Browsing Category:

Miscellanous

fakta-mengejutkan-ideologi-pancasila

Beberapa minggu terakhir ini, saya hobi banget nyampah di Insta Story, mengeluarkan unek-unek saya mengenai peristiwa yang akhir-akhir ini melanda Indonesia. Penyebabnya satu: pemutarbalikan fakta ditambah ketidaktahuan terhadap sejarah membuat saya tertawa murka dengar slogan ala pemerintah: Saya Indonesia.  Saya Pancasila.

Saya tahu kedengarannya saya mengolok-olok, tapi saya sesungguhnya menghormati Pancasila.  Kalau ada yang sepemikiran sama saya setelah baca artikel ini, seharusnya kita memiliki reaksi yang kurang lebih sama.  Miris dengan slogan penuh propaganda itu.

ideologi pancasila
via seword

Kasus-kasus yang akhir-akhir ini menjadi isu hangat yang diperbincangkan, membuat saya sangat yakin itu sengaja dibuat-buat.  Supaya Indonesia gonjang-ganjing, supaya semua orang terpecah belah.  Lalu sengaja “dipersatukan lagi”  dengan slogan.  Hmm.  Saya kemudian berpikir, “Ini ada yang salah nih.  Harusnya nggak bangga menggunakan slogan itu.”  Ini dasar dari  kenapa saya menulis ini dengan judul kontroversial.

Biar apa?

Biar dibaca.

Tujuan saya bukan untuk menaikkan traffic, bukan pula untuk meningkatkan peringkat di Google.  Semata-mata karena saya kesal sistem pendidikan kita terkotak-kotak, jadilah kita sendiri nggak ngerti apa kaitannya antara kekhalifahan dan Pancasila.  Makanya sejak zaman Mama saya sekolah, mungkin jauh sebelumnya, siswanya lebih memilih masuk jurusan IPA.  Alasannya klasik namun nggak bisa dipertanggungjawabkan sumbernya:  karena lebih gampang dapat pekerjaan.

ideologi pancasila
via ytimg

Jadilah pelajaran sejarah terlupakan.  Dan sekalipun belajar sejarah, produk yang kita pelajari selama ini merupakan buatan ideologi sekularisme (ya, bukan buatan ideologi Pancasila) yang menyebabkan kita nggak paham betapa lucunya keinginan pemerintah Indonesia menghapus keberadaan suatu organisasi “hanya” karena bertentangan dengan Pancasila.

Islam itu nggak bertentangan dengan Pancasila.  Itu memang benar.

Tapi berapa banyak orang yang tahu dan paham bahwa keinginan mendirikan kekhalifahan sama sekali nggak bertentangan dengan Pancasila di masa awal?

Makanya saya benar-benar tertawa penuh murka sih saat Bapak W ngomong begini:

Ideologi khilafah yang disuarakan HTI, menurut W, bersifat transnasional. Artinya, ideologi ini meniadakan konsep nation state. “Untuk mendirikan negara Islam dalam konteks luas sehingga negara dan bangsa jadi absurd.”  (Sumber: Tempo)

Err, Pak, udah baca buku sejarah, tapi yang bukan produk sekularisme?

ideologi pancasila
via sumber.com

Saya bukan anggota organisasi tertentu, yang menyebabkan saya jadi terkesan “membela mati-matian.”. Ini hanya upaya saya untuk yang tertarik membaca artikel membuka mata dengan apa yang selama ini sengaja ditutupi dari kita semua. Saya nggak tahu sih apakah saya dan pembaca satu pikiran setelah membaca ini.  Saya menganggap alasan kemunculan slogan itu sangat tidak menghormati asal-usul Pancasila yang sebenarnya.

Itulah yang memotivasi saya menulis hipotesis sejarah sesuai sumber yang sah.  Ingat, JAS MERAH!  Jangan Sekali Kali Melupakan Sejarah! 

Keterkaitan Kekhalifahan dengan Kerajaan dan Kesultanan di Indonesia 

ideologi pancasila
via myrepro.wordpress.com

Berapa banyak orang yang tahu bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan erat dengan kekhalifahan Turki Ustmani?

Sedikit, karena faktanya ditutup-tutupi.

Pernyataan Bapak W itu dengan mudah terbantahkan oleh fakta bahwa Kekhalifahan Turki Utsmani kala itu justru menjalin persahabatan dengan Kerajaan Sriwijaya, yang sebagian besar umatnya beragama Budha.  Ya, bukan menaklukan agar menjadi bagian dari wilayah mereka [1].

Kekhalifahan itu memiliki konsep menaungi berbagai bangsa dan agama di dunia.  Tapi sama sekali tidak menghilangkan kedaulatan.  Munculnya kesultanan dan kerajaan Islam (yang berjumlah hingga 40) dan masih berdiri kokohnya Kerajaan Hindu-Budha kala itu, membuktikan bahwa Utsmaniyah mengakui kedaulatan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.

Karena jika memang seperti itu, bukankah seharusnya raja-raja di kesultanan Nusantara jadi berasal dari bangsa Arab atau Turki?  Sementara yang kita tahu, bahkan di buku sejarah yang kita pelajari semasa sekolah, raja-raja Islam itu asli pribumi.

ideologi pancasila
via alumnikampus.com

Hal yang lebih menarik lagi, justru para penguasa sendirilah yang ingin menjadi bagian dari Kekhalifahan Utsmaniyah.  Sejak raja Sriwijaya menyatakan ketertarikannya untuk mempelajari agama Islam, maka terjadi konversi cukup besar di masyarakat Nusantara.  Ulama dari Timur Tengah didatangkan dalam jumlah banyak, beberapa  di antaranya kita kenal sebagai bagian dari Wali Songo. Banyak yang memeluk agama Islam. Itulah yang mendasari kemunculan kesultanan.

Para penguasa saat itu gigih berjuang agar bisa mendapatkan pengakuan serta gelar sultan dari Syarif Mekkah.  Mereka justru ingin mengasosiasikan diri sebagai bagian dari Daulah Islam yang dipimpin oleh Utsmaniyah. Contoh paling nyata, Aceh menyatakan diri sebagai bagian dari Turki Utsmani, tanpa pemaksaan dari kekhilafahan.

Jadi sangat tidak masuk akal menyatakan bahwa kekhalifahan mengganggu kehidupan bernegara seperti yang saat ini beliau gaungkan.

Hubungan Antara Kekhalifahan dan Kemunculan Ormas-Ormas Islam di Indonesia

ideologi pancasila
via wikimedia.org

Pada awal tahun 1900-an, Utsmaniyah mengalami kesulitan akibat desakan dan propaganda Barat yang membenci kehadiran agama Islam.  Para penjajah (Belanda, Inggris, Portugis) berupaya untuk mengambil wilayah-wilayah Utsmaniyah, salah satunya adalah Nusantara.   Kenapa Nusantara?  Karena selain  ingin memonopoli ekonomi dengan menguasai rempah-rempah, keinginan menceraiberaikan umat juga termasuk rencana mereka.  Sejak dulu kala,  umat Islam terbanyak terdapat di Nusantara.

Sultan Abdul Hamid II berinisiatif untuk mempersatukan orang Islam  dengan cara mengirim utusan ketika Nusantara mulai dijajah tiga negara secara bergantian.  Membagi-bagikan Al Qur’an, mencetak teologi Islam dengan bahasa Melayu, dan lain-lain dilakukan.  Tujuannya satu: agar umat Islam tidak melupakan agamanya sendiri.  Agar semangat umat Islam di Nusantara berkobar, dan terus melanjutkan upaya membebaskan diri dari penjajah.  Inilah yang dikenal sebagai Pan-Islamisme. 

OOT, buat saya sih, slogan #KamiTidakTakut lebih pantas disandang pahlawan-pahlawan kita zaman dulu.  Ya, karena Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, adalah segelintir pahlawan Islam yang tidak takut mati saat melawan penjajahan.  Justru Hindia Belanda takut setengah mati dengan keberadaan mereka.

ideologi pancasila
via kcpi.or.id

Karena itulah diciptakan mind control dimana banyak rakyat Nusantara yang tidak suka Islam, diajak bekerja sama oleh Belanda untuk menumpas semangat melawan penjajahan.  Rakyat di kampung tidak boleh belajar mengaji dan agama  (Sumber: Republika).  Well, ini cuma pendapat pribadi saya, sih, tapi itu juga mungkin alasannya kenapa banyak muslim di Indonesia membenci agamanya sendiri.  Sukses besar, 3G yang dijalankan Belanda 😀

Salah satu bentuk perlawanan lain selain perang adalah pendirian organisasi masyarakat.  Sarekat Islam sesungguhnya merupakan organisasi pertama yang berdiri (ya, bukan Boedi Oetomo), karena didirikan tahun 1905.  Sementara Boedi Oetomo didirikan tahun 1908.  Satu hal lagi fakta sejarah yang bikin saya miris: Sarekat Islam itu bersifat nasionalis. Ingin agar kemerdekaan segera terlaksana.   Boedi Oetomo itu hanya ingin memajukan suku Jawa dan Madura.

Kenapa malah Boedi Oetomo yang dielu-elukan?

ideologi pancasila
via historia.id

Satu fakta lagi yang mengejutkan, Boedi Oetomo dalam kongresnya di Solo, 6-9 April 1928, menolak pelaksanaan tjita2 persatoean Indonesia. [2].  Terus apa hubungannya dengan Pancasila?  Sangat erat, dan akan saya bahas di chapter selanjutnya.

Tahun 1920, ketika Kemal Pasha  meruntuhkan kekhalifahan, seluruh umat Islam terkejut.  Apa pasalnya?  Karena propaganda Barat berhasil menjalankan rencana untuk memisahkan Islam dari kehidupan bernegara dan berbangsa.  Sehingga sampai saat ini, banyak bermunculan pemikiran, “Agama itu hanya urusan saya dan Tuhan.”  “Agama itu hanya ibadah vertikal, seperti shalat, zakat, puasa.”

Miris, nggak, sih?

ideologi pancasila
via okezone.com

Ormas-ormas Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, mulai membicarakan penegakan kekhalifahan kembali.   Deliar Noer menyatakan sebagai berikut:

Umat Islam di Indonesia tidak hanya berminat dalam masalah khilafah, tetapi juga merasa berkewajiban memperbincangkan dan mencari penyelesaiannya. [3]

Aqib Sumanto dalam disertasinya menyatakan hal serupa:

Ada kaitan yang erat antara paham Pan-Islamisme dan jabatan Khalifah karena Khalifah merupakan simbol persatuan ummat Islam di seluruh belahan dunia. [4]

Orientalis Belanda, Martin van  Bruinessen, menyatakan dalam jurnal ilmiahnya sebagai berikut:

The defeat of the Ottoman Empire and the Allied occupation of Istanbul nevertheless came as a shock to many Indonesian Muslims. It was felt that the victors not only treated Turkey unduly harshly but in acting against the caliph were interfering with the entire Muslim world. A meeting of the reformist Muslim organization Muhammadiyah, in mid-1920, protested the conditions imposed by the treaty of Sèvres, which were perceived to be a British ploy to finish off Islam and the caliphate. A resolution was moved to ask the Dutch government to pass this protest on the Allied powers. [5]

Ya, di sini lah relevansinya antara ormas Islam kala itu dengan kekhalifahan.  Dan ini terkait juga dengan sejarah asal-usulnya Pancasila.  Kerinduan umat Islam dengan kekhalifahan tergambarkan pada asal-usul pembuatan Pancasila.

Namun seperti yang dibahas oleh Bruinessen, gerakan ini mendadak luntur.  Ormas yang dulu ingin sekali mendirikan Negara Islam, justru berubah fungsi menjadi ormas yang lebih mementingkan kebangsaan.  Hal ini dipicu juga oleh perpecahan di antara muslim sendiri.  Yap, mind control kembali berhasil membuat masyarakat Islam gonjang-ganjing.

The Indonesian All Islam Congress survived the Mecca-based conference by a few years, but it was also rapidly falling apart. Conflicts between the Sarekat Islam and Muhammadiyah became more frequent, and by the end of the decade, the All Islam Congress was exclusively a Sarekat Islam affair. In 1929, the Sarekat Islam gave up its pan-Islamism in favour of Indonesian nationalism. Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama, on the other hand, turned their attention to more strictly religious, educational and social concerns. [5]

Nah, terus kenapa nih Pancasila jadi seperti sekarang?

Semuanya bakal saya bahas di chapter selanjutnya yang bisa dibaca di postingan: 4 Fakta Mengejutkan Bukti Keterkaitan Kekhalifahan dan Ideologi Pancasila (2).

Share: