in Miscellanous

Ketika Menjadi Single Itu Dosa, dan yang Menikah Dijamin Masuk Surga

at
ketika-menjadi-single-itu-dosa-dan-yang-menikah-pasti-masuk-surga

Tulisan di bawah ini tidak bermaksud untuk ngajak gelut.  Ini cuma sekedar kritik dari saya terhadap sikap orang-orang pada umumnya yang nggak santai. 

Saya baru aja menikmati hidup di awal 20-an ketika pertanyaan semacam “kapan nikah” atau “punya calon gak” menyerang. Wajar, sih, terutama kalo pertanyaan itu muncul dari elder.  Sebagai orang yang masih mengarungi pernikahan -bisa jadi udah belasan tahun, mereka menganggap bahwa sudah seharusnya di usia dewasa muda, setiap perempuan dan lelaki wajib punya rencana nikah.  Minimal udah ada yang digandeng buat diajak nikah. Kalo nggak punya, langsung pasang tampang (sok) prihatin “Duh, moga-moga cepet ketemu jodohnya, ya.”

Saya nggak ngitung berapa kali dapat simpati nggak perlu semacam ini.  Oke, maaf, jangan timpuk saya (kecuali pake dollar)  karena keburu lelah ditanya ini itu. Mungkin karena saya kelihatan nggak pernah antusias atau dekat dengan orang, makanya pada khawatir, ya.  Contohnya aja kayak gini:

Temen A: (Mau nikah 2 bulan lagi) Kalo kamu kira kira rencana kapan tanggal pernikahannya?

Temen B: (Yang udah dilamar dan lagi nyusun rencana) Aku gak tau, A, lagi mau diomongin dulu sama calonnya.  Kayaknya sih bakalan sesudah kamu gitu, deh

Temen A: Nanti dateng aja sama calon kamu pas nikahan, biar bisa liat contoh nikahan aku nanti

Temen B: Iya A, tapi kurang tau sih dia bisa atau nggak, liat nanti aja

Temen A: Oya, abis fitting nginep di rumahku, yuk.  C gimana, mau ikut?

Temen C: Nggak bawa baju sih, tapi bisa sampe malem.  Paling nanti minta jemput aja di xxx

Temen A: Sama siapa dijemput?

Temen C: Adalah, si Mia kayaknya kenal tuh

Temen A: Hah, kamu ternyata punya, ya?  Udah berapa lama?

Temen B: Iya, nih, si C diem diem aja

Temen A: Kasian Mia dong, desperate

Gue: Kenapa desperate? (sumpah, bingung kenapa bisa dituduh begitu)

 Fuh  it hurts, but it’s ok.  I’m used to it.  Saya terbiasa dengan orang-orang usil yang menuduh saya begini.  Daripada nanya saya kenapa nggak tanya Tuhan aja?  Justru herannya kenapa nggak nanya kapan saya mati sekalian.  Bukannya jodoh dan kematian sama-sama di tangan Tuhan, ya?  Kok pada nggak usil nanya kapan saya mati sih 

Eniwei, dari sini saya kemudian saya berasumsi: “Segitu phobiakah orang Indonesia sama status lajang?”.  Semua orang kayaknya memburu saya cepat menikah.  Nonton di bioskop sendirian tuh kayaknya dosanya sama kayak dosa orang syirik. Pas saya ditanya “udah punya calon?” dan saya bilang nggak ada dengan pedenya, semua yang nanya kayak yang kena gagal jantung. Salah seorang teman lelaki saya pun pernah bercanda, “Kalo nggak dapet kerja, menikah aja deh.  Cewek mah gampang.”  Emm, ini maksudnya apa?   Buat saya candaannya lebih menjurus ke arah pelecehan terhadap emansipasi.

Tanpa saya sebut berbagai penelitian terkait hal ini (terbukti dengan  mahasiswa psikologi iseng yang menjadikan jomblo buat bahan skripsinya), sebetulnya udah bisa kelihatan kok.  Berbagai meme menjadikan lajang sebagai ajang lucu-lucuan dan akun dakwah yang isinya “ayo halalin aku” itu sebetulnya diskriminasi sama yang single.  Penghinaan. Seolah yang jomblo dan single tidak akan bertemu jodoh sampai mati. Pelis deh.

Ini orang kayak curhat sekalian
Ini orang kayak curhat sekalian

Saya sebetulnya udah gatal sih pengen marahin temen saya saat hal itu terjadi.  Meskipun dia keceletot (dan saya harus maklum karena bentar lagi doski nikah, wajar wae bahagia), saya merasa penempatan kata “Mia” dan “desperate” sangat salah tempat. Karena itu sama saja dengan menempatkan “jomblo/single” dan “desperate” di kalimat yang sama tanpa fakta yang jelas.

Saya mungkin belum bertemu pangeran berkuda putih, tapi percayalah, saya bahagia, kok. Saya memang sempat mengalami masa desperate “kok gue umur segini masih single, sih?” tapi setelah saya merenung, menggali sumur, dan membaca quote serta buku, saya sudah nggak ada di tahap situ lagi.  Saya siap menghadapi masalah sendiri, saya siap berbahagia sendiri, saya siap menyemangati teman yang sebentar lagi akan mengarungi hidup bersama orang.  Saya tahu, Allah sedang membuat saya menikmati kesendirian ini sepuas-puasnya sampai saya benar-benar siap berbagi hidup dengan orang lain.

Jadi saya kira sangat salah kaprah saat ada yang nge-judge saya, atau nge-judge para jomblo dan single di seluruh dunia sebagai manusia desperate yang nggak laku-laku.  Bahwa nikah itu bisa bikin bahagia.  Yang bener?  Nikah tuh cuma status! Status bahwa kamu halal melakukan ini-itu dan punya anak.  Status supaya saat kamu cerai, kamu bisa meminta hak secara sah untuk kepentingan anak.  Status supaya kamu nggak berdosa di hadapan Tuhan karena melakukan seks bebas, yang notebene mirip perbuatan kucing binatang yang kawin di mana aja.  Tanda bahwa kamu patuh dengan aturan agama.

Tok, cuma itu.

Yang bikin pernikahan menjadi sesuatu yang membahagiakan adalah: (1) kamunya bahagia, (2) dengan siapa kamu menikah (wajib baca ini, nih!).  Jadi saya kira kalo ada yang bilang nikah dilakukan supaya kamu bahagia, itu salah besar.  Saya pun nggak iri sama yang sudah ketemu sama jodohnya.  Kenapa?

(1) Karena saya bisa berbahagia sendirian, (2) saya percaya nikah itu nggak indah. Nikah itu menderita. Saya tahu jenis pernikahan yang isinya nggak melulu bahagia.

Fact, people! This is a fact!
Fact, people! This is a fact!

Saya juga tahu bahwa nggak selalu menikah itu menderita, ada momen-momen tertentu saat kamu harus bersyukur karena dipilihkan partnermu si dia. Allah SWT sudah memberikan yang terbaik buat seseorang.  Jadi meskipun kadang saya heran “kok mau-maunya aja sih kamu sama dia bla bla bla” saat mendengar permasalahan si entah siapa, ujung-ujungnya ke sana lagi: Allah SWT sudah memberikan yang terbaik untuk seseorang.

Jadi ya, nikah itu bukan arena balap, sih.  Bukan ajang pamer seberapa bagus walimahan seseorang.  Bukan pertanda bahwa kamu 100% bakalan masuk surga.  Lha, tapi bukannya ada hadis yang bunyinya gini:

I swear by Allah that I fear Allah the most among you; but, I sometimes fast and sometimes eat; I sometimes perform prayers and I sometimes sleep; I get married, too. Whoever abandons my sunnah is not a member of my ummah.” (Bukhari, Nikah, 1; Muslim, Siyam 74, 79).

Nggak.  Buat saya, single itu nggak dosa selama dia bisa menahan diri untuk nggak melakukan zina.  Dan ada banyak alasan kenapa seseorang bisa nggak menikah, jadi misal ada laki-laki atau perempuan yang memilih tetap single tanpa menikah, mereka pasti punya alasan yang nggak bisa begitu saja dihakimi sebagai pertanda bahwa dia bukan bagian dari umat Islam.  Karena sejatinya, menikah itu dianjurkan, bukan kewajiban seperti ibadah dalam rukun Islam.

Yang membuat nikah terkesan wajib adalah kebudayaan timur kita, yaitu Indonesia.  Sudah menjadi sesuatu yang wajib untuk menikah saat ada pasangan yang ingin mengikat diri menjadi satu, sehingga akan menjadi aib saat seseorang hamil di luar nikah.  Ya, itu nggak salah sama sekali, kok.  Menikah itu banyak manfaatnya.  Selain  menjaga diri dari rasa malu, kamu juga menjaga kehormatanmu.  Cuma, ya, itu.  Jadi single sama sekali nggak dosa. Masih ada banyak hal yang menentukan sah atau tidaknya seseorang masuk surga; situ durhaka sama suami yakin tuh bakal masuk surga?

Sebagai single, saya mendorong single-single yang lain buat cuek bebek ajalah sama orang-orang di sekitar.  Yang menentukan hidup kamu hanya kamu dan Tuhan.  Pasti kadang suka kesel sih ya, kalo ada yang usil ngomong; anggap aja kayak bau kentut.  Jangan hirup aromanya supaya nggak pusing 

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *