June 2, 2017 Azzahra R Kamila 0Comment

Postingan ini merupakan kelanjutan dari artikel chapter 1.  Sengaja saya bagi dua berhubung tulisannya akan sangat panjang.  Bakal bikin puyeng yang baca.

Balatentara Djepang dan BPUPKI

Saya bakal skip membahas sejarah Indonesia keseluruhan, karena di sinilah letak inti dari keterkaitan kekhalifahan dengan ideologi Pancasila (Omong-omong Pancasila memangnya ideologi ya? Saya lagi nanya serius)

Setelah dijajah Belanda, rakyat Indonesia mulai termakan 3A Kekaisaran Jepang.  Indonesia disebut sebagai Saudara Muda, sementara Jepang menganggap diri sebagai Saudara Tua.  Sempat dianggap penyelamat, justru Jepang menjadi asal-usul Pancasila berubah sesuai keinginan mereka.

via okezone.com

Ketika Perang Dunia II terjadi, Jepang terdesak dan menyebabkan kekuatannya melemah. Pada 7 September 1944, mereka mengumumkan Janji Kemerdekaan yang penuh kelicikan.  Pembentukan BPUPKI sesungguhnya membawa pesan tersembunyi, yaitu deislamisasi politik.  Pemisahan antara agama dengan negara.  Sekularisme.

Hal ini tergambar dengan jelas dalam pemilihan Ketua, Wakil, serta anggota-anggotanya. Dari 60 anggota, hanya 15 wakil dari nasionalis Islam.  Ketuanya adalah Dr. Rajiman Wedijodiningrat yang pernah menjadi Ketua Boedi Oetomo.  Dia juga merupakan pegawai negeri pemerintah masa Hindia Belanda. Wakilnya adalah R.P Seoroso yang merupakan mantan Ketua P.V.P.N yang merupakan salah satu serikat pekerja kala itu.

via agampradana25.wordpress.com

Di badan ini, dasar negara serta bentuk negara diperbincangkan. Sidang pertama dijalankan dari 29 Mei-1 Juni 1945, membicarakan ideologi negara.  Di sidang pertama ini, Ir. Soekarno mengusulkan pemikiran Philosoiche grondslag yaitu Pantjasila [2].  Namun Pantjasila ini memiliki sila berbeda dengan yang kita ketahui saat ini. Apa saja silanya?

  • Kebangsaan
  • Internasionalisme
  • Mufakat
  • Kesejahteraan
  • Ketuhanan

Pada pidatonya, Ir. Soekarno memberikan petunjuk bagaimana caranya umat Islam benar-benar ingin memenangkan usahanya memberlakukan Syariat Islam.

via penasoekarno.wordpress.com

Djikalau memang rakjat Indonesia jang bagian besarnja rakjat Islam, dan djikalay memang Islam disini agama jang hidup berkobar-kobar didalam kalangan rakjat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakjat itoe, agar soepaja mengerahkan sebanjak moengkin oetoeosan-oetoesan Islam kedalam Badan Perwakilan ini. 

Ibaratnja Badan Perwakilan Rakjat 100 orang anggotanja, marila kita bekerdja sekeras-kerasnja, agar soepaja 60,70,80,90 jang doedoek dalam perwakilan rakjat ini orang Islam, pemoeka-pemoeka Islam.  Dengan sendirinja hoekoem-hoekoem jang keloear dari Badan Perwakilan Rakjat itoe, hoekoem Islam poela. 

Malahan saja jakin, djikalau hal jang demikian itoe njata terdjadi, baroelah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidoep didalam djiwa rakjat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% oetoesan adalah orang Islam, pemoeka-pemoeka Islam.  Maka saja berkata, baroe djikalau demikian, hidoeplah Islam Indonesia, dan boekan Islam jang hanja diatas bibir sadja. [2]

Pidato ini baru pertama kali saya tahu.  Dan, well, ternyata memang ditutup-tutupi, makanya sebagian besar tidak tahu asal usul pembentukan BPUPKI dan keterkaitannya dengan Pancasila.  Apalagi setelahnya diketahui bahwa pengusung Naskah Persiapan UUD 1945, Moh. Yamin, termasuk orang yang menolak dasar negara Islam.  Ia menulis buku yang menjadi strategi dasar deislamisasi dalam penulisan sejarah Indonesia. [2]

ideologi pancasila
akhirnya ketahuan yang bikin sejarah terkotak-kotak siapa :’D

Adanya dua perbedaan keinginan Indonesia Merdeka berdasarkan Islam dan bukan Negara Islam yang membuat panitia berada dalam posisi sulit.  Moh. Hatta sendiri, meski berasal dari Sumatra Barat dan Islam, ia merupakan seseorang yang belajar dari beasiswa pihak Barat.  Jadi ia mengusulkan mengenai kemerdekaan sebaiknya dibuat dalam bentuk bukan Negara Islam.  Balatentara Djepang saat itu berupaya memasukkan pemimpin-pemimpin semacam Moh. Hatta dan Moh. Yamin agar kebangkitan ulama tidak terjadi.

PPKI dan Pancasila

via bagiinfo.com

 

Dari hasil persidangan  Juni 1945, ditemukan solusinya yaitu pembentukan PPKI, yang terdiri dari 4 nasionalis Islam dan 5 nasionalis netral agama. Pada pertemuan, dihasilkan Preambule yang dikenal sebagai Piagam Djakarta atau Djakarta Charter, 22 Juni 1945.

Anggota panitianya adalah sebagai berikut:

  • Agoes Salim
  • Abikoesno Tjokrosoejoso
  • Abdoel Kahar Moezakkir
  • Wahid Hasjim
  • Soekarno
  • Mohammad Hatta
  • Mr. A.A. Maramis
  • Achmad Soebardjo
  • Mohammad Yamin

Lalu bagaimanakah Piagam Djakarta tersebut?

Menurut Deliar Noer, dari keterangan A. Kahar Moezakkir sebenarnya A.A. Maramis walaupun dari perwakilan Kristen menyetujui 200% terhadap Preambule atau Piagam Djakarta. Persetujuan ini terjadi karena Ketoehanan tidak dituliskan dengan Jang Maha Esa.  Jadi, tidak bertentangan dengan keyakinan Trinitas ajaran Kristen. Sedangkan, “Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan Sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloek-nya”, diberlakukan untuk umat Islam saja.  Tidak untuk seluruh bangsa Indonesia.  Artinya umat Kristen dan Katolik tidak terkena Sjariat Islam. [2]

Wow, sungguh mind blowing sekali fakta  ini!

via ceramahmotivasi.com

Dalam perjalanannya, isi Piagam Djakarta “diturunkan” menjadi Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 yang kita kenal selama ini.  Pancasila versi Soekarno diubah menjadi dasar negara yang kita kenal sekarang.  Hanya saja sekelompok umat Kristen di Indonesia Timur keberatan dengan tujuh kata dalam sila pertama, sehingga diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” saja (Sumber: Kompas).

Selain ormas-ormas Islam, muncul partai Islam yang ingin memperjuangkan 7 kata tersebut, yaitu Partai Masyumi.  Dalam perjalanannya, Masyumi terpecah menjadi PPP, PKB, PBR, NU, dan lain-lain.  Namun ke sini-sini orang lebih peduli dengan kedudukan daripada 7 kata tersebut, jadilah Indonesia sekarang 😀

Nah.  Sekarang sudah jelas kan hubungan  kekhalifahan dengan Pancasila? Runutan sejarah yang panjang ini mudah sekai terlupakan jika orang-orang punya kepentingan tertentu.  Maka itulah lahir slogan “Saya Indonesia, Saya Pancasila.”  Buat saya, apalah artinya slogan itu kalau memahami sejarah dan nilai-nilai Pancasila saja tidak?  Buat apa berbangga dengan “NKRI Harga Mati, Hidup Pancasila!” jika asas perekonomiannya saja masih ekonomi neoliberal?

Kenapa baru sekarang di pemerintahan Pak J, Pancasila tiba-tiba dielu-elukan?

via okezone.com; foto: Antara

Saya meyakini adanya rencana di balik rencana di balik rencana di balik udang dan batu dengan euforia Pancasila yang sedang dilakukan saat ini.  Apakah teori saya benar?  Saya harus cari bukti baru dengan sumber baru untuk menulis artikel baru 😀  *Bisa diabaikan :D*

Akhir kata, keinginan saya sih cuma satu: tolong jangan permainkan Pancasila.  Para pejuang membuat itu bukan untuk jadi slogan kosong.  Bukan untuk jadi tameng untuk kepentingan politik tertentu di situasi saat ini.  Kalau ingin Pancasila tetap dari dasar negara, harus muncul Pancasilais supaya bisa jadi panutan.  Supaya negara ini benar-benar berasaskan perekonomian Pancasila. Komunisme  aja ada kok panutannya, seperti Karl Marx, Lenin, Stalin :D.

Jadi sekarang mari kita cari, mana nih Pancasialis di Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *