in Miscellanous

Antara Perempuan, Sekolah Tinggi, Jodoh, dan Revolusi Pola Pikir

at
perempuan-jodoh-sekolah-revolusi

“Kamu bakal susah dapat jodoh Mi, kalau  kuliah S3 sekarang. Soalnya ada banyak yang harus dikorbanin.  Kemungkinan jodoh kamu itu yang punya pemikiran sama, pengen jadi dosen juga. Laki-laki yang lain mungkin keder duluan dengar cita-cita itu.”

Kalimat ini pernah terlontar dari mulut teman saya yang cukup lancang, beberapa tahun lalu.  Jujur aja, saya keki mendengar dia bicara seperti ini seolah dialah yang menentukan jodoh saya di Lauh Mahfudz.  Punten, kalau bisa di-download dari dulu nggak usah pusing menghadapi ngeyelnya orang-orang seputar: “Kapan Nikah?  Kapan Punya Anak? Kapan Mati?” ~ XD 

Entahlah ya, single di usia segini rasanya kok seperti dosa besar di mata sebagian orang yang, boleh saya katakan, punya pemikiran konservatif ke arah kuno.  Jadi seolah-olah menikah itu dijamin masuk surga, lol. Saya masih enjoy sendirian ke mana-mana, masih asyik belajar (buat ngajarin anak orang lain ~XD),  eksplorasi pengetahuan terbaru, dan upgrade kemampuan.

Terus apa hubungannya sih, dengan menikah?  Memangnya dengan menikah kesempatan belajar ke luar negeri itu terhambat?  Untungnya sekarang bukan zaman Sitti Nurbaya, jadi perempuan berkesempatan sekolah setinggi-tingginya.  Sudah cukup banyak yang melanjutkan sekolah S3 ke luar negeri, pulang ke Indonesia membantu membangun karakter calon penerus bangsa.

Alhamdulillah, sudah lebih modern.

Untungnya, Ayah saya sendiri bukan tipe orang yang kaku.  Saya dibolehkan untuk S3 jika memang ada kesempatan keluar.  Dulu saya pernah ditawari untuk melanjutkan S3 ke Jepang, tapi karena saya ingin menikmati rasanya balas dendam ke anak orang lain (baca: memberi ilmu layaknya dosen teladan untuk anak didiknya), saya bekerja dulu.

Tapi tekanan sosial terkait perempuan dan sekolah tinggi tetap ada juga, lho, jangan salah sangka.  Sudah jadi dilema umum jika ada perempuan yang berniat sekolah S3, termasuk saya.  Saya sendiri diberi syarat “harus menikah” baru S3 oleh Ayah.  Ibu lebih fleksibel, jika kesempatan datang sebelum bertemu jodoh, kenapa nggak?  Toh kalau ternyata ketemu jodoh di Negeri Sakura, bukankah itu jalan bagi saya untuk menikah?

Karena itu saya heran dengan orang-orang yang masih berpikir: “Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya urusanmu itu hanya kasur, sumur, dan dapur!”

Dikira ngasih makan anak-suami, ngobatin mereka waktu sakit, nggak perlu pakai ilmu?

Asal tahu saja, kakak kelas saya menikah ketika sedang menempuh S3 di Belgia, dan acara lamaran sendiri diadakan via Skype.

Sahabat saya menikah tak lama setelah lulus S2 di Belanda, dan suaminya justru adalah teman kuliah selama di Belanda.

Dua contoh itu sebetulnya sudah membuktikan bahwa jodoh itu nggak ke mana-mana.  Kecuali jika memang ditakdirkan mati muda sebelum bertemu jodoh, setiap orang itu pasti ketemu.  Nggak akan hilang.  Jadi argumentasi teman saya di atas itu ngaco, soalnya nggak saya temukan di jurnal dan conference paper manapun :p

Justru dengan sekolah ke luar negeri, mereka menjadi orang-orang yang mandiri, punya pemikiran luas, dan selalu mencari informasi terlebih dulu untuk meyakinkan bahwa informasi itu kelak bisa mereka gunakan untuk keperluan rumah tangga mereka.

See, apa manfaatnya sekolah tinggi-tinggi?

Saya sendiri termasuk yang berpendapat bahwa perempuan itu harus cerdas. Perkara apakah perlu ditempuh dengan jalur formal atau informal, itu adalah hal relatif.  Banyak juga kok, perempuan yang akalnya (maaf) kurang jalan meski sekolah tinggi.  Sekolah tinggi memang penting, karena  bisa membentuk pola pikir menjadi lebih matang dan berpandangan luas.  Kita menjadi kaya akan pengalaman hidup, yang bisa kita share untuk generasi berikutnya.

Tapi seandainya tidak ada kesempatan sekolah tinggi, kita juga bisa cerdas dengan cara kita sendiri.    Jadi yang terpenting sebetulnya bukan sekolahnya, tapi maukah menjadi perempuan cerdas?  Bagaimana membentuk kecerdasan agar perempuan bisa survive di era yang serba tidak pasti ini?

Cara menjadi cerdas itu gimana, sih?

Banyak Baca Buku

Saya sempat berbincang, sedikit ngeanalisis secara sotoy bersama adik, membicarakan betapa menyedihkannya orang Indonesia, khususnya perempuan yang tidak punya minat baca buku.  Bukan buku ecek-ecek unyu sampah yang digemari remaja, ya, buku yang sifatnya lebih filosofis dan mengajarkan makna hidup.

Saya: Kayaknya sih ini pengaruh zaman Belanda dulu, makanya orang Indonesia males baca buku

Adik: Emang ada apa gitu?

Saya: Ya, kan dulu Belanda nggak ngebolehin kita baca Al Qur’an, cuma boleh baca terjemahannya aja.  Pendidikan cuma buat priyayi, itu pun disekolahin ke sekolah Barat.  Makanya sekarang ideologi negara kita aja lieur, terlalu banyak pemimpin yang punya ideologi ini itu, nggak punya pendirian yang sesuai bangsanya sendiri

Adik: Kelamaan dijajah bikin kita lebih mikir nyari nasi sih, daripada ngisi otak dengan ilmu.  Makanya kebawa-bawa sampai sekarang, OKB lebih suka foya-foya di luar negeri, bukannya ngisi otak  dengan tafakur alam tapi ngisi rumah dengan barang impor

Saya sendiri penikmat buku ringan, tapi tak keberatan disodori buku bertema berat.  Makanya, saya lumayan sombong kalau urusan “siapa yang lebih bookworm di rumah”, haha.  Di antara teman-teman dekat sendiri, sangat sedikit yang menikmati literary fiction atau pop fiction yang temanya agak berat, jadi saya cuma bisa curhat lewat review buku (yang sampai sekarang masih hiatus mode on, lol).

Buku itu jendela dunia.  Asli, lho, benar.  Saya tahu banyak tentang negara orang lain tanpa berkunjung, berkat baca buku.  Saya tahu sejarah Perang Salib dan bagaimana hubungannya dengan perang di Suriah sekarang karena baca buku.  Saya tahu bahwa ISIS cuma mainannya negara Barat berkat membaca beragam sumber.  Saya tahu fungsinya Cobit 5 itu ternyata bisa untuk memberantas korupsi di tanah air andai diterapkan, karena saya baca jungkir balik untuk mengerti isinya (anak IT pasti ngerti ~XD).

Tahukah kamu, bahwa membaca buku berarti kamu tidak akan mudah dibodoh-bodohi? Jadi saya nggak mudah dibohongi media, menjadi orang yang sebisa mungkin menyaring informasi sebelum meyakini kebenaran.

Ya.  Sepenting itu membaca buku.

Ikut Komunitas Menulis (Blogger)

Ikut komunitas pun lihat-lihat lagi, lho, ya.  Komunitas macam apa yang bikin kita bisa makin cerdas?  Di komunitas, kita bisa share ilmu yang bermanfaat.

Dulu saya ngeblog tanpa ikut komunitas mana pun, karena saya memang nggak istiqomah saat itu.  Tapi begitu saya serius, ikut bermacam-macam komunitas blog khusus perempuan, saya jadi ketagihan terus menerus menulis.

Menulis sendiri adalah kegiatan sambungan dari membaca. Dengan membaca, kosakata makin banyak diketahui.  Hayo, siapa yang tahu apa arti dari “gawai”, “derau”,  dan “renjana?”  Kalau jarang baca, kita tidak akan mengerti apa maksud ketiga kata itu, dari mana asalnya, dan kenapa kita harus tahu?

Dengan sering baca, otomatis kita akan jauh lebih lancar saat menulis.  Kita punya pemikiran, punya ide yang ingin disalurkan, ingin berbagi hal yang asalnya hanya diketahui kita, lalu diteruskan pada orang lain.  Inilah indahnya menulis.

Dan hal paling menarik, dan mungkin hanya diketahui segelintir orang, tulisan seorang perempuan berhasil membuat Belanda gentar. Takut dengan perempuan hanya karena tulisannya!  Siapakah dia? Yup, Rohana Kudus (baca lebih lanjut: Menggugat Hari Kartini)!

Menulis sesuatu yang membangkitkan semangat suatu kaum, membuktikan bahwa kegiatan ini adalah sesuatu yang mencerdaskan pikiran dan hati.  Kita bisa membuat revolusi hanya dengan membaca dan menulis.  Revolusi macam apa sih, yang bisa dilakukan oleh perempuan?

Yup, revolusi pola pikir!

Suatu saat nanti saya akan menjadi emak-emak, menyusul teman-teman saya yang sudah menjadi ibu hamil, mamah muda, dan ibu menyusui.  Revolusi ini diperlukan agar kelak nantinya kita tak hanya menjadi ibu rumah tangga biasa.  Kita bisa mengikuti arus perkembangan yang semakin cepat, memilah milih mana yang cocok untuk diterapkan untuk pendidikan generasi kita selanjutnya, yaitu anak kita sendiri.

Seperti yang sudah disebutkan oleh Mbak Ira di tulisan artikelnya:

“Disinilah peran pentingnya pendidikan tinggi untuk para perempuan.  Perempuan yang akan menjadi ibu, pendamping dan teman untuk anak-anak.  Bahwa membesarkan anak-anak di era yang begitu kompleks, butuh ibu, orang tua yang bijak dan bisa berpikir cepat.  Ibu yang arif dan memiliki pengalaman hidup yang luas.  Perempuan dan sekolah tinggi itu harus.”

Yuk, ah, mari kita melatih kecerdasan untuk kepentingan anak kita kelak!

Share:

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    11 Comments

    1. Putu Ayu

      aku banyak temen yg sekolah sampe s2 tapi milih di rumah aja ngasuh anak. keren 🙂 dan setuju, kita harus jadi irt yg ngga biasa dengan pendidikan tinggi dan wawasan luas 🙂

      22 . Sep . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Memang sudah kodrat wanita untuk ngasuh anak (jika punya) :). Generasi Z banyak yang kritis sekarang, kalau mamanya kudet susah ngontrolnya nanti

        22 . Sep . 2017
    2. Farida

      Siapa bilang perempuan ga perlu sekolah tinggi?
      Nih bedanya calon ibu berpendidikan s3 dengan kebanyakan orang kelihatan dari artikel ini. Ya kan? 🙂

      22 . Sep . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Haha saya jadi malu >_< Belum ada judul disertasi makanya nggak jadi juga, Mbak. Cita-cita itu masih ada, tapi ke sini-sini denger cerita orang rasanya jadi nggak yakin, soalnya saya time management buruk dan moody~XD

        23 . Sep . 2017
    3. Shiva

      Hi Mi, salam kenal!

      For sure, seorang ibu mesti berpendidikan dalam artian akademik maupun non akademik yaa… Akademik sampe doktoral Alhamdulillah, rejeki ibu anak bisa ngeyam pendidikan tinggi. Non akademik yang berupa tumbuh kembang anak perlu juga buat seorang ibu belajar ilmunya. Aku sendiri selalu ada niat untuk lanjut s2 bahkan s3 hanya saja masih nyari ilmu yang pas, haha #alasan.

      Semangat untuk cita2 sekolah para perempuan. Sebab, kewajiban belajar dan menuntu ilmu itu tidak pandang gender dalam Islam sekalipun kan? Hehe..

      22 . Sep . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Islam justru agama yang menganjurkan agar perempuan pun mendapat kedudukan setara, artinya boleh dong belajar, hehe 🙂

        Kakak kelas saya ini malah cita-citanya jadi IRT aja setelah dapat gelar doktor. Buat sebagian orang bakal terasa aneh sih, sayang kenapa nggak sekalian jadi dosen aja. Tapi itu mah hak tiap orang asalkan keputusannya memang baik

        23 . Sep . 2017
    4. Puspita Yudaningrum

      Setuju banget mbak! Perempuan harus cerdas. Bukan bermaksud untuk menyaingi laki-laki tapi untuk mempersiapkan generasi selanjutnya, karena sekolah pertama anak adalah di rumah dan guru pertama anak adalah ibu jadi menjadi wanita yg cerdas itu WAJIB banget

      22 . Sep . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Iya, toh laki-laki sama perempuan kodratnya beda. Tapi bukan berarti perempuan nggak boleh pinter juga 🙂

        23 . Sep . 2017
    5. Hastira

      tenag mbak, jangan suka dengerin omongan org begitulah di indonesia, suka nyinyir dan kala ada yg beda dengan yg umum dianggapnya aneh

      23 . Sep . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Iya, setuju 🙂

        23 . Sep . 2017
    6. Lina

      bener banget jodoh takkan lari kemana, semangat ya sekolahnya 🙂

      26 . Sep . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *