in Books, Miscellanous

Haruki Murakami: Ketika Filosofi Menulis Adalah Berlari

at
What I Talk About when I Talk About Running Book Cover What I Talk About when I Talk About Running
Haruki Murakami
Memoar
Bentang Pustaka
April 2016
Paperback
182

Setelah mendedikasikan dirinya untuk menjadi penulis, Haruki Murakami mulai giat berlari supaya tetap fit. Apa yang semula hanya bertujuan sebagai olahraga berubah menjadi kegiatan yang membuatnya terobsesi. Saat berlari, ia tak hanya menemukan kebebasan namun juga pemikiran-pemikiran baru. Pada akhirnya, Murakami memutuskan untuk ikut dalam maraton di kota New York tahun 2005.

Tak hanya berlatih dan bersiap untuk mengikuti maraton saja, Murakami pun menuliskan pengalamannya tersebut. Hasilnya adalah memoar yang indah tentang obsesinya terhadap menulis dan berlari. Dan, siapa yang menyangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.

What I Talk About when I Talk About Running adalah karya yang kaya, intim, jenaka, sekaligus filosofis dan mendalam. Haruki Murakami sendiri merupakan salah satu penulis terbaik dunia saat ini, yang telah berkali-kali meraih nominasi Penghargaan Nobel bidang Sastra.

Beberapa hari ini saya down.  Pake banget. Curhat sedikit, dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh naskah novel saya yang terbaru berjudul “Selamat Datang di Toko Kenangan” gagal tembus 2 lomba menulis dan ditolak 1 penerbit.

Saya sempat merasa cengeng.  Kok bisa-bisanya saya langsung putus asa pas naskah saya nggak diterima?  Yah, walaupun kata teman saya manusiawi jika saya kecewa, gimana gitu lho rasanya.  Dulu saya pernah ditolak 3 penerbt (dalam kurun waktu yang beda, sih) masih bisa cengengesan.  Sekarang? Ada dalam diri saya yang mengatakan bahwa “lu tuh cuma bakal bikin struktur tulisan aja, nggak ngerti apa-apa soal penerbitan.  Nggak panteslah nulis ini itu sok heboh, mengkritik karya orang lain tapi sendirinya nggak tembus!”

Iya, saya termasuk orang yang cukup keras sama diri sendiri.  Makanya saya gampang frustasi, huehehe.  Standar saya tinggi.  Bukan apa-apa, ini semata-mata karena saya tahu punya kemampuan menulis.  Bukan karena kakek buyut yang memang pernah menulis naskah novel, bukan karena nenek yang selalu dibacakan karangannya setiap upacara bendera hari Senin semasa sekolah, bukan karena mama yang dulu pernah jadi redaktur di majalah kampus (omong-omong di sini saya keliatan banget ya, songongnya).  Well, karena terlahir dari keluarga yang suka menulis dan membaca, wajar dong, kalau jatuh cinta dengan dunia itu?

Sejauh ini prestasi saya nggak begitu banyak. Ya, dulu emang  pernah menerbitkan novel dan menang beberapa lomba lain sebagainya (tuh kan, songong lagi), tapi itu kan, dulu.  Sebetulnya pukulan keras dengan tiga kali berturut-turut ditolak bikin kesongongan saya jadi agak lebih kekontrol, sih.  Perasaan bangga bahwa saya bisa menulis dengan baik hancur lebur. Meski saya masih suka mengkritik karya orang lain seenak jidat suka-suka, seenggaknya saya menahan diri untuk nggak memaki buku tersebut di sosial media.  Saya nggak mau kena karma juga.

Masalahnya, karena menulis adalah pegangan hidup saya satu-satunya saat ini (karena saya jadikan sumber nafkah), saya nggak bisa terus menerus terpuruk.  Setidaknya meski saya nggak yakin bakal bisa nulis novel yang tembus penerbit, saya tahu masih ada sisa remah-remah bakat dalam diri saya.  Bukannya itu alasannya kenapa sekarang bisa kerja juga?  Ketika terpuruklah, kemudian saya tiba-tiba teringat dengan buku memoar yang pernah saya baca.

Yup, memoar Haruki Murakami bakal saya baca ulang kayaknya.  Saya terkesan dengan isinya. Sebetulnya saya udah pernah baca.  Awal-awal buku ini agak membosankan karena Murakami hanya menceritakan pengalamannya saat mengikuti maraton.  Sempat terpikir juga untuk dijual ke tempat jual buku bekas.  Tapi blurb di bagian belakang yang bikin saya kemudian menguatkan hati untuk membaca sampai tamat.

Emang nggak sia-sia, sih.  Memang omongannya melulu soal lari, tapi semakin ke tengah, Haruki Murakami mengungkapkan betapa lari itu sama dengan menulis.  Yup, itulah ketika filosofi menulis adalah berlari.

Kalau kamu tidak berolahraga, otot-ototmu akan melemah secara alami, begitu pun tulang-tulangmu.  Kupikir sudut pandang tersebut juga bisa diterapkan dalam pekerjaanku sebagai seorang novelis. Penulis yang diberkahi bakat dari lahir dapat menulis novel dengan bebas tak peduli apa pun yang mereka lakukan dan tak lakukan.  Seperti air yang mengalir dari mata air alami, kalimat demi kalimat mengalir begitu saja, dan tanpa usaha yang terlalu keras para penulis tersebut dapat menyelesaikan sebuah karya. Terkadang ada orang seperti itu.  Sayangnya aku tidak termasuk kategori itu.  Bukan bermaksud untuk sombong, tapi sejauh apa pun memandang, aku belum melihat mata air itu di sekitarku.  Aku harus memahat batu dan menggali lubang yang dalam, tapi tidak juga bisa sampai pada mata air kreativitas itu.  Untuk menulis novel, aku harus menggenjot diriku danmenggunakan banyak waktu serta usaha.  hal 51-52

Err, kok deskripsi kedua gue banget, yak, haha.

Saya memang bisa menulis, tapi saya nggak pernah ngejadwal kapan saya nulis.  Itulah yang bikin saya beda dengan Murakami, makanya wajar juga kalau karya saya ditolak terus penerbit.  Jadi saya pikir, ah, yang dulu itu keberuntungan.  Karena bertema Jepang, mudah saja bagi saya untuk menulis sesuai permintaan.  Jadi itulah alasannya saya menang.

Beda dengan saya, ada rival (seenaknya aja sih nyebut rival) yang hingga saat ini sudah berhasil menerbitkan belasan buku.  Awal mulanya dia sama kayak saya, penulis pemula.  Melihat perbedaan itu saya agak ciut juga.  Di kepala saya, berkecamuk suara ejekan yang membuat saya ingin sekali menghancurkan tengkorak dan mencabut suara itu dari sana, haha.  Tapi saya akhirnya berhasil membela diri sendiri.  Tiap orang beda prosesnya.  Jadi kita nggak akan pernah bisa menyamai orang lain #ngeles

Tapi saya kira alasannya kenapa rival saya sukses karena buah ketekunan.  Hampir beberapa bulan sekali novelnya terbit.  Bahkan sudah ada yang tembus Gramedia!  Wew, gitu, lho.  Antara saya terlalu songong, idealis, atau apalah itu, nggak ngerti juga.  Makanya karya saya belum ada yang tembus lagi sejak saat itu.

Namun lagi-lagi Murakami punya pelipur lara buat saya #ceilah:

Namun, seberapa pun besarnya niat seseorang, seberapa pun bencinya dia pada kekalahan, jika hal itu merupakan sesuatu yang tidak benar-benar disukai, dia tidak akan bisa bertahan lama meneruskannya.  hal. 53

Saya benci posisi saya yang “kok gue sial amat sih.” Saya sebel setengah mati karena rupanya karya saya nggak cocok masuk mana pun, mau itu buku populer atau buku sastra. Nggak ada yang diterima!  Tapi meski rasa pede itu udah kegilas truk tronton sekali pun, entah kenapa saya tetap memungut semua kepingannya dan berniat balas dendam.  Satu hari, saya pasti tembus penerbit mayor lagi.  Mungkin itu juga ya, yang disebut dengan kecocokan individu seperti yang diurai Murakami?

Dan meski saya memaki diri sendiri, saya masih percaya bahwa bakat itu ada.  Saya tahu saya bisa.  Kalau nggak, saya nggak pernah direkrut buat jadi calon wartawan di Pikiran Rakyat!  Meski setelah itu keluar sih, huehehe (nggak tahan kerja kuli, bo), saya masih ingat dengan kata-kata Pak Rahim waktu itu.  Salah satu alasan kenapa saya diterima, karena beliau percaya saya bisa menulis 

Yah, despite of that, saya bakal nyoba menyusun lagi kepingan-kepingan itu.  Mungkin ini juga alasannya kenapa saya dipertemukan dengan bukunya Murakami jauh sebelum kesialan itu terjadi.  Bagaimana pun, kalau udah suka pasti bakal tetap dilakuin sih.  Walaupun sampai bengek, walaupun kaki lecet, seperti yang dilakukan Murakami saat ikut lari maraton 100 km. Harus tetap berjuang!

P.S Saya nyoba lari juga gara-gara buku ini.  Masih nyoba sih, sejauh ini udah bisa selama 40 menit, hehe.  Goal terakhir adalah bisa 5000K tanpa bengek. Semoga bisa!

Share:

Azzahra R Kamila

What I Talk About when I Talk About Running Book Cover What I Talk About when I Talk About Running
Haruki Murakami
Memoar
Bentang Pustaka
April 2016
Paperback
182

Setelah mendedikasikan dirinya untuk menjadi penulis, Haruki Murakami mulai giat berlari supaya tetap fit. Apa yang semula hanya bertujuan sebagai olahraga berubah menjadi kegiatan yang membuatnya terobsesi. Saat berlari, ia tak hanya menemukan kebebasan namun juga pemikiran-pemikiran baru. Pada akhirnya, Murakami memutuskan untuk ikut dalam maraton di kota New York tahun 2005.

Tak hanya berlatih dan bersiap untuk mengikuti maraton saja, Murakami pun menuliskan pengalamannya tersebut. Hasilnya adalah memoar yang indah tentang obsesinya terhadap menulis dan berlari. Dan, siapa yang menyangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.

What I Talk About when I Talk About Running adalah karya yang kaya, intim, jenaka, sekaligus filosofis dan mendalam. Haruki Murakami sendiri merupakan salah satu penulis terbaik dunia saat ini, yang telah berkali-kali meraih nominasi Penghargaan Nobel bidang Sastra.

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    7 Comments

    1. Winda Carmelita

      Aku banyak menulis tp kurang olahraga. Padahal dulu rajin. Memang sih krn ototnya kurang terlatih, jd mudah capek dan ngaruh ke stres. Aku disarankan baca buku ini bbrp waktu lalu, trus lupa. Baca post ini jd inget lg..

      28 . Mar . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Coba baca 😀
        Awalnya rada ngebosenin sih, tapi kesana sana akhirnya ngerti dan dapet banget maknanya

        29 . Mar . 2017
    2. Nizmi Nasution

      halo kak 🙂 aku baru bikin blog. rencananya aku bakalan fokus ngereview buku dan review skincare dan makeup yang pernah aku pake. tapi aku jadi ragu kak. soalnya kan udah banyak banget blog yang review buku dan review produk-produk skincare dan makeup. jadinya nanti blogku terkesan “biasa saja dan pasaran” 🙁 kalau menurut kakak gimana ya? aku bingung 🙁

      29 . Oct . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Harus tahu fokusmu mau kemana. Aku sendiri bikin blog ini ngeliat pasar dulu. Setahuku, di Indonesia itu beauty blog terkait ngebahas review produk banyak banget, susah mau saingan. Jadi aku ngambil scope kecil aja, khusus untuk produk cruelty free dan halal aku bahas di blog ini, jadi kalo mau kerjasama sama aku (suatu brand), harus benar-benar kredibel. Aku juga sedikit nambahin sains di balik beauty, karena aku tipe orang skeptis, jadi rasanya percaya dengan omongan marketing itu jangan sih wkwk, maka itu yang ngebedain blog aku dengan yang lain.

        Aku pikir kamu pun bisa gitu, misal ngambil scope khusus brand-brand lokal/mancanegara terjangkau, ada juga aku lihat blogger luar yang sengaja ngambil scope khusus brand yang mahal. Nanti pembaca bakal bisa ngebedain kok, kamu itu concern kemana

        30 . Oct . 2017
    3. Nizmi Nasution

      wah, saran yang menarik! tapi lagi-lagi aku masih bingung kak mau fokus kemana dan ngambil scope apa 🙁
      dulu aku udah pernah bikin blog, sih. tapi gak konsisten ngepost tulisan. berbulan-bulan gak pernah ngepost. jadinya aku lupa password terus empat bulan terakhir ini bikin blog baru lagi. udah mulai konsisten sih, minimal sebulan ada satu tulisan. tapi hmmm ya gitu.. aku masih sering curhat di blog baru ini, tanpa bisa ngasih solusi atau hikmahnya gitu. huhuhuhu 🙁

      02 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Sebetulnya sih bakal tahu sendiri sukanya nulis apa kalau udah dicoba. Aku sendiri suka baca buku tapi giliran review males 😛

        Sementara beauty, nggak tau kenapa ngasih tau pengalaman pake ke orang lain itu kayaknya menarik, semacam bagi ilmu gitu sih, haha. Terutama karena aku orangnya tipe skeptis, dan punya kulit yang bermasalah, jadilah scope yang kuambil itu adalah meneliti ingredients, gitu sih jadinya

        03 . Nov . 2017
    4. Nizmi Nasution

      wah, terimakasih banyak ya kak 🙂 aku bakal cobain deh, rajin nulis. mungkin nanti aku jadi bakalan tau, fokus blogku kemana dan bikin blogku jadi khas, beda sama blog-blog yg lain. ehehe

      03 . Nov . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *