizmi nasution

      Wuahahaha aku sudah termakan embel-embel “no paraben, paraben free.” 🙁
      Kalau kakak sendiri pernah nyobain skincare alami yg no paraben, no sls, dan no mineral oil gak?
      Oiya aku sering banget denger kalau aluminium chlorohydrate dalam deodorant bisa memicu kanker payudara. Serious ini bikin aku takut banget dan heboh browsing soal deodorant alami aku juga pernah liat salah satu brand deodorant luar negeri yg mengklaim no aluminium chlorohydrate. Tapi harganya hampir 200k dan susah nyarinya, mesti PO dulu. Nah kalau ini menurut kakak gimana ya? Boleh juga nih next time bikin artikel tntg kandungan aluminium chlorohydrate dalam deodorant. Ehehe

      30 . Oct . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Pernah gara-gara iseng aja sih haha, tapi nggak enaknya itu karena nggak ada pengawet cepet basi, sementara harganya mahal. Contohnya The B*th Box hehe.

        Oh boleh idenya bagus, aku pun sekarang pakai deodorant alami sih. Bukan apa-apa, soalnya kalau pake deodorant pasaran itu nggak tahu kenapa ketiaknya suka nyut-nyutan, haha. Emang kayaknya underarm ini sukanya barang-barang mahal XD

        31 . Oct . 2017
    7. Nizmi Nasution

      deodorant alaminya bikin sendiri atau ada brand yang jual deodorant alami kak? ehehehe

      02 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Susah bikin sendiri mah haha, aku sempet beli Sukin, agak mahal tapi awet setahun. Sekarang lagi nyoba Peek Me, bisa beli kok di Toko Organic. Toko Organic udah ada di Jakarta, Bandung, sama Bali, tapi bisa online juga

        03 . Nov . 2017
    8. Nizmi Nasution

      waah menarik tuh deodorant alami. bisa tuh kak nanti direview hihihi. lebih enak sukin atau peek me, kak? trus itu deodorantnya cepet kering gak?

      03 . Nov . 2017
    9. Nizmi Nasution

      pengen nyobain peek me deh, soalnya harganya dibawah 100k. masih cukup terjangkau. hihihi.

      03 . Nov . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *