in Miscellanous

Hangout vs And Then There Were None: Raditya Dika Plagiat?

at
hangout-vs-none-raditya-dika-plagiat

Koran Sabtu Pikiran Rakyat (07/01) memuat salah satu ulasan mengenai film Hangout.  Digadang sebagai film dengan genre komedi horor alias genre yang baru pertama kali ada di Indonesia, katanya sih ya, film ini patut untuk disimak.

Selain karena ini karyanya Raditya Dika yang lain daripada yang lain, beberapa artis papan atas juga ikut serta membumbui film ini.  Ceritanya yang berbeda dari yang lain membuat film ini (katanya) bisa menembus rekor hingga 2 juta penonton.

Tapi benarkah plagiat?

Kata saya, sih, IYA, HAHAHAHAHA *buat yang nonton Hangout, sorry to say, saya marah*.  Yup, marah besar.  Saya nggak tahu darimana asalnya Dika dapat ide cerita itu, entah dari kolong jembatan, entah nanya jelangkung, atau dapat wangsit dari Lia Eden, entah sambil boker dan nonton mini seri BBC abis itu memutuskan kopas cerita dengan pikiran “ya gak papalah gak ada yang nonton ini mini serinya selain gue.”  Intinya sih, pertama kali baca sinopsisnya saja sudah bikin marah.  Karena cerita dasarnya saja sudah MIRIP PAKE BANGET dengan And Then There Were None. 

via tribunnews.com
via tribunnews.com

Ada yang tahu?  Mungkin di antara sekian ratus juta umat Indonesia yang tahu cuma ratusan sampai ribuan kali, ya.  Mungkin ada yang udah nonton, atau bisa jadi kayak saya, emang penggemar berat Agatha Christie sampai novelnya dibaca bolak-balik puluhan kali meski sudah hapal isinya.  Sekarang novel itu nggak tahu ke mana *maafkan saya wahai tante, padahal bukan punya saya* ,  tapi saking sudah melekatnya di memori, saya langsung marah saat tahu jalan ceritanya hampir sama.

Padahal dulu, saya dan teman yang sempat menemukan kasus plagiat di majalah SMA Bandung ketika cerita “1-100”  di buku Cinta Brontosaurus dikopi sampai ke titik komanya.  Kami juga yang langsung melaporkan ke dia via blog, dan saat Raditya Dika mampir ke talkshow Gramedia, kami sempat minta tanda tangan untuk buku keempatnya dan memberitahu bahwa kamilah yang melaporkan.  Waktu itu dia dan timnya bilang sudah mengusut *ceilah, kayak Conan aja* dan sudah tertangani.

likeship.me
likeship.me

Makanya saya kuciwa berat tahu jalan cerita film Hangout. FYI, buat yang cuma tahu Sherlock versi baru *sori sinis, habisnya banyak banget yang nonton Sherlock bukan karena ngikutin bukunya dari awal, jadi banyak yang sok tahu soal Sherlock Holmes*   di Inggris, ada seorang wanita hebat bernama Agatha Christie.  Setelah Perang Dunia I, dia menciptakan cerita detektif bernama Hercule Poirot, detektif asal Belgia dan  digadang sebagai detektif rekaan terbaik selain Sherlock Holmes.  Ini sebabnya BBC pernah membuat filmnya sejak 1989 – 2013.  Saya baru nonton beberapa episode tapi langsung tahu.  “Oh my God, this is the real Hercule Poirot I’ve been imagining!” *CITC dengan sapu tangan secara lebay*

via sherlockian-sherlock.com
via sherlockian-sherlock.com

Mengesampingkan Sherlock vs Poirot hebatan siapa, atau kenapa Sherlock seri baru rambutnya keriting dan nggak ada kereta kuda, atau kenapa saya nggak protes sama serial televisi anyar Sherlock *selain  Ben ganteng, dia berhasil mengeksplorasi karakter tokoh kesayangan saya, makanya kehadiran serial itu saya maafkan* ; saya marah besar karena tidak ada improvisasi dan penambahan komedi sepertinya cukup menjadikan film itu sebagai sesuatu yang “baru”.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa ide cerita aslinya sudah diadaptasi oleh banyak orang untuk beragam karya.  Itu benar.  Tapi kalau sampai metode matinya Matias Muchus dan Surya Saputra persis dengan matinya Anthony Marston dan Dr. Edward Armstrong, apa itu masih bisa dibilang “terinspirasi?” Menurut Jonty Sharples, CEO dan Co Founder & CDO Hactar:

My rule of thumb is as follows: if you’re taking someone else’s work and carbon-copying it for financial or reputational gain, you’re plagiarising.

Saya nggak tahu apa motivasi Dika membuat film ini berdasarkan ide original Agatha Christie, tapi pencatutan tanpa improvisasi buat saya termasuk kategori plagiarisme.  Buat yang nggak tahu jalan cerita And Then There Were None, ini cuplikannya:

Synopsis

Ten strangers are invited to an isolated island by a mysterious host, and start to get killed one by one. Could one of them be the killer?

Bandingin deh sama film lucunya si Dika:

Synopsis

Raditya Dika, seorang actor, mendapatkan undangan untuk HANGOUT, dari seorang pengirim misterius. Undangan tersebut menjanjikan sejumlah uang yang akan mengatasi kesulitan keuanganya. Syaratnya, dia harus pergi ke sebuah rumah ditengah pulau terpencil. Raditya memenuhi undangan tersebut.
Ketika sampai di pulau, Raditya baru sadar bahwa ada public figure lain yang diundang ke pulau tersebut: Prilly Latuconsina, Surya Saputra, Titi kamal, Gading Marten, Soleh Solihun, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak dan Mathias Muchus. Sembilan orang public figure yang memenuhi undangan HANGOUT.
Ketika makan malam, Mathias Muchus mati diracun. Mereka semua terkejut, lalu sadar jangan jangan mereka dijebak. Perlahan mereka mati satu per satu, dibunuh dengan cara masing-masing. Kejadian yang seharusnya menyeramkan menjadi penuh dengan komedi karena sifat-sifat public figure ini yang membuat suasana menjadi hancur berantakan: mulai dari Surya yang penakut hingga ke Dinda Kanya Dewi yang joroknya diluar akal sehat.
Pertanyaannya : Bisakah mereka selamat? Siapa yang tersisa di pulau itu? Mungkinkah pembunuhnya salah satu dari mereka?
WHAT DAFUUUQ, PINTER BANGET DEH BANG DIKA, KOPASNYA  
Okeh, cukup kali ya, marahnya.  Eniwei, supaya nggak terjebak pendapat “filmnya Radit unik, yah” atau “Yah, gak papalah sesekali eksplorasi genre baru walaupun gak begitu suka” PLIIIS, saya jamin begitu nonton mini seri BBC keluaran tahun 2015 ini, dijamin suka.  Banget. Apalagi kalau suka seri Sherlock, terlalu melewatkan mini seri ini. Wong sesama tayangan BBC.

Plot

On a hot day in late August 1939, eight people, all strangers to each other, are invited to a small, isolated island off the coast of Devon, England, by a “Mr and Mrs Owen”. The guests settle in at a mansion tended by two newly hired servants, Thomas and Ethel Rogers, but their hosts are absent. When the guests sit down to dinner, they notice the centrepiece, ten figurines of soldiers arranged in a circle. Afterward, Thomas Rogers puts on a gramophone record, from which a voice accuses everyone present of murder.[4]Shortly after this, one of the party dies from poisoning, and then more and more people are murdered, all in methods synonymous with a nursery rhyme the island is named after,[5] and the murderer removes a figurine from the dining table each time someone is killed. The remaining people decide to work together. They must discover who the murderer is before they run out of time and nobody remains.
Saya udah baca berkali-kali jadi nggak akan ngasih tahu spoiler, fufu, rugi buat yang mau nonton. Cerita inilah yang mengilhami banyak penulis dan mangaka dalam menciptakan cerita detektif ruang tertutup atau area terisolasi, termasuk Kindaichi Shonen no Jikenbo.  Karena itu, wajar saja kalau banyak orang yang menganggap bahwa ini adalah salah satu karya terbaik Agatha Christie. Omong-omong, kalau kamu pernah baca Kindaichi 1 – 27, pasti tahu deh gaya misterinya kayak gini juga.
Namun di sini, Hercule Poirot sama sekali nggak berperan jadi siapapun.  Ini adalah cerita detektif, tanpa detektif.  Keren kan, ya?
via paragraphs.com
via paragraphs.com

Setiap orang di sini punya masa lalu yang kelam.  Masing-masing orang yang ada ternyata memiliki dosa yang masih belum tertebus… dan satu persatu, kejadian aneh mulai terjadi.  Bermula dari kenyataan bahwa terdapat 10 patung prajurit di atas meja makan, itulah awal mulanya pembunuhan terjadi. Pembunuhan ini berdasarkan puisi yang tertera di setiap area, yang dibingkai dalam pigura.  Setiap pembunuhan terjadi, satu persatu patung pun hilang…

Ten little soldier boys went out to dine; One choked his little self and then there were Nine.

Nine little soldier boys sat up very late; One overslept himself and then there were Eight.

Eight little soldier boys traveling in Devon; One said he’d stay there and then there were Seven.

Seven little soldier boys chopping up sticks; One chopped himself in halves and then there were Six.

Six little soldier boys playing with a hive; A bumblebee stung one and then there were Five.

Five little soldier boys going in for law; One got into chancery and then there were Four.

Four little soldier boys going out to sea; A red herring swallowed one and then there were Three.

Three little soldier boys walking in the Zoo; A big bear hugged one and then there were Two.

Two little soldier boys sitting in the sun; One got frizzled up and then there was One.

One little soldier boy left all alone; He went and hanged himself.

And then there were None.

via forum indowebster

Setiap orang terbunuh dengan cara yang dijelaskan sesuai dengan puisi.  Semakin berkurang orang-orang yang ada, semakin mereka curiga satu sama lain.  Bahkan ada yang berhipotesis bahwa pembunuhnya menunggu mereka dalam gelap… berusaha untuk menghabisi semuanya.

Hal yang paling menarik perhatian sejak awal adalah Philip Lombard alias Aidan Turner.  Udah deh kalau udah masalah cogan radarnya langsung jalan, haha. Selidik punya selidik, ternyata wajar saja saya merasa dia ganteng dan familiar, ternyata dialah yang menjadi Kili dalam film The Hobbit. 

via blogspot.com
via blogspot.com

Oke, salah fokus. Tapi tetep ganteng kan, ya? *eh.  Ternyata tahun 1945, film ini diproduksi juga Studio VCI, dan mendapat rating 77% dari Rotten Tomatoes.  Yah, nggak jelek, kok.

Saya sendiri terbilang telat, baru tahu dibikin mini serinya pas Desember 2016.  Nggak apa-apalah, ya.  Yang paling saya suka adalah kenyataan bahwa setiap novel yang diadaptasi menjadi seri atau film, benar-benar sesuai ekspetasi saya. Mereka tetap mempertahankan setting sebagaimana aslinya, yaitu mengambil setting pada 1930-an.  Untung juga yang memerankan orang Inggris asli, nggak kayak film Sherlock, siapa tuh yang meraninnya mendingan jadi Iron Man ajalah ya, hahaha *sinis mode on* *seenggaknya yang saya apresiasi mereka pakai setting abad 18*.

Yang berbeda dari apa yang pernah saya baca adalah fakta bahwa di Indonesia, 10 little soldier boys diterjemahkan sebagai 10 anak negro.  Sementara 10 little soldier boys sendiri merupakan terminologi yang dipakai sekarang; dulu terdapat rhyme terkenal dari 10 little Indians yang memiliki kemiripan serupa dengan 10 little soldier boys dalam puisi di atas.

Kalau kepo dan penasaran pengen nonton, bisa download di Indowebster, atau bagi yang kenal saya bisa barteran harta, haha. Silakan bandingkan dengan film Hangout, bagusan mana?

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    8 Comments

    1. Anonymous

      Jujur aku suka ngkutin film film Radit tapi untuk ‘Hangouts’ aku gak ada liat teasure sama sekali pokoknya aku taunya tiba tiba ada di Bioskop dan cus lah aku nonton gara gara kepo. Pas di bagian awal aku masih biasa aja, belum ngerasa ada yang janggal sampe pas bagian mereka semua ngumpul dan bingung sama pengundang misterius tersebut. Awalnya kukira ‘ah mirip doang kali’ tapi pas makin kutonton makin yakin lah itu cerita sama kayak ‘And Then There Were None’ nya Agatha Christie buku favorite gue, yang novelnya kena basah sama adek gue #jadicurhat oke balik lagi ke main topic. Dan dari situ gue langsung bete gara gara alurnya sama persis! Hanya beda di jumlah peserta dan endingnya aja bahkan metode matinya pun ada beberapa yang sama cuman dibedain dikit (kayak yang jatoh ke jurang kalo di novel itu dia nyebur kelaut kalo gak salah inget) kalo yang And Then There Were None kan metode matinya kayak lagu Ten Little Indians tuh kalo Radit metodenya rada absurd ya gue juga gak paham kenapa bisa seabsurd itu. Kyaa omongan gue berbelit belit tapi intinya gue kecewa gara gara dia gak ngomong ke penonton kalo dia terinspirasi dari Agatha Christie. Soalnya sangat tidak mungkin ‘kebetulan’ mirip bisa sampe semirip itu

      09 . Jan . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Hi, halo, terima kasih sudah mampir ya 🙂

        Dia pernah bilang sih suka sama karyanya Agatha Christie, dan suka komedi, makanya dicampur jadi satu. Emangnya Nano Nano ya :p. Intinya sih kalo emang terinspirasi dia bisa ngomong gitu di posternya kek, di bagian apa kek, ini terkesan kayak dia sendiri yang bikin. Mungkin ada yang ngebela “ya kan bikin cerita detektif gak gampang kali”, tapi beda sama saya yang notebene penulis amatir, dia punya akses lebih untuk belajar ke yang lebih ahli. Atau gimanalah caranya supaya hal-hal yang nggak masuk akal di film jadi bisa diterima. Btw, belom nonton sih, emang beneran gak masuk akal ya di beberapa bagian?

        09 . Jan . 2017
        • Anonymous

          Iya bener kalo ini kesannya dia bikin pure ide sendiri. Iya ada beberapa yang gak masuk akal dan kesannya maksain. Mau kasih tau takut spoiler :/ tapi contoh aja ya Dinda Kanya Dewi yang udah kena piso berkali kali masih bisa ngelangkah dengan santainya dan masih bawel. Walaupun emang itu dibikin biar ada komedinya tapi aku pas nonton malah jadi ngeri and i was be like ‘dih apaan sih’

          Tapi menurutku mungkin efek orang Indonesia yang kurang suka baca dan kurang tertarik sama cerita detektif jadinya banyak yang belain Radit kayak gitu soalnya mereka masih awam. Padahal sebenernya untuk penulis yang udah kayak Radit, dia bisa bikin yang lebih bagus dari itu.

          10 . Jan . 2017
    2. hnh

      Thank you ya udah nulis ini. Sedih banget karya Agatha Christie, dibuat jadi beginian (padahal belum nonton dan makin gak mau nonton). Kalau si Pembuat film mengaku ini hasil adaptasi then gak ada masalah. Tapi kalau dia bilang pure bikinan dia sendiri, grrrrr… #stopplagiarism

      10 . Jan . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Iya sama2 🙂

        Saya juga bikin tulisan ini bukan maksudnya ngejelek jelekin RD, tapi saya pengen adil aja. Sayang juga buat RD, dia udah terkenal dan lain sebagainya, tapi bisa jadi karena tuntutan banyak orang ke dia untuk bikin sesuatu yang baru (karena dia trendsetter buat stand up comedy, buku komedi, dll), jadi kayak gini.

        10 . Jan . 2017
    3. Deka

      Akhirnya ada baca juga hal serupa sama pikiran saya.
      Btw, saya gak tau sih ya Agatha Christie yg punya cerita And Then There Were None (ATTWN) *but saya tau who agatha christie is* saya cuma tau ATTWN karena nonton series BBC nya, itupun karena rekomendasi dr Emmy Awards, hehee.
      Btw, saya gak nonton sih film Hangout nya Radit ya, saya cuma liat Trailer yang selalu di putar di bioskop sebelum film yanng mau saya tonton itu mulai. Cuma liat trailer aja saya udah bisa simpulin kalau nih film emang niru, cuma ditambah komedi aja, dan keabsurd-an ala radit. Pokoknya gitu deh, dari situ sih saya lost interest aja sama nih Film yang katanya laris banget, sorry to say buat fans film ini, saya juga muak. Honestly none of Radits film impressed me, gak pernah nonton di bioskop, cuma liat di tv atau “bajakan” aja.
      Setuju banget sama kata kata mbak yang punya blog, pernah ngebahas masalah ini sama temen, and excatly like you said. Gak suka banget liat film yang jelas2 ngejiplak, atau sama persis tapi gak ada embel2 credit sama originalnya, apalagi sekelas Radit.
      Ah sudahlah, akhirnya terjawab juga tanpa harus nonton film nya, dari baca post sama komen nya.

      19 . Jan . 2017
      • Azzahra R Kamila

        Selama bisa menilai dengan adil, saya selalu welcome xD
        Saya pernah sih nonton Kambing Jantan, ekspetasinya bakalan bagus tahunya gaje pake banget :p
        Sejak saat itu males nonton filmnya Radit, cuptau aja.

        20 . Jan . 2017
    4. anonim

      plagiarisme itu rasanya sakit, kaget saat baca sinopsis ATTWN di Iflix dan berasa de javu sama Hangout, sampe ngetik “Hangout Plagiat” di google dan ternyata, menulis, dapat ide, memang g mudah, dan harusnya karena itu penulis membenci plagiarisme, termasuk plagiat dengan karya orang lain, terima kasih mbak untuk tulisannya (padahal dulu saya suka Hangout)

      30 . May . 2017

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *