June 4, 2016 Azzahra R Kamila 2Comment

Di usia 20-an, galaunya orang itu udah beda.  Begitu lulus, apa sih yang paling sering ditanyain?  Yap, kalimat di atas.  Beberapa sensitif, beberapa baper, tapi gak sedikit juga yang nggak terpengaruh.  Entah karena dia otaknya masih level bocah atau punya prinsip hidup bahwa nikah itu bukan kewajiban.  Well, kalo kasus saya sih mentalnya masih anak SMA.

Seiring bertambah tuanya seseorang, lingkungan akan menuntut kita untuk naik ke tahap selanjutnya.  Yang dulunya sekolah -> kuliah -> ditanya kapan lulus -> ditanya kapan kerja -> ditanya kapan nikah -> ditanya kapan punya anak… tapi kenapa nggak ada yang berani nanya “kapan mati?”  Ups, tapi ada benernya juga. Kenapa nggak ada yang nanya, padahal kematian itu proses paling penting dalam hidup selain kelahiran?  Apa karena kita nggak pernah tahu kapan kita ditakdirkan  menjadi kenangan setiap orang yang kenal kita?

Saya merasa itu karena manusia itu memang pada dasarnya suka membandingkan diri satu sama lain. Orang cenderung berani bertanya (bahkan terkadang dengan sikap seperti menghakimi) seolah hidup kita kurang lengkap jika tidak bisa menyelesaikan sesuai quest yang saat itu harus kita selesaikan.  Maksudnya bisa jadi baik karena memberi perhatian, walaupun ada juga sih yang cuma kepo gak jelas.  Standar kehidupan yang “terlihat normal” dengan sudah menikah dan sudah punya anak akan menjadi tekanan tersendiri bagi mereka yang saat ini baru atau sedang dalam tahap quest tersebut.  Punya suami atau istri, punya anak, punya mobil, punya rumah, sudah menjadi standar kesuksesan tersendiri yang harus semua orang capai hanya karena di lingkungan yang bersangkutan hal itu memang dianggap penting. Ya, penting.  Tapi seperti kata saya tadi, semuanya toh digunakan sebagai pijakan bagi kita untuk mati pada akhirnya.  Untuk menjadi penilaian di hari akhir (bagi yang percaya surga dan neraka itu ada). Sehingga penilaian quest menjalani kehidupan tidak melulu melihat goal, tapi apa aja sih yang udah kita lakukan untuk berusaha mencapainya?

Di satu sisi saya tidak bisa menyalahkan orang-orang semacam ini, di sisi lain saya menganggap bahwa hidup itu bukan game. Karena bukan game, tidak ada salahnya jika quest yang kita jalani tidak sepenuhnya berhasil.  Namanya juga hidup, sekali kita “bermain” menjadi peran tertentu bukan berarti langsung game over kan, kalau tidak sesuai dengan rencana? Dan karena bukan game, yang dinilai itu tidak selalu goal, proses pun sebetulnya adalah parameter dalam hidup. Entah karena kultur orang Indonesia yang lebih melek terhadap hasil daripada proses (terbukti dengan lebih suka mengejar nilai saat sekolah), maka banyak yang cenderung menganggap keberhasilan itu hanya bisa dilihat dari tercapai atau tidaknya tujuan.

Baru-baru ini saya bertemu dengan sahabat saya yang saat ini sedang ingin segera punya anak.  Usia pernikahannya belum genap setahun, tetapi dia suka galau jika tamu bulanannya tiba.  Sebagai single keren, saya tidak bisa memahami perasaan seperti itu, tapi saya berusaha membayangkan rasanya seperti apa.  Hmm, nihil.  Saya masih tidak ngerti.  Satu-satunya usaha yang bisa saya lakukan adalah menyemangati, dengan memberi harapan dengan mengatakan,

“Kalo masih belum setahun, kamu masih normal gak papa kok.  Pasti bisa. Gak usah dengerin kata orang lain, aku suka kesel kalo mereka berekspetasi terlalu tinggi sama kita.  Makanya aku ngerasa nyaman jadi single keren, haha.”

Entah apakah perkataan saya memang membantu atau tidak, tapi di satu sisi saya mencoba mengingatkan teman saya untuk tidak terpengaruh dengan orang.  Ya, terkadang saran orang lain sangat berguna, tapi terkadang pula kita harus tahu kapan kita sebaiknya tutup kuping saat mereka berbicara. Dalam kasus ini, tidak perlu risau kalau ada  yang jahil bertanya:

“Kapan tekdung, kan udah lama nikahnya?” atau

“Kapan nikah, udah mau kepala tiga!”

Coba deh balik jawab:

“Kamu percaya Allah SWT?”

“Iya. Terus kenapa?”

“Berhentilah kamu nanya takdir Allah, nggak ada yang tahu. Saya juga yang lebih berkepentingan gak pernah nanya. Kalem, Sis.”

Checkmate.  

***

Saya selalu kesal jika ada yang berkomentar mengenai jomblo.  Entah kenapa masyarakat kita menganggap orang yang belum punya gandengan itu lucu sebagai bahan hinaan.  Buat mereka, jomblo adalah bentuk dari kasta terendah dalam kehidupan usia 20-an dimana mereka tidak layak hidup berdekatan dengan yang sudah punya pacar dan sudah nikah, dianggap jinx.  Menurut saya, orang yang mengolok-ngolok jomblo itu kasar.  Arogan.  Merasa oke dan menarik, terutama kalo bisa bawa joke itu ke event semacam stand up comedy.

Saya bukan jomblo.  Saya single keren. Beda status.    I am totally single at heart, dude. Saya menikmati hidup dengan cara saya sendiri.  Sekalipun saya sudah menikah nantinya, I’m still single at heart, dalam arti saya nggak akan bergantung dengan orang lain dalam segala hal.  Tapi saya kira jomblo juga manusia, jadi nggak ada salahnya mereka diperlakukan lebih layak.

Berdasarkan keterangan dari @FaktaKeren, usia pernikahan orang Indonesia itu antara 24-34 tahun, orang Amerika 27 – 35 tahun, orang Eropa lebih dari 32 tahun.  Di luar sana, justru posisi single itu dianggap lebih bergengsi. Karena menurut saya, seseorang yang masih menjalani hidup sendiri tidak bergantung pada orang lain, yang pede dengan cara hidup mereka itu memang keren. Bergengsi. Tapi bukan berarti nikah itu is so lame. Nggak, saya gak berpikir begitu. Justru saya kagum, dan heran juga dengan teman-teman saya yang memutuskan menikah di usia muda.  Mereka udah siap ternyata untuk berbagi tanggung jawab dan bertenggang rasa.

 

Jangan cuma kebelet liat temen nikah. Kamu harus siap juga menjalani hidup sama dia sampai akhir hayat. Jadi, yakin udah siap nikah?

 

Saya orang yang lebih mengutamakan proses, jadi saya percaya bahwa seseorang yang belum menikah itu bukan berarti gak laku.  Dia sedang diuji untuk mengetahui apakah memang sudah siap atau belum.  Sama halnya dengan yang sudah menikah tapi belum punya anak, mereka pun sedang diuji untuk mengetahui apakah mereka siap jadi orangtua atau belum.  So chill out. Nggak usah risau.  Daripada terlibat hubungan yang salah, mendingan nyiapin diri dulu supaya keren dan pantas, kan?

 

2 thoughts on “Kapan Nikah? Kapan Punya Anak? Kapan Mati?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *