Miscellanous

4 Hal Memanfaatkan Waktu Luang yang Bisa Dilakukan dengan Baik

by Azzahra R Kamila-
4-hal-memanfaatkan-waktu-luang

“Sibuk” adalah cara defense terbaik ketika kamu ingin memanfaatkan waktu luang dengan baik tapi ujung-ujungnya malah molor di kasur, wkwk.  Saya biasa menyebut ini waktu “me-time” yang berharga, karena setelah jadi budak korporat, saya sangat menghargai waktu untuk tidur.

Bukan apa-apa, sih, “me-time” itu beneran perlu ketika kamu sudah merasakan rutinitas menyebalkan semacam kerja, wkwk.  Ya tapi mau gimana, masalahnya ketika kita sudah dewasa, meminta-minta padahal sudah diberi fisik dan hati yang siap pakai untuk mencari uang, agak gimana juga, ya. Jadi, ya, intinya, kamu akan sangat membutuhkan waktu menghilangkan penat setelah bersusah payah mencari uang.

Kalau tidur, bermanfaat enggak sih?

Yup, selama kamu enggak ngepanda terus di kamar. Kalau teman saya, Tami Oktari, biasanya sih beda lagi bentuk me-time. 

Karena sesungguhnya ada banyak banget hal yang bermanfaat bisa dilakukan selama “me-time” itu, di antaranya:

 

Cari Hobi 

Saya yakin tiap orang punya hobi.  Enggak mungkin enggak punya.  Bahkan buka website online shop tiap hari juga hobi, kok. Itu kan bentuk sebuah kegemaran juga, ya, kan?

Nah, tapi bukan online shop terus tiap hari, bagi sebagian besar orang, tentunya itu buang-buang waktu.  Terus, kira-kira bisakah kebiasaan ini dikembangkan jadi hobi?

Bisa.  Misal nih, kita punya kecenderungan hedon dengan jajan skincare.  Atau buku.  Atau peralatan masak.  Kita bisa menjadikan edisi hunting produk ini menjadi suatu hal yang bisa kita laporkan tiap hari lewat sosial media.

“Kok kayak sok penting lewat sosmed, malu-maluin.”

Eits, justru itu letak istimewanya story seperti Facebook Story dan Instagram Story. Termasuk Snapgram juga. Buat yang punya kebiasaan kepoin kehidupan orang lain, kebiasaanmu itu bisa jadi salah satu ajang untuk berbagi informasi. Kecil-kecilan saja, dengan melakukan review, memberikan first impression, orang yang memang sehati denganmu tentu akan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak lagi informasi yang kamu berikan.

Syukur-syukur kalau misal makin banyak orang yang follow, ini bisa jadi cara lain buat monetisasi.  Apa itu?  Nulis!  Enggak perlu takut enggak bisa nulis, toh banyak juga yang lebih suka mengulas di sosial media ketimbang buat blog atau video. Berikan saja kesan-kesanmu secara jujur, karena itulah value yang dilihat orang darimu: informasi apa adanya.

Jadi, siapa sangka kalau ternyata hobi review panci juga bisa jadi jalan untuk bisa jadi influencer masak-masakan?

Segalanya mungkin!

Saya punya hobi yang beruntun menjadi jenis-jenis hobi yang lain: ngeblog.  Dan tahukah kamu, sekali ngeblog dan suka dengan kegiatan ngeblog, kamu bakal ketagihan untuk bikin tulisan-tulisan lain yang berkualitas! Dari situ saya juga belajar bagaimana caranya membuat foto yang menarik, cara barter produk dengan review (alias adab ketika bekerja sama dengan brand), cara agar blog dibaca banyak orang dengan mengasah kemampuan dalam menulis dan SEO lebih baik lagi.

Saat ini memangnya sudah memonetisasi?

Belum.  Tapi dari hobi, sangat mungkin lho, untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat buat diri kita.  Jadi, selagi senggang, cobalah cari hobi sesuai dengan passion atau kegemaranmu!

Tambah Pengetahuan

Jangan sangka kebiasaan belajar itu “tok” berhenti sampai kamu lulus kuliah.  Tanpa kita sadari, kita akan terus belajar sampai akhir hayat, kecuali kalau bebal banget enggak mau ngapa-ngapain, ya gimana mau belajar.

Contoh paling sederhana, misal, mencoba beradaptasi dengan lingkungan kantor sebagai anak baru.  Itu adalah ajang untuk belajar beradaptasi, tidak hanya dengan pekerjaan, tetapi juga mengenal sifat masing-masing orang yang akan menjadi rekan kerjamu.  Ada banyak hal selama di perkuliahan yang tidak akan kamu lihat sebelumnya, yang membuat kamu harus bisa mengikuti pace sesuai tuntutan.

Nah, bahkan ketika waktumu luang banget sampai bingung mau ngapain, sesungguhnya kamu bisa memanfaatkan sebagian waktu itu dengan menambah pengetahuan.

Misal kayak gimana?  Baca buku? Boring!

Yes, buat sebagian besar orang boring, sih.  Tapi cara menambah pengetahuan tidak harus belajar “tok” seperti di kelas. Nonton film, coba tutorial bikin kerajinan lewat Youtube, ikut kursus bahasa, atau nyoba resep baru juga termasuk cara untuk menambah pengetahuan sekaligus keterampilan. Memangnya kalau nonton film pengetahuan macam apa sih, yang bisa didapat?  Macam-macam, malah mungkin bisa ambil pesan moral dari apa yang ditonton.

Di waktu luang kalau saya malas keluar rumah, saya lebih suka menghabiskan waktu nonton drama atau baca Webtoon/buku, huehehe. Saat ini saya lebih suka baca buku misteri berbahasa Inggris.  Kadang kalau lagi niat ngeblog, saya suka cari bahan dulu dengan baca-baca atau browsing dulu agar bisa memberikan informasi seakurat mungkin. Aktivitas seperti itu juga bisa menambah pengetahuan!

Jalan Jalan 

Ketika mendengar kata “berpelesir”, biasanya kita akan langsung mengaitkannya dengan jalan-jalan Instagramable, entah itu dalam negeri atau luar negeri.  Padahal, jalan-jalan itu bisa dilakukan secara sederhana.

Saat weekend, kalau tidak sedang pulang ke Bandung, saya suka jalan-jalan ke mall sendirian.  Kalau menurut data yang pernah saya baca, ada 178 mall di Jakarta, termasuk kota kedua dengan mall terbanyak di seluruh dunia! Jadi kalau misalkan saya jalan-jalan ke 1 mall setiap minggu, maka ada 178 akhir pekan untuk mencoba berbagai mall di Jakarta.

Iseng sih, huehehe.

Walaupun mall isinya mungkin begitu-begitu saja, saya tetap suka berjalan mengitarinya mulai dari lantai satu hingga lantai teratas. Faedahnya apa dengan jalan-jalan?  Enggak ada sih, selain window shopping dan olahraga ringan. Mungkin bagi orang lain ini kegiatan yang “gak ada gawe banget sih” tapi ini bisa jadi sesuatu yang menyenangkan buat saya.

Apalagi karena saya baru beberapa bulan tinggal di Jakarta, saya masih belum hapal benar dengan jalan di sini.  Saya suka naik busway ke mana-mana, jadi ketika berpetualang ke mall-mall, saya suka memerhatikan jalur bis mana yang sebaiknya saya ambil.  Sepanjang jalan, saya mencoba untuk menghapalkan ciri-ciri suatu daerah.  Jadi misal nih, kalau ada keperluan tertentu atau misalkan tersesat, saya bisa menjadikan ciri-ciri itu sebagai patokan.

Menyendiri

Saya tahu ini terdengar aneh sih, tapi, untuk introvert, saya yakin menyendiri termasuk salah satu hal yang dilakukan di waktu luang.  Ya kan, ya kan?

Untuk bisa berinteraksi dengan sekitarnya, introvert butuh energi yang cukup besar. Jadi kalau kita ibaratkan sebagai baterai, maka baterai itu akan berkurang seiring berjalannya waktu.  Nah, kalau sudah seperti itu, introvert butuh waktu untuk melakukan recharge agar nanti baterai hidupnya kembali penuh. Paling gampang adalah mengibaratkan baterai introvert seperti baterai smartphone.

Nah, biasanya ngapain sih pada saat menyendiri?  Semua kegiatan di atas yang sudah saya sebutkan termasuk hal-hal yang biasa dilakukan introvert.  Dan karena saya introvert, me-time saya tentunya adalah melakukan segala sesuatunya sendiri. Terdengar aneh memang, tapi rasanya bakal plong banget kalau saya sudah mengisi baterai sampai full, karena setelah memanfaatkan waktu luang sendirian, saya merasa siap kembali melanjutkan rutinitas!

Nah, kalau me time favorit kamu apa?  Bisa share di bawah sini, ya!

Blogpost ini merupakan hasil kolaborasi bersama Beautygoers

 

 Beautygoers
Share:

Azzahra R Kamila

Her blog has a concern for cruelty free and halal products. Her skepticism makes her doing research about science behind beauty, as she wants to educate readers to carefully choose cosmetics ingredients before buying. In addition to beauty, she also likes to discuss slice of life as well as book reviews.

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *