in Miscellanous

Ijazah Bukan Segalanya. Melarikan Diri dari Kenyataan Adalah Keahlian yang Harus Kamu Kuasai.

at
ijazah-bukan-segalanya

Saya terlintas untuk menulis ini saat membaca seri terakhir The Chronicles of Audy: 02.  Ada yang tahu novel ini?  Iya, ini novel lokal rasa drama Korea.  Siapa sih yang nggak mau tinggal bareng 4 cowok ganteng secara gratis? Well, kalau saya sih, karena bakal digebuk orangtua kalau tinggal bareng tanpa nikah, ya nikahin dululah salah satunya ~XD.

Eniwei, apa hubungannya sih sama ijazah?  Saya terketuk untuk berpikir ini setelah Audy, si tokoh utama mengajukan pertanyaan: Apa Rencana Masa Depan Audy?

 

Tulisan ini adalah model rewrite dari tulisan sebelumnya yang saya buat tanggal 10 Juni 2016

Jujur aja, dulu saya nggak pernah terpikir jadi dosen. Dosen bidang IT pula, bidang yang sempat saya benci sampai lulus kuliah.

Saya ingin menjadi penulis.  Tok.   Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa adalah dua penulis Indonesia pertama yang saya kenali karyanya, dan saya kagumi diksi dan gaya menulisnya.  Mereka hidup hanya dari menulis.  Pun JK Rowling.  Dulu ditolak di mana-mana, tidak punya uang, hingga akhirnya dapat kesempatan untuk menerbitkan buku, dan jadilah dirinya yang terkenal seperti sekarang.

Pikiran naif saya saat itu mengatakan: “Saya juga bisa hidup hanya dari menulis.”

Adalah suatu kesalahan masuk jurusan IT, menurut saya. Awalnya saya sempat ingin kabur, ikut SPMB lagi (hii ketahuan tua ya dari istilahnya juga), dan berharap bisa masuk seenggaknya Sastra Inggris atau Sastra Jepang.  Aneh memang, masuk SMA memilih IPA, ujung-ujungnya pengin nyerong ke arah yang benar, haha.  Dulu saya itu orangnya gampang terombang-ambing, ikut masuk IPA pun karena khawatir tidak punya teman (lagi).

Namun ujung-ujungnya saya bertahan.  Niat saya untuk bekerja di jalan yang benar itu tetap terpatri.   Ketika mengerjakan TA (Tugas Akhir), saya sempat serong ke arah yang benar ini, dengan iseng mengikuti lomba novel dan kabur dari bimbingan dengan dosen hampir 2 bulan.  Untungnya sih menang, hihi.

Tapi, ternyata jalan untuk berkarir di bidang tulis menulis tidaklah semulus itu.

Beberapa tahun berikutnya saya pernah mengikutsertakan lagi karya untuk Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2014 dan 2016.  Gagal.  Sempat juga saya ikut lomba yang diselenggarakan beberapa penerbit, hmm, nggak berpihak lagi.  Sempat putus asa dan curhat ke teman, eh salah milih orang.  Jadi makin depresi, haha.

***

Selain menjadi penulis, saya punya cita-cita alternatif: editor.

Setidaknya, kalau saya nggak jadi penulis pun, saya masih berkecimpung di dunia tulis menulis.  Saya punya hobi mengomentari (baca: review buku) dengan kata-kata pedas di blog-blog terdahulu. Sok iye, seolah kayak editor beneran aja. Tapi jujur aja sih, sering banget perasaan “ah buku kayak gini kok bisa laku dijual, eike juga bisa”.

Nyatanya pekerjaan editor bukan cuma baca bentar-buang naskah. Editor harus ikut mikir konsep layout buku, ngerti marketing, jalan-jalan ke toko buku buat survey, nemenin penulis keliling kalau lagi ada roadshow… intinya nggak sesimpel itu.  Well, setidaknya itu yang saya ngerti setelah Mama Miiko menjelaskan detail pekerjaan editor komik.  Loh, kan beda sama  buku atau novel? Yah, setidaknya kurang lebih sama-sama repot, kok.

Kesempatan untuk jadi editor itu sebetulnya datang, tapi dalam bentuk online.  Saya sempat menjadi head editor selama setahun di salah satu perusahaan media Bandung.  Karena harus nyambi dengan kuliah, saya cukup kelimpungan juga.  Apalagi, ketika itu atasan ingin saya tetap stay, sementara saya lebih memilih cari profesi lain .

Alasannya simpel: ternyata saya nggak cocok jadi editor.

Saya suka nulis, tapi tok, cuma sebatas itu.  Giliran disuruh wara-wiri nyari kerjasama dengan berbagai brand atau website lain, good bye deh.  Bukannya malas, tapi tidak pernah terpikirkan harus melakukan pekerjaan bejibun begitu.  Terlebih, kepribadian saya yang malas bertemu orang (bukan ansos ya, itu beda) membuat saya kurang nyaman harus bersosialisasi sedemikian rupa demi meningkatkan traffic. Iyalah, dulu saya sambil kuliah, pikiran pasti bercabang dong, sama tesis?  Akhirnya setelah berpikir matang, saya memutuskan keluar setelah setahun gabung di sana.

***

“Terus apa hubungannya dengan ijazah?  Dari tadi malah bahas masa lalu melulu.”

Ijazah itu sebetulnya apa, sih?

Nggak perlu cari di KBBI, kita pasti ngerti apa itu ijazah.  Buat kamu yang berkesempatan mencecap sampai tamat SD, atau SMP, atau SMA/SMK, sudah pernah memegang benda bernama ijazah ini.  Buat kamu yang sudah lulus sarjana, pasti ngerti ya bangganya pakai toga, di ketiak terkepit buku ijazah, diapit oleh orangtua yang sudah berkeriput dan menua.  Rasa haru menyesakkan itu pasti terlintas kala menjabat erat tangan rektor ketika MC mengumumkan namamu: “Saya sudah lulus kuliah, harus bisa cari uang.  Jangan nyusahin orangtua lagi.”

Tapi jujur aja, rasa bangga akan memiliki ijazah itu hanya beberapa minggu.  Statusmu itu justru jatuh, dari mahasiswa menjadi pengangguran. Masih mending mahasiswa abadi, minimal kalau mau upload di story lagi  bercin-TA (Tugas Akhir) di restoran atau kafe masih dapat potongan diskon 10-15%.  Sudah jadi pengangguran, masih mikir-mikir, kan, mau nongki cantik di Starbucks.  Uangnya aja nggak ada, lol.

Saya tahu sulitnya nyari kerja.  Bedanya saya dengan yang lain, kepribadian saya ini yang membuat saya sulit dapat pekerjaan.  Aseli.  Jujur.  Soalnya gini, saya itu tipe yang benci kerja 8 to 5, terstruktur, formal, harus pakai seragam, dan memiliki alur gaya komunikasi top down sesekali bottom up.  Mana harus pasang topeng dengan bos atau klien ngeselin kalau tiba-tiba minta ini itu perbaikan mendadak.

Mencoba menundukkan kepribadian demi pekerjaan itu ada taruhannya.  Di saat ingin menjadi idealis, saya tiba-tiba digilas truk bernama realitas.  Saya nggak bisa terus menerus mempertahankan keinginan bodoh itu kalau ingin kerja.  Sayangnya, saya itu songong, tetap berupaya mencari alternatif demi tidak kerja kantoran, hehehe.

Nggak banyak pekerjaan yang menawarkan kemewahan jadi hikki (hikikomori, ngulet di kasur sambil berharap duit bisa ngalir).  Bahkan ketika saya lolos jadi jurnalis (dalam konteks karyawan percobaan), saya nggak bisa betah meski suasananya jauh lebih bebas dibanding ngantor perlente ala teman-teman saya.

Iyalah, kalau Tangkuban Perahu meletus jam 2 pagi mana bisa bobo cantik, pasti disuruh menerjang lava kalau bisa mah.

Jadi ijazah itu paling tok, cuma memoles CV  agar bisa membantu kamu maju ke tahap selanjutnya.  Tapi dia nggak bisa bantu kamu bisikin jawaban yang tepat saat wawancara.  Atau nyediain contekan saat tes psikotes (emangnya bisa, ya?).

Saya sempat down banget di tahun 2014, mengalami quarter life crisis  ketika saya tidak tahu tujuan hidup saya mau dibawa kemana.  Ijazah bertuliskan sarjana sistem informasi, dengan skill hampir tidak ada.  Susah lho, dapat pekerjaan, apalagi bidang IT.  Ada yang lebih jago  ngoding dikit, kamu tersingkir.  Lucunya, saya punya pengalaman menulis 12 tahun (4 tahun menulis novel dan ratusan artikel) tanpa ijazah yang sesuai, bisa diterima kerja sebagai head editor.   

Semua karena saya ngasah satu-satunya kemampuan yang saya punya: menulis.

What a funny destiny I had.

***

Awal mula jadi dosen dan blogger pun lebih karena saya hobi melarikan diri.

Jadi gini.  Saya tipe introvert, tapi sebetulnya nggak bermasalah dan bisa dengan jujur mengungkapkan unek-unek pada seseorang.  Baik yang dikenal banget, atau baru bertemu.  Tapi saya sering juga memendam semua di kepala, lebih tertarik membuat isi kepala saya menjadi tulisan galau.

Saya punya dua novel hasil kegalauan saya saat nyari kerja dan putus komunikasi dengan seseorang *eh, jadi curhat -XD.  Ya, inilah dua novel yang saya ikut sertakan di beberapa ajang lomba.  Sebetulnya wajar aja kalau kalah, iyalah isinya curhat gituu, haha.  Jurinya juga pasti mikir, ini Mbaknya yang bikin novel galau amat, yak.

Jadi buat saya,  menulis adalah bentuk pelarian diri dari kenyataan hidup yang menyebalkan.  Dan saya pikir, rasanya cuma ini satu-satunya skill yang bisa saya pamerkan seandainya saya ingin mendadak pengin berganti haluan sekarang dan ingin kerja di perusahaan. Kemungkinan saya akan menjawab lantang ketika ditanya soal keahlian:

“Keahlian saya selain menulis adalah melarikan diri dari kenyataan, Bu/Pak.”

Kenyataannya saya emang expert dalam hal ini, mungkin melebihi orang lain.   Bener, deh.  Rasanya kalau lihat timeline teman-teman saya, mereka adalah para pejuang yang sebenarnya.  Mereka berani menghadapi tantangan “welcome to the jungle of life” dengan cara bekerja di perusahaan, menikah, punya anak…

Saya boro-boro mau jadi sekeren itu, sekarang aja ketika berprofesi sebagai dosen, yang notebene nggak perlu 8 to 5 kayak teman-teman saya yang kece itu, masih kewalahan bagi waktu antara bikin materi kuliah, ngajar, dan juga menerima bimbingan TA mahasiswa.  Kesannya saya kayak yang cepat pulang (saya kerja empat hari seminggu), tapi kenyataannya saya merasa waktu libur saya dalam seminggu cuma sehari.

Di dunia Barat, rata-rata orang melarikan diri dengan meleburkan diri ke dalam kehidupan malam (ceilah bahasanya) atau nge-drugs. Mau ikut-ikutan bule, nggak bisa.  Bukan apa-apa, saya itu tipe manusia pagi, jam 9 malam aja teleng.  Minum susu sapi aja suka mules pagi-pagi, apalagi minum khamr!  Dan saya itu kere, nggak punya duit buat beli coke, super coke, bahkan cocopuffs (hapal bener yak istilah kokain).

Well, intinya sih, ya, mau dengan cara apapun, saya jadi ikut kecanduan juga melarikan diri dari kenyataan.

Kenapa sih, jadi candu?

Saya juga menganggap melarikan diri dari kenyataan itu penting buat kehidupan.  Well, kenapa nggak?  Nggak selamanya kita senang menjalani rutinitas.  Bisa jadi seseorang itu cukup beruntung, macem Raisa yang dapet pekerjaan jadi penyanyi sesuai yang dia sukai.  Tetep aja itu pekerjaan walaupun sesuai passion.  Ada masa jenuhnya.  Jadi butuh masa lari sejenak dari rutinitas.

Tapi kalau kamu ternyata terpaksa mengalami nasib harus bekerja di bidang yang “nggak-gue-banget” demi menghidupi keluarga, mau gimana?  Siksaan batin, lho, itu.  Kebetulan saya pernah baca blog Grace Melia, menceritakan kisah hidup Papi Ubii yang bekerja di bidang marketing demi menghidupi keluarga.  Cara dia melarikan diri sejenak dari kenyataan adalah dengan merakit Gundam.  Hobi adalah caranya berdiam diri sejenak, sebelum mengambil ancang-ancang kembali berlari di jalur bernama hidup.

Ternyata melarikan diri dari kenyataan itu nggak buruk, ya?

Rutinitas terkadang mematikan otak kita.  Menjalani tanggung jawab itu perlu, tapi berhenti sejenak juga penting.  Melarikan diri dengan baca buku, nonton film, belanja, adalah hal yang penting untuk dilakukan supaya kita bisa membebaskan pikiran, cuci lagi hingga bersih.  Asal tahu, kapan harus kembali lagi balik menghadapi yang sebenarnya.  Malah saya lebih sering dapet ilham untuk mengerjakan pekerjaan di dunia nyata saat saya melarikan diri.  Maka dari itu, saya pribadi menganggap ini seharusnya menjadi suatu keahlian yang dipertanyakan saat wawancara kerja:

“Keahlian apa yang Anda miliki, yang bisa berguna untuk perusahaan kami?”

“Melarikan diri dari kenyataan, Bu,/Pak.  Setiap kali saya melakukannya, saya selalu merasa fresh dan otak saya siap menuangkan kreativitas, dan bikin saya lebih konsentrasi mengerjakan pekerjaan selanjutnya.”

Sayangnya, jawaban seperti ini hanya akan membuatmu dikasih senyum manis, diminta untuk keluar dan menunggu pengumuman seleksi selanjutnya (baca: lo nggak akan gua hire, keleus!) kalau benar-benar dipraktekkan, haha.

Menghadapi hidup yang sebenarnya memang membutuhkan lifeskill.  Kita nggak mempelajarinya ketika mengikuti sekolah formal.  Kita akan mempelajarinya otomatis setelah masuk ke the jungle of life ini.  Tidak akan ada yang bisa mengajarimu cara bertahan hidup.  Semua punya style masing-masing, yang dipengaruhi oleh berbagai jenis prinsip yang dianut.

Buat saya sendiri, melarikan diri dari kenyataan itu adalah bagian dari survival. Lari itu hanyalah salah satu bentuk respons diri terhadap permasalahan.

Dan kalau kamu diberkahi umur panjang, bukankah yang namanya permasalahan itu akan selalu muncul di sisi kita?  Jika kita ingin sejenak berhenti, mengambil napas, lalu kembali mundur ke belakang sebelum melangkah maju, apakah itu salah?

Jadi akan selalu ada momen ketika kamu ingin kabur dan mengasihani diri.  Itu wajar.  Bahkan dengan semakin bertambahnya umur, keinginan untuk mewujudkannya akan selalu ada.  Bukti nyatanya?  Ya, saya sendiri.  Saya butuh satu hari dalam seminggu yang membuat saya lupa dengan status sebagai dosen, haha.

Caranya?

Menulis.  Jujur aja, setelah nulis dua novel curhat nggak jelas itu, saya ngerasa lega.  Dengan ada yang mau baca dan mencoba memahami sulitnya jadi saya juga sudah cukup, nggak perlu diterbitkan. Maka bagi saya menulis bukan hanya cara saya melarikan diri dari kenyataan, tapi juga terapi. Saat memulai blog ini, saya sempat mengalami quarter life crisis gelombang kedua, dan tulisan ini pun lahir (setelah akhirnya saya rombak menjadi versi yang kekinian).

Dari sini saya seolah mendapat jawaban dari Allah SWT, menulis memang jalan hidup saya, tapi bukan dalam bentuk yang saya inginkan semula.  Bisa jadi sesuatu yang kamu inginkan itu buruk bagimu, sementara yang kamu pikir tidak baik bagimu justru adalah kebaikan yang diberikan Tuhan untukmu.

Mungkinkah dengan menjadi blogger  dan dosen adalah jalan bagi saya untuk tetap bisa menulis?  Wallahualam.

Share:

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    9 Comments

    1. yellsaints

      Saya juga lari dari kenyataan yang latar belakangnya sebagai lulusan perawat malah suka travelling dan menulis. Tapi, saya lebih menikmati pekerjaan ini, meskipun kadang orang tua sering mempertanyakannya.

      01 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Nggak apa-apa sih, Mbak. Selama kita enjoy mah dan halal, nggak apa-apa 😀

        01 . Nov . 2017
    2. Dawiah

      Tertarik dengan istilah “lari dari kenyataan”
      Saya melarikan diri dari kesedihan ketika terkena musibah dengan menulis. Walaupun tulisan itu sangat tidak baik, apalagi dibaca oleh orang lain, tetapi setidaknya saya bisa melampiaskan semuanya, tanpa menyalahkan Allah dan orang lain.

      01 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Buat saya sih selama nggak merugikan orang lain nggak apa-apa :), karena pasti ada momen-momen pengen lari. Iya ya, menulis itu memang terapi terbaik selain curhat dengan orang lain

        02 . Nov . 2017
    3. Hastira

      memang kita hrs enjoy dan nyaman ya, walaupun gak sesuai dg bidang kita

      02 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Betul Mbak 🙂

        02 . Nov . 2017
    4. soviavinda

      Refresh diri dg melarikan diri dari kenyataan atau bahasa lelembutnya istirahatkan pikiranmu atau apapun rutinitasmu sejenak.
      Ibarat dongeng, bidadari aja turun ke bumi buat mandi mandi cantik abis itu balik ke kahyangan lagi ~
      wkwkwk

      11 . Nov . 2017
    5. Athri Kasih

      Saya diposisi itu hahahahaha

      tapi ga mau komen panjang-panjanglah nanti malah tercurhat wkwkwk

      Tapi yang namanya hidup emang ga semudah itu, kadang-kadang melarikan diri itu perlu memang buat sebagian orang.

      13 . Nov . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Loh kita banyak samanya sih Mbak hahaha, sampe sekarang juga hobi melarikan diri kok *tutup muka pake cadar*

        14 . Nov . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *