July 25, 2016 Azzahra R Kamila 0Comment

Saya sendiri baru tahu sosok ini saat teman saya secara iseng posting meme Karin Novilda di timeline LINE saya.  Saya bukan orang yang gaul, tahu segala macam hal yang terjadi di sosmed, makanya kurang update sama hal-hal semacam ini.  Tapi melihat postingan itu ditambah beberapa kata (saya lupa apa) mengenai betapa hitsnya anak ini, saya mendadak kepo.  Kenapa orang-orang sejagat Indonesia membicarakan dia?

Siapa sih Awkarin?  Kenapa kok kayaknya dibicarain, dihina, dibela, dan lain sebagainya?  Tulisan saya kali ini bakal ngambil perspektif berbeda dari postingan  Ndari yang di-share sampai 16.000 orang lebih maupun Catatan Untuk Para Orangtua Dulu. Saya Pernah Menjadi Karin Novilda.  Saya tidak ingin ikut mencaci, kasihan, maupun mendukung kegiatan Awkarin sehari-harinya di sosial media.  Saya cuma ingin menyampaikan apa yang saya pikirkan selagi membaca support positif dan negatif untuk anak satu ini.

Saya itu pengamat.  Saya jarang ikut mencaci atau mendukung orang.  Saya tipe orang yang bakal baca postingan di grup kelas tapi tidak berpartisipasi dalam obrolan.  Itulah saya.  Makanya sangat menarik melihat beragam reaksi orang atas sesuatu, karena dari situ saya bisa menilai sejauh apa sifat atau mental orang itu dalam menghadapi sesuatu.

Saat pertama kali stalking askfm milik Karin, jujur aja saya sakit mata.  Lihat IG-nya, menarik sih konsep yang dia pakai untuk posting (beberapa foto berlatar pink, selanjutnya hitam, selanjutnya kuning, dsb) tapi isinya bikin saya langsung menutup lagi IG-nya.  Berbeda dengan Karin, saya dibesarkan di keluarga yang sangat ketat dalam menjalankan agama, meskipun ayah saya tidak meminta saya pakai cadar dan baju hitam-hitam.  Itu juga alasannya kenapa dulu saat SMA saya ini cuma jadi cacing tanah, tidak bisa gaul dengan anak-anak eksis yang notebene menjalani pola hidup kurang lebih sama seperti Karin. Jadi itu alasan saya sakit mata, tidak terbiasa melihat hal-hal yang memang berada di luar dunia saya.

via qureta

Setelah melihat, saya mendadak tidak peduli, sama seperti para pengamat lain di dunia maya.  Saya sejenis dengan guru bahasa Inggris yang mengomentari postingan Ndari.  Tidak peduli, don’t care, I mean she’s not really influencing my life!  Kebanyakan dari kita pasti ada yang seperti saya, hanya mengamati dan mungkin ada yang bilang, “Hidup dia ya hidup dia kali, kok rese amat ngurusin.” Saya merasa ditabok sih setelah lihat postingannya Ndari dan Mami Ubii. Saya apatis banget ya, jadi orang. Mungkin yang saya lakukan dengan bikin postingan di blog bukan usaha maksimal, tapi dari sini saya ingin menyampaikan pendapat lain yang bisa jadi bahan renungan.

Saya saat SMA mungkin bisa dibilang alay kali, ya.  Dulu juga saya punya panutan, bedanya dengan anak-anak zaman sekarang, panutan saya adalah boyband Jepang.  Terlihat jelas ya, saya angkatan berapa? :’); eniwei, untuk anak SMP dan SMA, saat-saat seperti ini adalah saat di mana kita akan kagum terhadap dunia luar, kagum pada sesuatu yang tidak biasa ada dalam kehidupan kita, kagum dengan sesuatu yang kita anggap keren.  Panutan saya itu w-inds., Laruku, dan anak-anak Jhonny’s.  Dulu juga saya sempat alay, begitu benci dengan band-band Indonesia yang waktu itu tiba-tiba jadi booming seperti Nidji, Peter Pan, Samsons dll, tanpa alasan.  Saya langsung marah saat ada orang melakukan bashing terhadap idola saya, dan saat itu memang masa-masanya fans K-Pop dengan fans J-Pop generasi awal saling mengejek idolanya masing-masing untuk membela diri.

Mirip banget kan, dengan #TimGaga dan #TimKarin zaman sekarang?

Makanya, walaupun dalam hati saya menganggap “Karin itu hanya sebuah fenomena yang bakal tenggelam 3 bulan ke depan, ngapain saling hujat sih?” ; ini dia yang bikin saya menarik kata-kata saya lagi.  Harap diingat, yang menjadikan dia sebagai pujaan itu anak SMP dan SMA.  Saya pernah menjadi mereka, versi lebih jadul.  Jadi kalau mereka membela Karin, saya bisa mengerti.  Siapa sih yang mau panutannya di-bash?

via sbs. dulu saya pernah jadiin mereka panutan saya karena gayanya keren di masa itu

Saya pernah beli permen karet Bourbon hanya gara-gara w-inds. menjadi bintang iklan tetap selama beberapa tahun, padahal dulu saat saya beli di Papaya harganya itu dua kali lipat Big Bab*l.  Saya pernah gonta-ganti kacamata dalam waktu setahun (padahal jatah dari kantor ayah saya itu 3 tahun sekali) hanya gara-gara ingin menemukan kacamata yang persis mirip dengan punya Ryohei yang pernah dia pakai di satu sesi.  Karena segala keterbatasan, saya memang tidak bisa meniru apa yang mereka punya dan miliki.  Tapi bisa memiliki barang yang sesuai atau setidaknya mendekati dengan apa yang mereka punya, rasanya tuh bangga banget!

Saat menengok lagi masa lalu, saya pikir, Awkarin itu membawa “angin segar” (ya, itu ada maksudnya kok pake tanda kutip) karena, bisa jadi anak-anak ini menganggap, “Akhirnya! Ada orang keren yang asik banget buat dijadiin panutan” lalu mengikuti gaya dia secara berjamaah.  Jadi saya ngerti, ngerti banget jika mereka marah saat Awkarin dihina dari segala penjuru Indonesia.

Saya tidak bilang bahwa apa yang mereka lakukan benar.  Saya juga tidak bilang bahwa saya ngerti banget psikologi, saya yakin pasti ada istilah tertentu untuk menyebut fenomena pemujaan terhadap seseorang di  usia remaja.  Tapi ternyata begitu besar lho, pengaruh idola kita terhadap diri kita, contohnya kelakuan saya saat masih remaja. Dan saya agak menyayangkan saja dengan mental anak-anak zaman sekarang yang cenderung menganggap hal-hal yang merusak diri itu keren.  Dedek dedek, kalau jadi saya nih yang bentar lagi seperempat abad, kalian bakal ngerti bahwa kesehatan itu penting.  Orang-orang di usia yang sama seperti saya mati-matian cari akal gimana caranya supaya bisa tetap sehat, supaya bisa bekerja dengan baik, supaya bisa support keluarga baru dengan suami atau istri.  Makanya gaya hidup Karin yang “aww” itu paling bakal terlihat asyik sementara waktu.  Kalau sudah memasuki usia 30-40, baru nyesel kenapa dulu saya ngerokok, kenapa dulu saya minum.  Kenapa saya bertato, padahal cik atuhlah mun umur panjang jadi aki jeung nini mah asa ngewa ningali kulit peot bertato teh :(. Saya punya saudara yang sudah merasakan akibatnya karena jadi perokok berat, makanya dengan cuptau aja saya nggak mau ikut-ikutan gaul seperti itu.

via tumblr

 Untuk mencuci otak anak-anak ini agar bisa kembali bersih itu sulit.  Saya sendiri bisa dibilang agak sembuh setelah kuliah tingkat tiga, dengan berbagai kesibukan membuat saya jadi tidak begitu peduli lagi dengan panutan saya.  Saya masih follow, tapi sekedarnya.  Ketika saya menginjak usia 20-an, saya sudah tidak lagi menjadi fans siapa-siapa.  Bukan berarti saya menyesal pernah jadi alay, tapi satu hal yang bikin saya down adalah: buat apa sih saya capek-capek ngumpulin uang beli berbagai merchandise dan album toh ternyata nggak saya pedulikan lagi?

Remaja, terutama saat saya dulu masih polos dan nggak terlalu imut, gampang tersinggung kalau ada sesuatu yang menurut dia asyik, tapi dianggap buruk oleh orang lain. Pendekatannya memang tidak mudah untuk bisa membuat anak-anak ini melupakan Awkarin dan yang sejenisnya untuk dijadikan panutan. Bukan berarti saya merendahkan orang-orang yang masih jadi fans berat terhadap satu atau sekian orang, ya, tapi saya cuma mau bilang, itu hanya sementara. Kita tidak akan menjadikan orang itu atau grup itu menjadi panutan lagi, karena jika memang pikiran kita ikut tumbuh seiring bertambah usia, ada hal-hal yang lebih penting lagi yang menjadi prioritas hidup kita.  5-10 tahun lagi kita bakal ngetawain diri sendiri: “Kenapa sih gue sempat alay jadiin orang itu idola hidup gue?”

via infocelebkorea

 Kalau pun ingin menjadikan seseorang panutan, saya lebih merekomendasikan untuk jadi fans EXO,  BTS, Arashi, dan lain-lain.  Bukan, bukan gara-gara saya fans K-Pop dan J-Pop atau apalah itu akhirnya jadi promosi. Lebih aman, dan justru banyak   teman dan kakak kelas saya yang sudah melanglang buana ke dua negara ituuntuk kuliah dan kerja.   Ini semua gara-gara dulu mereka tertarik dengan budaya Korea dan Jepang yang diperkenalkan para artis dan tokoh anime.  Lebih bagus lagi jika yang muslim menjadikan Siti Khadijah atau Siti Aisyah sebagai panutan, mereka itu namanya nggak akan tenggelam kok setahun lagi kayak Awkarin.  Nama mereka abadi sepanjang masa. Saya rasa itu malah lebih positif 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *