Browsing Category:

Books

review-sirkus-pohon
Sirkus Pohon Book Cover Sirkus Pohon
Andrea Hirata
Drama, Romance, Slice of Life
Bentang Pustaka
Agustus 2017
Paperback
424

Baiklah, Kawan, kuceritakan padamu soal pertempuranku melawan pohon delima di pekarangan rumahku dan bagaimana akhirnya pohon itu membuatku kena selalu wajib lapor setiap Hari Senin, di Polsek Belantik.

Benci nian aku pada delima itu, lihatlah pohon kampungan itu, ia macam kena kutuk. Pokoknya berbongkol-bongkol, dahan-dahannya murung, ranting-rantingnya canggung, kulit kayunya keriput, daun-daunnya kusut. Malam Jumat burung kekelong berkaok-kaok di puncaknya, memanggil-manggil malaikat maut. Tak berani aku dekat-dekat delima itu, karena aku tahu pohon itu didiami hantu.

Dalam novel ini Andrea akan membuat kita terbahak-bahak mengikuti kisah orang-orang Melayu di pedalaman Belitong yang lugu, tersedu-sedu oleh kisah cinta yang masygul, atau geleng-geleng kepala oleh intrik-intrik mereka yang luar biasa. Kita akan menemukan manusia-manusia yang tak sempurna, tapi sekaligus menemukan kebijaksanaan dalam diri mereka.

Saya termasuk salah seorang yang selalu menanti karya terbaru Andrea Hirata.  Bukan apa-apa, gaya berceritanya yang asyik, dalam untuk bisa direnungi, tapi sekaligus ringan karena bisa membuat kita tertawa di setiap bab; buat saya itu luar biasa.  Tidak banyak penulis yang bisa melakukan semuanya sekaligus.  Jadi, saya berharap dong, buku ini juga bisa memenuhi ekspetasi?

Share:
review-book-mirrors-ingatan-dipalsukan
The Book of Mirrors Book Cover The Book of Mirrors
E.O Chirovici
Suspense, Mystery, Detective
PT Gramedia Pustaka Utama
Juli 2017
Paperback
321 halaman

Pembunuhan keji
Puluhan tahun telah berlalu sejak Profesor Wieder ditemukan mati di rumahnya yang mewah.

Misteri yang terkubur
Sebuah naskah memoar ditemukan, mengungkapkan identitas tiga orang yang berada di rumah itu pada malam kejadian.
Ketiganya ingat benar apa yang terjadi. Tapi ada satu orang yang berdusta…

Seberapa akurat ingatan kita sesungguhnya? Itulah kesan pertama yang saya baca ketika membaca beberapa halaman di awal.  Kutipan Richard Kadrey, dari Kill the Dead mewakili bagian awal isi dari novel The Book of Mirrors:

“Kenangan bagaikan peluru.  Sebagian melesat lewat dan membuatmu ketakutan.  Yang lainnya melukaimu dan meninggalkanmu hancur berkeping-keping.”

Share:
The Black Cat and Other Stories Book Cover The Black Cat and Other Stories
Edgar Allan Poe
Mistery, Horror Gothic, Detective, Psychological Thriller
Noura Books
Mei 2016
Paperback
378

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Edgar Allan Poe?  Karya-karyanya menginspirasi para penulis cerita misteri terkenal seperti Agatha Christie, hingga Sir Arthur Conan Doyle.  Ide dan gaya penceritaan yang begitu unik, suram, dan menekankan deskripsi yang kuat, membuatpembaca seakan mengalami sendiri kisah yang dilakoni tokoh utamanya.

Tumbuh dewasa sebagai anak adopsi, Poe menjalani kehidupan yang sulit.  Namun, di tengah kerumitan kisah pribadinya, Poe mampu menulis begitu banyak karya yang patut diapresiasi di genre horor gothic dan detektif.

Kucing Hitam (1843) adalah salah satu cerpennya yang membuat pembaca benar-benar merasakan kengerian si tokoh utama atas kejadian aneh setelah kematian kucing peliharaannya.  Sementara Peristiwa Pembunuhan di Rue Morge (1841) disebut-sebut sebagai kisah detektif fiksi pertama di dunia - menceritakan tokoh detektif yang dengan metode tertentu menyelidiki kasus pembunuhan di ruang tertutup.

Oke, setelah sekian lama membuat blog terbengkalai *which is membuat saya nangis bombay juga*, akhirnya saya posting lagi.  Omong-omong, selamat hari buku nasional! Niatnya sih untuk kemarin, somehow anyhow baru update sekarang (bilang aja males  ) daan akhirnya beneran comeback ke sini.  Omong-omong (lagi), sebetulnya sejak dulu saya memang plotting ingin sekali membahas review buku karya Edgar Allan Poe, The Black Cat, sejak saya beli kumpulan cerpennya April lalu.

Share:
What I Talk About when I Talk About Running Book Cover What I Talk About when I Talk About Running
Haruki Murakami
Memoar
Bentang Pustaka
April 2016
Paperback
182

Setelah mendedikasikan dirinya untuk menjadi penulis, Haruki Murakami mulai giat berlari supaya tetap fit. Apa yang semula hanya bertujuan sebagai olahraga berubah menjadi kegiatan yang membuatnya terobsesi. Saat berlari, ia tak hanya menemukan kebebasan namun juga pemikiran-pemikiran baru. Pada akhirnya, Murakami memutuskan untuk ikut dalam maraton di kota New York tahun 2005.

Tak hanya berlatih dan bersiap untuk mengikuti maraton saja, Murakami pun menuliskan pengalamannya tersebut. Hasilnya adalah memoar yang indah tentang obsesinya terhadap menulis dan berlari. Dan, siapa yang menyangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.

What I Talk About when I Talk About Running adalah karya yang kaya, intim, jenaka, sekaligus filosofis dan mendalam. Haruki Murakami sendiri merupakan salah satu penulis terbaik dunia saat ini, yang telah berkali-kali meraih nominasi Penghargaan Nobel bidang Sastra.

Beberapa hari ini saya down.  Pake banget. Curhat sedikit, dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh naskah novel saya yang terbaru berjudul “Selamat Datang di Toko Kenangan” gagal tembus 2 lomba menulis dan ditolak 1 penerbit.

Share:
Critical Eleven Book Cover Critical Eleven
Ika Natassa
Romance
Gramedia Pustaka Utama
August 10th, 2015
Paperback
344

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

“Anyone who is in love is making love the whole time, even when they’re not. When two bodies meet, it is just the cup overflowing. They can stay together for hours, even days. They begin the dance one day and finish it the next, or–such is the pleasure they experience–they may never finish it. No eleven minutes for them.”
Paulo Coelho, Eleven Minutes

Share: