August 17, 2017 Azzahra R Kamila 0Comment

Dengan program penggalakan Aku Cinta Indonesia versi Presiden Jokowi, akhir-akhir ini saya lihat banyak yang menunjukkan nasionalismenya lewat sosial media dan bacaan.  Kebanyakan posting soal “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Atau “Dirgahayu Republik Indonesia 72.” Dan sebagainya.

Hari ini upacara bendera 17 Agustus dilaksanakan di seluruh penjuru Indonesia.  Tapi, apakah ini cara yang cukup  untuk mencintai Indonesia?

Jujur aja, sebagai penggemar teori konspirasi, apa-apa selalu saya kaitkan dengan “ada-sesuatu-terselubung-di-balik-omongan-pemerintah”, lol.  Mungkin karena saya orangnya logis, jadi saya tidak serta merta bisa menerima apa saja yang dikatakan orang lain.  Terutama, omongan mereka yang ngaku wakil rakyat.

Err, Mi, bahasan lu kok mojokin pemerintah banget, yak? Anti pemerintahan sekarang ya?  Jangan jangan kamu dukung kubu oposisi?

Postingan ini nggak akan bahas soal apatisme ke pemerintah, kok, hehe.  Adanya bakal di-bully habis-habisan sama netizen.  Saya juga tidak sedang membuat postingan persuasif untuk membela salah satu kubu.  Bolehlah  saya mihak, kalau ada dari salah satu kubu ingin content placement atau jadi sponsor beauty product (?) di blog saya *kedip kedip manja *emang situ siapa ~XD

Tapi saya kira nggak ada salahnya kok kita coba bahas nggak dari “look at the bright side” atau versi Indonesianya “apresiasi dong sama usaha pemerintah/Raffi A*mad/siapalah itu yang dibilang sedang mengharumkan nama bangsa.”

Nggak.  Saya lagi nggak nyinyir.

Pemikiran saya mungkin berlawanan dengan pemerintah, karena terlalu lelah melihat drama para pejabat sampai-sampai memilih nonton tayangan luar negeri daripada berita negeri sendiri.  Tapi bukan berarti saya tidak punya cara mencintai Indonesia.  

Ada banyak ragam cara mencintai Indonesia.  Entah pakai batik, bikin produk lokal, lebih memilih pakai produk lokal, bikin tumpeng untuk kepentingan seluruh warga baik kaya dan miskin, sumbang untuk korban banjir di daerah lain, atau bikin vlog tentang makanan Indonesia agar viral ke seluruh dunia. Kita punya cara masing-masing.

Entah mungkin dengan nonton R*f*th*r.  Itu bukti cinta Indonesia juga, kan? (eh, iya nggak sih?) ;p

Well, terus di sini mau ngomong apa, Mi, kalo nggak lagi jelek-jelekin salah satu kubu?

Inilah cara saya mencintai Indonesia: mengkritisi sejarah.  Kritik dan opini yang saya harap cukup positif:

Paham Bagaimana Pancasila Sesungguhnya

aku cinta indonesia
Rapat Perumusan Pancasila PPKI

Oke, kalau soal ini saya sempat agak nyinyir waktu membahas asal usul  Pancasila (jangan ngaku Saya Indonesia, Saya Pancasila kalau belum tahu sejarah aslinya yang bisa dibaca di ideologi Pancasila dan Kekhalifahan).  Saya sendiri nggak akan mengatakan “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, karena saya merasa belum pantas disebut Pancasilais.

Kenapa?

ide.o.lo.gi /idéologi/
bentuk tidak baku: idiologi

  1. n kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup: dalam pertemuan itu penatar menjelaskan dasar — negara
  2. n cara berpikir seseorang atau suatu golongan: hal itu menjadi makanan empuk bagi — asing yang ingin menginfiltrasi kita
  3. n paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik: — komunis menjadi pegangan bagi negara-negara yang selama ini disebut Blok Timur

aku cinta indonesia

Agar bisa disebut ideologi, maka harus memenuhi syarat sebagai berikut: 

  1. Sistem Nilai Filosofis: Dimensi spiritual ideologi. Ideologi Pancasila itu Bhineka Tunggal Ika.  Alias sekuler, karena saat itu terjadi perubahan terhadap sila pertama yang asli. Tidak ada nilai spiritual di dalamnya, karena spiritual terkait dengan kepercayaan terhadap Tuhan tertentu atau sesuatu yang dituhankan secara spesifik.
  2. Sistem Nilai Operatif: Nilai-nilai filosofis ini kemudian dituangkan menjadi peraturan yang ditaati masyarakat dalam bidang politik, ekonomi, dan hukum.  Sistem nilai operatif dilihat dari instrumen apa yang dipakai oleh suatu ideologi. Apa yang kita punya? KUHP  yang notebene merupakan buatan zaman Hindia Belanda.  Meski KTT Non Blok digelar beberapa waktu lalu, giliran diancam Amerika akan diembargo, kita buru-buru menyatakan klarifikasi.  Freeport menjarah emas di Papua dibiarkan, karena kita (pemerintah) tetap kok dapat persenan.
  3. Sistem Nilai Normatif: Nilai-nilai ini tentunya perlu dimengerti dengan mudah oleh berbagai lapisan masyarakat. Pancasila memilikinya, karena tujuan Pancasila bisa dibaca di Pembukaan UUD 45.  Tapi nilai-nilai ini berubah kosong saat tidak ada nilai filosofis yang menyangga Pancasila.
  4. Sistem Nilai Etis: Metodologi yang dipakai oleh masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai kesantunan.  Cara yang disampaikan oleh kolonialisme dan kapitalisme adalah dalam bentuk penjajahan.  Cara yang disampaikan oleh sosialisme adalah “sama rata sama rasa.” Belum ada metode yang dipakai untuk menyampaikan seberapa penting Pancasila bagi kehidupan kita, karena memang tidak ada[1].

Jadi, syarat menjadi Pancasilais adalah bisa mengamalkan Pancasila secara keseluruhan. Kita jangan merengut pada Lenin dan Stalin, karena mereka mengamalkan nilai-nilai komunis secara shahih.  Kita seharusnya jangan mengejek Mussolini yang beriman pada fasisme sampai mati.

aku cinta indonesia
Stalin, Ordzhonikidze, Mikoyan

Tidak perlu menilai apakah ideologinya benar atau tidak. Mereka hanya mengamalkan ideologi yang mereka yakini, toh (menjadi komunis dan fasis sejati)?

Jadi sesungguhnya, apa yang bisa kita lakukan dan amalkan dari Pancasila? Belum ada (atau mungkin ada setelah rumusan dari Presiden Jokowi sudah terbit).

Saat ini Pancasila hanya seonggok ide (tanpa logi) yang tidak akan pernah bisa direalisasikan oleh siapa pun menjadi ideologi yang naik tahta menjadi presiden.

Indonesia Bukan Pemerintah

aku cinta indonesia
Proklamasi 17 Agustus 1945

Dosen saya pernah menulis status begini di Facebook (nama dirahasiakan):

Pemerintah itu merupakan amanah yang berjangka waktu yang bisa diberikan dan dicabut kapan saja
Negara merujuk suatu area geografis sebagai sekumpulan penduduk yang pada akhirnya menjadi suatu sistem.

Kita mengabdi pada negara atau pada pemerintah?
Jika mengabdi pada negara, maka kita loyal pada sistem negara.
Jika mengabdi pada pemerintah, maka kita loyal hanya pada pemerintah. Artinya, kita hanya loyal pada sekumpulan orang atau kepentingan.

Saya kira kurang tepat jika pemerintah menjadikan Pancasila sebagai tameng terhadap kepentingan mereka membubarkan ormas yang dianggap sesat.

Memang sesat dari Pancasila itu kayak gimana? (memangnya Pancasila agama?)

Memangnya yang antiPancasila itu kriterianya apa?

Jurnal, e-book, dan proceedings macam apa yang bisa mengukuhkan pendapat pemerintah? *lu kira sidang, Mi*

Kalau begitu yang disebut Pancasialis seperti apa?

Sistem negara Pancasila itu bagaimana?

Zaman Soekarno, sistem negara Indonesia mengacu pada sosialisme.

Zaman Soeharto, sistem negara Indonesia mengacu pada liberalisme.

Zaman sekarang, sistem negara mengacu pada kapitalis-demokrasi liberal.

Well, akui saja faktanya.  Tiga bank kita “dijual” pada China tahun lalu.  Bank Mandiri, BNI, dan BRI.  Walaupun ekonom sekuler menganalisis bahwa posisi kita masih aman [2], tapi bukankah pemerintah negara lain jadi lebih berkuasa atas kita?

Kalau pakai logika secara bodohan, siapa sebetulnya yang paling di atas angin: peminjam utang, atau pemberi utang?

Well, terlepas dari bahasan di atas, tulisan dari Imron Cotan, yang pernah menjadi duta besar Indonesia untuk Australia dan China, mencerahkan terhadap isu-isu ganas yang saat ini marak diperdebatkan:

It is only fair therefore to wonder which Pancasila we are referring to when we gauge whether an ideology is compatible or incompatible with it. Do we mean the Pancasila that has transformed itself into a pseudo-liberal ideology or the middle-way Pancasila as introduced by President Sukarno?

If the nation is still unable to provide a clear-cut answer to this basic question, it is only sensible to avoid using Pancasila to quell opposition, especially if national security is cited as a pretext. If the government insists, it will run the risk of being trapped in a situation in which Pancasila again functions as a tool of suppression. 

In order to avoid such a delicate situation, the government should urgently organize an allinclusive national dialogue in order to form a new national consensus or a new social contract, where the middle-way Pancasila should play a key role in the creation of a country that all Indonesians can proudly call home.  

Mengutip 3 paragraf terakhir opini dari The Jakarta Post, 31 Mei 2017 

Akhir Kata

aku cinta indonesia
Merah Darahku, Putih Tulangku, Bersatu dalam Semangatmu!

Tahukah kamu apa sesungguhnya makna mengabdi? Itu artinya, bahkan pada saat situasi terjepit pun, kita akan tetap loyal terhadap yang kita abdi.  Mengabdi, artinya kita siap keluar dari comfort zone. Mengabdi artinya paham konsekuensi setiap hal baik dan buruk untuk diri, masyarakat, dan negeri.   Sekecil apa pun tentu bisa merubah benang nasib orang Indonesia yang lain.  Jadi perbuatan jahat kecil pun bisa merubah nasib yang lain.

Jadi, ketika  kita protes dengan adanya impor dan mafia garam, entah itu ucapan, tulisan, maupun perbuatan, itu adalah bentuk terkecil dari mengabdi.  Saya kira perbuatan kecil itu yang bisa kita sebut sebagai pengamalan Pancasila yang sesungguhnya.

Bukan dengan membubarkan ormas.

Bukan dengan berdalih meminjam dana untuk Bappenas nyatanya aset negeri dijual.

Perlu kita ingat juga, pemerintah adalah manusia.  Manusia bisa berbuat salah.  Konsep atau ideologi mana pun yang buatan manusia, sesungguhnya tetap memiliki celah.  Mengutip dosen saya, jika ingin menjadi negara yang baik, bukankah sebaiknya didasarkan pada konsep ketuhanan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *