in Miscellanous

Menggugat Hari Kartini: Siapa Pelopor Emansipasi Sebenarnya?

at
menggugat-hari-kartini-pelopor-emansipasi

Oke, judulnya kontroversial, haha *ampun, jangan timpuk saya*.  Ada alasan tersendiri kenapa saya pakai judul ini , selain untuk menarik perhatian, saya memang menggugat hari Kartini.

Ngapain sih ngegugat, nggak penting banget! Nyari sensasi doang, ya?
via terbitsport.com

Nggak, sih, saya cuma gerah karena kebanyakan orang menganggap R.A Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia.  Bukan karena saya syirik, atau rasis dengan suku tertentu, atau tidak suka dengan beliau.  Tidak begitu.  Harus diakui bahwa sepak terjang beliau sebagai orang yang memikirkan kesejahteraan kaum perempuan saat itu memang terbilang maju.  Selain karena beliau memang seorang raden; dalam arti bisa memperoleh pendidikan layak untuk bisa berpikir demikian, R.A Kartini mempunyai kepedulian sosial tinggi terhadap kaum sesamanya.

Terus kenapa pake acara ngegugat segala?

Saya nggak setuju bahwa hanya R.A Kartini yang mendapat spotlight di hari emansipasi wanita Indonesia.  Dulu saya nggak pernah bertanya kenapa hari emansipasi harus jatuh pada tanggal 21 April.  Otak saya terdoktrin, apalagi dulu semasa SD memainkan lagu “Ibu Kita Kartini” selalu dilakukan untuk ujian musik menggunakan pianika.

via sahabatkuseni.blogspot.com

Ibu kita Kartini

Putri sejati Putri Indonesia

Harum namanya

Ibu kita Kartini

Pendekar bangsa

Pendekar kaumnya

Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia 

Setelah dewasa, saya mempelajari banyak hal yang justru terlupakan.  Saya penggemar teori konspirasi  yang juga punya hobi menggali fakta sejarah (oke, kesannya emang nggak ada kerjaan), jadi saat saya tahu bahwa ada banyak perempuan Indonesia di zaman R.A Kartini hidup berkiprah untuk sesamanya, saya mulai bertanya-tanya: Kenapa harus R.A Kartini yang dielu-elukan?  Seberapa banyak jasanya sampai membuat perempuan tangguh lainnya terlupakan? Benarkah ini salah satu permainan politik Hindia Belanda karena sosok Kartini lebih disukai dibanding yang lain?  Lalu diterbitkanlah “Habislah Gelap Terbitlah Terang” melalui Balai Pustaka yang memang jelas-jelas dikuasai kaum mereka saat itu? *abaikan*

Emang fakta apa aja yang kamu dapat, sih?

Rohana Kudus

via merahputih.com

Siapa beliau? Rohana Kudus adalah wartawati Indonesia pertama, yang jelas-jelas dibenci Belanda. Beliau hidup pada tahun 1884-1972, bahkan jauh lebih lama daripada R.A Kartini!  Karena Rohana merupakan pemimpin redaksi yang sangat anti-Belanda, maka Belanda sama sekali tidak mendukungnya untuk dijadikan sosok pahlawan yang perlu ditengok orang Indonesia.

Suara-suaranya di koran jauh lebih keras dan jelas-jelas anti-Belanda. Dan melihat kedudukannya yang bisa menjadi pemimpin redaksi, tidak serta merta membuat keadaan setiap kaum perempuan Indonesia setara, dalam arti semua perempuan menderita.  Dijadikan warga kelas dua.  Tidak mendapat pendidikan yang layak. Rohana justru berhasil menjadi wartawati pertama juga Perintis Pers Indonesia.

Dewi Sartika

via omediapc.com

Dewi Sartika tidak hanya menyuarakan kesetaraan saja, bahkan juga menyuarakan anti-poligami! Dahulu dikenal sebagai gadis tomboi, Dewi Sartika tumbuh menjadi gadis cerdas di bawah asuhan Agan Eni, istri keempat Patih Cicalengka. Sempat ditaksir oleh Raden Kajun Surianingrat tidak serta merta membuat Dewi Sartika menerima pinangannya.  Beliau menolak dengan halus, karena tidak ingin merusak hubungannya dengan istri sang raden.

Dewi Sartika hidup pada tahun 1884-1947.  Beliau adalah orang pertama yang berbuat sesuatu untuk pendidikan perempuan dengan mendirikan Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1910. Ini adalah sekolah pertama yang didirikan khusus perempuan pada zaman Hindia Belanda. Bahkan hingga saat ini, Sakola Kautamaan Istri yang berganti nama menjadi Sekolah Dewi Sartika masih berdiri kokoh hingga saat ini di Bandung.

Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan

via eramus

Beliau adalah Sultanah kedua di Aceh. Lahir dengan nama Putri Sri Alam, beliau hidup pada masa tahun 1612 dan meninggal tahun 1675. Sultan terdahulu yang waktu itu memerintah Kerajaan Aceh adalah Sultan Iskandar Tsani,  suaminya, kemudian digantikan oleh beliau yang memerintah mulai tahun 1641-1675.

Semasa hidupnya, Ratu Tajul Alam dikenal gemar mengarang sajak dan membantu pendirian perpustakaan di Serambi Mekah. Pada tahun 1639, beliau membentuk pasukan khusus wanita yang membantu berperang dalam Perang Malaka.  Para musafir Inggris, Belanda, Portugis, dan Prancis mengakui kecakapan beliau dalam memerintah yang dilakukan secara bijak, adil, dan cerdas. Sekali lagi, perempuan yang hidup jauh sebelum era R.A Kartini ternyata bisa  sehebat ini.  Salut! 

Cut Nyak Dhien

via wikimedia.org

Siapa tidak kenal beliau?  Kegarangan beliau melawan pemerintah Hindia Belanda sungguh luar biasa. Hidup di masa tahun 1848-1908, beliau melakukan gerilya yang sangat ditakuti oleh pihak Hindia Belanda kala itu selama 25 tahun!  Selama melakukan hal itu, beliau harus rela ditinggal mati suami yang terbunuh di peperangan dan berpisah dengan anaknya karena berhasil ditangkap Belanda.  Cut Nyak Dhien kemudian diasingkan ke Sumedang hingga akhir hayat.

Satu hal yang membekas di pikiran adalah ketika Cut Nyak Dhien menampar anaknya, Cut Gambang karena menangisi kematian sang ayah.  Setelah menampar, Cut Nyak Dhien kemudian memeluk dan berkata, “Sebagai wanita Aceh, kita tidak boleh membiarkan air mata jatuh untuk mereka yang telah mati syahid.”  Masya Allah, sesuatu yang nggak yakin bisa saya lakukan seandainya berada di posisi yang sama  (da saya mah apa atuh)

Siti Aisyah We Tenriolle

via ebayimg.com

Di Sulawesi Selatan, ternyata ada sosok perempuan keren lainnya yang juga merupakan tokoh emansipasi wanita. Sebagai Ratu Kerajaan Tanete dan Kerajaan Bugis, kiprahnya menerjemahkan epos luar biasa dari bahasa Bugis kuno ke Bugis umum. Tahu La Galigo?  Sejak baca liputannya di salah satu artikel majalah, rasanya ingin sekali bisa menonton teater yang menampilkan La Galigo.  Kayaknya keren banget .  Oya, La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan peradaban Bugis, Sulawesi Selatan. Gara-gara ini, Ratu Tanete dikenal sampai benua Eropa!

Bukan hanya itu, di tahun 1908, Ratu Tanete mendirikan sekolah  pertama di Sulawesi.  Sekolah ini tidak hanya diperuntukkan untuk perempuan, tetapi juga untuk laki-laki.

Ya, terus? Kalau tujuannya hanya untuk banding-bandingin dengan Kartini, dangkal banget, deh!  Beliau juga nulis banyak surat untuk teman-temannya di Belanda.  Dia itu kan sejenis Mary Wollstonecraft, yang bahkan jauh lebih dikenang dibanding Ratu Victoria atau Jeanne d’Arc.
via newyorktimes.com

Kalau ada yang berpendapat demikian nggak apa-apa, sih, saya di sini cuma ingin menegakkan kebenaran sejarah aja *ceilah.*  Toh alasan saya menggugat hari Kartini bukan karena saya tidak suka dengan R.A Kartini.  Tapi harus fair, dong! Mereka semua selain R.A Kartini adalah pelopor emansipasi. Mereka punya hak dan porsi yang sama menjadi tokoh panutan para perempuan Indonesia. Namun biarlah, sudah terlanjur juga memilih hari lahirnya R.A Kartini sebagai hari emansipasi wanita Indonesia. Jadi nggak perlu didebat lagi.

Tapi kenapa juga harus menutup-nutupi sejarah dengan berkata seolah perempuan Indonesia lainnya nggak ada apa-apanya dibanding R.A Kartini? Malah setelah tahu banyak, saya jadi nggak puas dengan sindiran bahwa perempuan Indonesia bisanya cuma nulis surat curhatan aja.   Ada banyak perempuan Indonesia super pada zaman dulu, dan saya yakin di era modern ini akan ada lebih banyak lagi yang bisa berkiprah jauh lebih banyak dari yang bisa dilakukan oleh R.A Kartini.   Mari teruskan jejak para perempuan super ini untuk Indonesia lebih baik! 

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    8 Comments

    1. Akarui Cha

      Ternyata ada juga tokoh emansipasi perempuan dari Sulawesi dan baru saya tahu, selain Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika. Terima kasih banyak atas sharing-nya ya mba.

      21 . Apr . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Sama sama 🙂

        22 . Apr . 2017
    2. Ratri

      Setuju! Karena perempuan Indonesia dari dulu banyak yang literally b*dass *uhuk, pardon my language ya*. Selain Cut Nyak Dhien ada juga Laksamana Keumalahayati yang nggak cuma jago perang Dan politik, tapi juga menguasai 5 bahasa pada zamannya. Great article Mbak!

      22 . Apr . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Waw, saya malah nggak tahu sama Laksamana Keumalahayati XD, sip sip, jadi nambah pengetahuan. Emang, kebanyakan perempuan Indonesia jadul itu keren-keren, kapan yang bisa kayak mereka *ngarep*

        22 . Apr . 2017
    3. Nuzha

      Keren kak *wink

      22 . Apr . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Makasih udah mampir ya 🙂

        22 . Apr . 2017
    4. Ade UFi

      Ada juga pahlawan wanita lainnya yg namanya juga dijadika nama jalan Hj. Rangkayo Rasuna Said. Itu perempuan loh. Dan satu lagi yg lebih tersembunyi Hj Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah.

      25 . Apr . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Wah, itu dimana Mbak? Di kota apa? Sip sip, nanti saya tambahin nama-namanya kalo udah searching di Google. Makasih ya 🙂

        25 . Apr . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *