Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    Intelegensi Embun Pagi Book Cover Intelegensi Embun Pagi
    Supernova
    Dewi Lestari
    Supernatural, Science Fiction, Romance, Mystery
    Bentang Pustaka
    26 Februari 2016
    724

    Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

    Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

    Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.

    Hidup mereka takkan pernah sama lagi.

    SPOILER ALERT.  Kecuali kepingin tahu spoiler dan untuk menentukan apakah review saya benar atau tidak, silakan meninggalkan web ini dan langsung ngacir ke toko buku.

    Share:
    in Books

    Antara Batas Hidup dan Mati

    at
    I Was Here (Aku Pernah Di Sini) Book Cover I Was Here (Aku Pernah Di Sini)
    Gayle Forman
    Romance, Mystery, Tragedy
    Gramedia Pustaka Utama
    25 Februari 2016
    328

    “Seperti pada If I Stay, Forman menawarkan pengamatan introspektif tentang batas antara hidup dan mati, dan keberanian yang dibutuhkan untuk bertahan.”
    —Publishers Weekly, starred review

    Ketika Meg, teman baik Cody, mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembersih, Cody sangat sedih dan tidak bisa memahami perbuatan sahabatnya itu. Ia dan Meg selalu berbagi cerita—jadi bagaimana ia bisa tidak tahu masalah sahabatnya tersebut?

    Namun ketika pergi ke kota tempat Meg kuliah untuk mengemasi barang-barang sang sahabat, Cody mendapati bahwa banyak yang tidak diceritakan Meg: tentang teman-teman sekamarnya—tipe yang takkan pernah dijumpai Cody di Washington, kota kecil tempat ia tinggal. Tentang Ben McAllister, cowok sinis jago main gitar, yang membuat Meg patah hati. Tentang file komputer yang tidak dapat dibuka Cody—sampai ia berhasil membukanya, lalu jadi ragu tentang semua yang dikiranya ia ketahui tentang kematian sang sahabat.

    Sebetulnya apa itu kehidupan?  Apa itu kematian?  Apa yang membuatnya bisa menjadi satu benang tipis yang bisa dengan mudah memisahkan jiwa manusia dari dunia?

    Awal mula saya membaca buku ini, saya cukup bersemangat untuk bisa mendapatkan perspektif baru tentang hidup. Tema dan garis besar dari buku ini adalah “bunuh diri”, dimana saya yakin masih sesuatu yang cukup tabu untuk dibicarakan, baik secara nyata maupun dijadikan buku. 

    Share:
    1373839