May 18, 2017 Azzahra R Kamila 2Comment
The Black Cat and Other Stories Book Cover The Black Cat and Other Stories
Edgar Allan Poe
Mistery, Horror Gothic, Detective, Psychological Thriller
Noura Books
Mei 2016
Paperback
378

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Edgar Allan Poe?  Karya-karyanya menginspirasi para penulis cerita misteri terkenal seperti Agatha Christie, hingga Sir Arthur Conan Doyle.  Ide dan gaya penceritaan yang begitu unik, suram, dan menekankan deskripsi yang kuat, membuatpembaca seakan mengalami sendiri kisah yang dilakoni tokoh utamanya.

Tumbuh dewasa sebagai anak adopsi, Poe menjalani kehidupan yang sulit.  Namun, di tengah kerumitan kisah pribadinya, Poe mampu menulis begitu banyak karya yang patut diapresiasi di genre horor gothic dan detektif.

Kucing Hitam (1843) adalah salah satu cerpennya yang membuat pembaca benar-benar merasakan kengerian si tokoh utama atas kejadian aneh setelah kematian kucing peliharaannya.  Sementara Peristiwa Pembunuhan di Rue Morge (1841) disebut-sebut sebagai kisah detektif fiksi pertama di dunia - menceritakan tokoh detektif yang dengan metode tertentu menyelidiki kasus pembunuhan di ruang tertutup.

Oke, setelah sekian lama membuat blog terbengkalai *which is membuat saya nangis bombay juga*, akhirnya saya posting lagi.  Omong-omong, selamat hari buku nasional! Niatnya sih untuk kemarin, somehow anyhow baru update sekarang (bilang aja males  ) daan akhirnya beneran comeback ke sini.  Omong-omong (lagi), sebetulnya sejak dulu saya memang plotting ingin sekali membahas review buku karya Edgar Allan Poe, The Black Cat, sejak saya beli kumpulan cerpennya April lalu. (more…)

Read More
February 24, 2017 Azzahra R Kamila 2Comment
What I Talk About when I Talk About Running Book Cover What I Talk About when I Talk About Running
Haruki Murakami
Memoar
Bentang Pustaka
April 2016
Paperback
182

Setelah mendedikasikan dirinya untuk menjadi penulis, Haruki Murakami mulai giat berlari supaya tetap fit. Apa yang semula hanya bertujuan sebagai olahraga berubah menjadi kegiatan yang membuatnya terobsesi. Saat berlari, ia tak hanya menemukan kebebasan namun juga pemikiran-pemikiran baru. Pada akhirnya, Murakami memutuskan untuk ikut dalam maraton di kota New York tahun 2005.

Tak hanya berlatih dan bersiap untuk mengikuti maraton saja, Murakami pun menuliskan pengalamannya tersebut. Hasilnya adalah memoar yang indah tentang obsesinya terhadap menulis dan berlari. Dan, siapa yang menyangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.

What I Talk About when I Talk About Running adalah karya yang kaya, intim, jenaka, sekaligus filosofis dan mendalam. Haruki Murakami sendiri merupakan salah satu penulis terbaik dunia saat ini, yang telah berkali-kali meraih nominasi Penghargaan Nobel bidang Sastra.

Beberapa hari ini saya down.  Pake banget. Curhat sedikit, dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh naskah novel saya yang terbaru berjudul “Selamat Datang di Toko Kenangan” gagal tembus 2 lomba menulis dan ditolak 1 penerbit. (more…)

Read More
January 10, 2017 Azzahra R Kamila
Critical Eleven Book Cover Critical Eleven
Ika Natassa
Romance
Gramedia Pustaka Utama
August 10th, 2015
Paperback
344

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

“Anyone who is in love is making love the whole time, even when they’re not. When two bodies meet, it is just the cup overflowing. They can stay together for hours, even days. They begin the dance one day and finish it the next, or–such is the pleasure they experience–they may never finish it. No eleven minutes for them.” ― Paulo Coelho, Eleven Minutes (more…)

Read More
December 2, 2016 Azzahra R Kamila
The Rose and The Dagger Book Cover The Rose and The Dagger
The Wrath and The Dawn
Renee Ahdieh
Fantasy, Historical, Romance
POP (Imprint KPG)
19 September 2016
Paperback
486

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.

Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….

Saya seneng banget begitu secara impulsif main ke toko buku, nemu lanjutan dari serial ini.  Sempet ngira bahwa buku ini baru terbit tahun depan, mengingat sekuelnya baru terbit tahun ini di luar negeri.  Rupanya POP sangat tanggap terhadap penggemar serial The Wrath and The Dawn, karena September ternyata udah ada. Judulnya adalah The Rose and The Dagger, lumayan cocok dengan maksud dari cerita buku ini.  Buat yang belum pernah baca yang pertama: tulisan ini mengandung spoiler.  Tanggung sendiri risikonya kalau malah baca ini duluan  (more…)

Read More
November 25, 2016 Azzahra R Kamila
Animal Farm Book Cover Animal Farm
George Orwell
Literary, Satire
Bentang Pustaka
August 17th 1945
Paperback
140

Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.
Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan … walau harus dengan kekerasan.
Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award untuk novela terbaik (1996) dan Prometheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya.

Alasan kenapa saya mendadak jadi suka sama sastra: Naskah saya ditolak oleh sayembara DKJ.  Walaupun udah tahu bahwa itu belum layak disebut sastra, rasanya kesel aja karena saya belum bisa menulis dengan standar selevel itu Entah kenapa penerbit sekarang lagi gencar-gencarnya memperkenalkan sastra dunia, terutama karya-karya terkenal.  Saya sampai bingung mau beli yang mana saking pengen baca semua Animal Farm adalah salah satu pilihan saya, karena cukup tipis dan sepertinya menarik.  Saya agak menyayangkan aja bagian blurb yang terang-terangan menjelaskan bahwa ini merupakan alegori politik; pembaca itu nggak bodoh, sih, jadi nggak perlu diberitahu kalau ini merupakan satire atas totalitarianisme…

Read More